Home Sejarah Masyumi Daerah Palembang, Jatuh Bangun Ditengah Pergolakan Revolusi (Bagian Pertama)

Masyumi Daerah Palembang, Jatuh Bangun Ditengah Pergolakan Revolusi (Bagian Pertama)

0
Syahrul Hidayat dan Kevin W. Fogg, “Profil Anggota: K.H. Abubakar Bastari,” Konstituante.Net (1 Januari 2018), diakses pada 13 September 2020, ‹http://www.konstituante.net/id/profile/MASJUMI_abubakar_bastari›

Oleh Dudy Oskandar (Jurnalis dan Peminat Sejarah Sumatera Selatan)

MEWADAHI sejumlah partai politik dan organisasi Islam Besar tapi kurang terorganisasi, Sjafruddin Prawiranegara menyamakan Masyumi seperti “seekor gajah yang mengidap beri-beri”. Masyumi lahir dengan semangat mengintegrasikan semua kelompok Islam — sesuatu yang sangat sulit direalisasikan dan berujung perpecahan didalam dan merembet ke daerah termasuk Palembang.

Setelah serangkaian diskusi mengenai masa depan politik Islam, timbul gagasan untuk mendirikan organisasi politik. Pada Oktober 1945, sebuah komite dikepalai Natsir dibentuk untuk merealisasikan rencana tersebut. Tak lama, Wakil Presiden Mohammad Hatta mengeluarkan Maklumat No X tentang anjuran membentuk partai-partai politik.

Natsir bergerak cepat. Pada 7-8 November 1945, di Gedung Madrasah Mu’alimin Muhammadiyah Yogyakarta, dihelatlah Kongres Umat Islam yang dihadiri para pemimpin muslim dan perwakilan organisasi muslim. Kongres memutuskan pembentukan satu-satunya partai politik yang menyalurkan aspirasi politik umat Islam.

Peserta kongres memilih nama Masyumi, tapi bukan merujuk pada Majelis Syuro Muslimin Indonesia di masa Jepang, ketimbang nama lain yang diusulkan, Partai Rakyat Islam. Sukiman Wirjosandjojo, ketua kongres, terpilih sebagai ketua umum. Sebagaimana disebutkan dalam Anggaran Dasar, Masyumi memiliki tujuan: terlaksananya ajaran dan hukum Islam dalam kehidupan orang-seorang, masyarakat, dan negara Republik Indonesia, menuju keridhaan Illahi.

Beberapa organisasi yang di masa Jepang berafiliasi dengan Masyumi menjadi anggotanya. Organisasi Islam lainnya kemudian ikut bergabung. Selain organisasi, Masyumi menerima anggota perorangan. Dualisme keanggotaan ini didasarkan pertimbangan untuk memperbanyak anggota dan “agar Masyumi dapat dilihat sebagai wakil umat, tanpa ada yang merasa tidak diwakili,” tulis Deliar Noer dalam Partai Islam di Pentas Nasional.

Dengan sistem keanggotaan semacam itu, banyak yang memprediksikan bahwa Masyumi akan memenangi pemilihan umum. Namun, sistem ini juga punya kelemahan. Sistem ini, menurut George McT Kahin dalam Nasionalisme dan Revolusi di Indonesia, menjadikan Masyumi “partai politik terbesar di Indonesia tapi kurang terorganisasi” atau dalam istilah Sjafruddin Prawiranegara, ketua terkemukanya “seekor gajah yang mengidap beri-beri”.

Di Palembang, Barisan Umat Islam (BOI) Palembang mengadakan konperensinya pada saat terakhir dari Desember 1945 yang kebetulan dihadiri oleh utusan dari berbagai daerah yang sebenarnya bermaksud untuk menghadiri Kongres Rakyat daerah Palembang yang diadakan pada tatkala itu.

Konperensi B.O.I. tersebut memutuskan melebur B.O.I. dengan segala inventarisnya menjadi Masyumi, sebagai sambungan dari Masyumi yang berpusat di Yogjakarta dikala itu. Konperensi itu juga menyusun pimpinan Masyumi Daerah pertama dengan pengurusnya sebagai berikut:
Ketua : Ki. Hi. Ahmad Azhary.
Wakil Ketua : A.S. Mattjik.
Penulis : A. Nadjamuddin Hd.
Pembantu-pembantunya terdiri dari: Hamzah Kuntjit, Hi. Anang, Hi. Masjhur Azhary, Hi. Tjikwan dan lain tenaga lagi.

Pimpinan Masyumi daerah Palembang ini disebut: (D)ewan (P)impinan (P)artai (D)aerah. Menghadapi Kongres Rakyat Daerah Palembang, Masyumi memutuskan tidak ikut dalam kongres dan tidak mengakui adanya wakil Masyumi yang duduk dalam Dewan Perwakilan Rakyat Palembang, yang dihasilkan oleh Kongres.

Alasan antara lain dikemukakan, bahwa dasar yang diambil Pemerintah tatkala itu yang bermaksud membentuk Dewan Perwakilan dari kongres itu, dianggap tidak demokratis. Dan Masyumi menuntut suatu cara lain dalam penyusunan keanggotaan dalam Dewan itu. Sekeluarnya A. Rahman Djalili dari penjara Jepang, maka kepadanya diberi tugas untuk mengelilingi Sumatera Selatan termasuk Jambi, untuk mempropagandakan Masyumi dan melebur BOI kedalamnya. ***

Sumber :
1. https://historia.id/politik/articles/lakon-masyumi-zaman-revolusi
2. https://tirto.id/masyumi-dan-ilusi-persatuan-umat-islam
3. /lahirnya-masyumi-mozaik-tirto-
4. Republik Indonesia, Propinsi Sumatera Selatan, Kementrian Penerangan, Siliwangi-Jakarta, Agustus 1954

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here