Home Sejarah Masyumi Daerah Palembang, Jatuh Bangun Ditengah Pergolakan Revolusi (Bagian Ketiga)

Masyumi Daerah Palembang, Jatuh Bangun Ditengah Pergolakan Revolusi (Bagian Ketiga)

0
Poster pengurus Masyumi tempo dulu. (Sumber Poto: https://republika.co.id/berita/phtia8385/7-november-1945-islam-politik-dan-lahirnya-partai-masyumi)
Dudy Oskandar

Oleh Dudy Oskandar
(Jurnalis dan Peminat Sejarah Sumatera Selatan)

“KITA sekarang bukan hidup pada 25 tahun lalu. Kita sudah bosan, kita sudah payah bermusuh-musuhan. Sedih kita rasakan kalau perbuatan itu timbul daripada ulama, padahal ulama itu semestinya lebih halus budinya, berhati-hati lakunya. Karena ulama itu sudah ditentukan menurut firman Allah: Ulama itu lebih takut kepada Allah. Karena ulama tentunya lebih paham dan lebih mengerti kepada dosa dan bahayanya bermusuh-musuhan”

(KH Mas Mansur, ulama sekaligus mantan ketua Muhammadiyah kala itu, terbayar sudah. Ini karena umat Islam akhirnya menempuh jalan berliku untuk bersatu, setelah sekian lama saling berseteru. Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) menjadi satu jalan sejarah baru kala itu bagi umat Islam di Indonesia dimaka kelak bertransformasi menjadi Masyumi).

Setelah tersusun pimpinannya dalam konperensi itu, mulai pertama tindakannya ialah mengakui orang Masyumi yang duduk dalam DPR Keresidenan Palembang sebagai wakil partai.

Pada saat kesulitan tengah memuncak saat itu, tak bagi pertumbuhan partai ini, Masjumi sampai beberapa bulan lamanya tidak dapat bergerak dalam arti kata yang sebenarnya. Meskipun begitu juga diusahakan atas kehendak bersama, suatu gabungan perjuangan yang diberi nama (G)abungan (P)erjuangan (P)artai (I)slam, dengan Masyumi, P.S.I.I. dan GPII, sebagai anggota.

Pada tahun itu juga (1948) D.P.R. Keresidenan Palembang akan diaktipkan kembali. Tetapi sulit, karena anggota tidak mencukupi quorum.

Banyak diantara anggotanya masih berada didaerah pendudukan. Oleh karenanya atas inisiatif Badan Pekerjanya, diadakan peraturan sisipan anggota. Dengan Peraturan itu diharapkan adanya kemungkinan untuk mengadakan sidang. Peraturan sisipan ini tentunya menimbulkan suatu aksi. Aksi pemilihan. Dan Pemilihan anggota sisipan ini harus diikuti oleh seluruh partai. Keadaan dan suasana inilah membuka aktivitas Masyumi lagi untuk tergerak. Akan tetapi oleh karena sukarnya mengadakan hubungan dengan cabang didaerah Palembang ini, maka dalam pemilihan anggota sisipan ini Masyumi kalah.

Masyumi hanya meraih 3 kursi saja. Kekalahan ini membangkitkan semangat keluarga Masyumi untuk menyusun kembali organisasi secara teratur.

Begitulah dengan mengatasi berbagai kesukaran yang ada, Masyumi berkembang terus, hingga sampai pada bulan September 1948. Wakil Masyumi Sumatera yang terdiri dari Ki. Hi. Tjikwan dan Datuk Paimokajo datang dari Bukit Tinggi ke Linggau, pada tanggal 9 September .

Dan pada tanggal 11 September itu juga, dilantiklah suatu pimpinan Masyumi Wilayah Sumatera Selatan dengan diberi nama: Komisariat Masyumi Wilayah Sumatera Selatan. Badan ini adalah merupakan wakil dari pimpinan Masyumi Sumatera yang berkedudukan di Bukit Tinggi.

Susunan pengurusnya sebagai berikut:
Ketua Umum : Ki. Hi. Masjhur Azhary.
Wakil Ketua : M. Djadil Abdullah.
Penulis : K.M. Zen Mukti.
Dibantu A.Rahman Djalili, Usman Hamid, R.Humam dan lain-lain langkah pertama dengan memberikan pengumuman meminta perhatian adanya Komisariat yang baru itu.

Kemudian menghubungi daerah Bengkulu, Lampung, Palembang. Semua pimpinan daerah mengakui Komisariat tersebut sebagai pusat pimpinannya di Sumatera Selatan. Hanya Bangka Belitung berhubung tidak mungkin dihubungi, tidak didapat keterangan apa tentang Masyumi

Berbareng dengan pembentukan Komisariat diatas, pada pertengahan September (12 September 1948) dilapangan “Merdeka” Lubuklinggau dilakukan orang upacara penggabungan Hizbullah dalam TNI, sebagai memenuhi Dekrit Presiden tentang penggabungan Kelaskaran kedalam TNI.

Aktivitas Masyumi mulai kelihatan, setelah adanya Pemberontakan PKI di Madiun. Dan juga pada waktu menghadapi sidang pleno DPRDS di Curup tanggal 20-23 Oktober 1948.

Kesempatan berkumpulnya anggota DPRDS. dari Masyumi di Curup yang datangnya dari Lampung, Palembang dan Bengkulu diambil oleh Komisariat sebagai peluang mengadakan perhubungan organisatoris yang dikala itu atas kemauan yang sangat baik, menyerahkan pimpinan perjuangan anggota Masyumi dalam DPRDS itu kepada Komisariat yang ada itu.

Demikianlah adanya sampai pada bahagian akhir bulan Desember 1948, saat Belanda mengadakan aksi Militernya yang kedua (Agresi militer Kedua). Mulai saat itu organisasi Masyumi kembali berantakan. Masing pimpinannya tidak tahu beradanya.

Pada bulan Oktober itu pula, seharusnya Komisariat dipindahkan ke Curup. Akan tetapi berhubung seluruh anggota pimpinannya tidak dapat pindah ketempat dingin itu, maka di Curup disusun suatu perwakilan Komisariat. Abdullah Nawawi yang baru saja datang dari Jawa awal tahun 1950 mendapat mandat membangunkan Masyumi Sumatera Selatan.

Berdasarkan mandat inipula di Kota Palembang (masih wilayah Republik Indonesia Serikat) dibentuk pimpinan sementara Masyumi Sumatera Selatan, dengan Ki. Hi. Ahmad Azhary, Abdullah Nawawi, Amin Fauzi, K.M. Zen Mukti, Husin Mu’in sebagai pengurusnya.

Badan ini berkewajiban hanyalah untuk membangunkan organisasi Masyumi kembali, dalam daerah dan batas yang dapat dicapainya dalam daerah pendudukan Belanda.

Sedangkan pimpinan Perwakilan Masyumi Sumatera Selatan didaerah Republik yang berpusat di Kota Curup, mengusahakan hubungan organisatoris keseluruh daerah Republik yang dapat dicapainya pada waktu itu. ***

Sumber :
1. https://historia.id/politik/articles/lakon-masyumi-zaman-revolusi
2. https://tirto.id/masyumi-dan-ilusi-persatuan-umat-islam
3. /lahirnya-masyumi-mozaik-tirto-
4. Republik Indonesia, Propinsi Sumatera Selatan, Kementrian Penerangan, Siliwangi-Jakarta, Agustus 1954
5. https://republika.co.id/berita/phtia8385/7-november-1945-islam-politik-dan-lahirnya-partai-masyumi

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here