Home Sejarah Masyumi Daerah Palembang, Jatuh Bangun Ditengah Pergolakan Revolusi (Bagian Terakhir)

Masyumi Daerah Palembang, Jatuh Bangun Ditengah Pergolakan Revolusi (Bagian Terakhir)

0
Tokoh Masyumi Palembang, Ki.Kms.H.M.Zen Mukti yang pernah menjabat sebagai seksi pekerjaan umum wakil dari Partai Masyumi di Palembang.

Oleh Dudy Oskandar
(Jurnalis dan Peminat Sejarah Sumatera Selatan)

DI masa Demokrasi Terpimpin, Natsir membawa Masyumi ke arah yang lebih konfrontatif. Hubungan Masyumi dengan Sukarno kian renggang. Masyumi tak setuju dengan tindakan Sukarno mencampuri urusan pemerintahan, bukan hanya sebagai kepala negara. Di sisi lain, partai komunis kian kuat, yang tawaran kerjasama apapun darinya akan ditolak Masyumi.

Puncaknya, merasa terancam akibat tudingan keterlibatan Masyumi dalam percobaan pembunuhan yang gagal atas diri presiden di Perguruan Cikini, Natsir dan beberapa pemimpin Masyumi memilih bergabung dengan para perwira di Sumatra yang menentang pemerintah pusat.

Jalan ke jurang kehancuran partai membentang. Wacana pelarangan Masyumi sayup-sayup terdengar. Untuk mengantisipasi segala kemungkinan, Masyumi memutuskan melepaskan anggota-anggota istimewa dari ikatan partai.

Dalam situasi seperti ini, pertarungan kedua faksi masih berlangsung. Sebagian tokoh, dengan dukungan Sukiman dan Jusuf Wibisono, mendesak pemecatan Natsir. Namun pengaruh Natsir masih kuat.

Keputusan kompromi diambil: Natsir tidak didukung secara resmi, namun tidak pula dituding bersalah. Dia tetap memangku ketua umum Masyumi, tetapi pembantu terdekatnya, Prawoto Mangkusasmito, ditunjuk sebagai ketua ad interim.

Muktamar di Yogyakarta pada April 1959 menjadi peluang kelompok Sukiman untuk menentukan arah partai. Namun dalam pemilihan ketua umum, Prawoto yang berpendirian tegas terhadap Sukarno dan memandang Natsir sebagai kakaknya terpilih. Sukiman kembali kalah.

Di tangan Prawoto, eksistensi partai dipertaruhkan. Namun dia tak mampu menghalangi langkah Sukarno untuk membubarkan Masyumi.” Masyumi, partai berlambang bulan-bintang, akhirnya hilang dari peredaran.

Demikianlah partai ini berjalan, sampai tahun 1950, dengan double organisasi pimpinan wilayah. Konperensi pertama setelah pemulihan kedaulatan, dilakukan pada tanggal 17 Maret 1950 di Kota Palembang, memecahkan soal organisasi dan pembangunan kembali partai.

Konferensi ini dikunjungi oleh Gafar Ismail dari pucuk pimpinan Masyumi di Jakarta.

Dapat pula diterangkan, bahwa pada tahun 1950 itu pula terjadi penggabungan Nurul Islam Belitung ke dalam Masyumi seutuhnya (sampai seluruh inventarisnya). Nurul Islam adalah satu-satunya organisasi sosial yang berpengaruh di Belitung yang pada saat itu beranggotan lebih kurang 5000 orang, laki-perempuan.

Usaha yang pertama dilakukan pada saat itu, ialah memulihkan kembali organisasi yang sudah berantakan, dengan mendorong tiap-tiap cabang mengadakan konperensi cabangnya.

Pada saat itu pula dimulai menyusun organisasi dalam bentuknya yang baru, yaitu meletakkan cabang di Kabupaten, sesuai dengan tingkatan susunan Pemerintahan.

Anak cabang ditiap Kecamatan, dan Ranting ditiap desa-dusun-kampung dan haminte (di Bangka).

Konferensi wilayah yang kedua, dilangsungkan pada tanggal 24-29 Mei 1951, di Kampung 32 Ilir Palembang.

Konferensi ini dihadiri oleh pucuk pimpinan dari Jakarta terdiri dari M. Natsir, Mr. Sjafruddin Prawiranegara, Mr. Kasman Singodimedjo, beserta pimpinan Muslimat pusat.

Konferensi dikunjungi oleh sebagian besar cabang. Diantara 17 cabangnya, hadir tatkala itu 14 cabang. Konferensi telah berhasil menggariskan pokok pedoman yang akan diperjuangkan oleh Masyumi menghadapi politik daerah.

Demikian pula menyusun rencana organisasi kedalam. Tatkala itu pula diambil putusan untuk mendirikan sebuah gedung partai, dengan bergotong-royong diantara seluruh anggota.

Bersamaan dengan konferensi Masyumi, juga berkonperensi Muslimat yang sudah sejak berapa waktu membangunkan kembali organisasinya.

Juga dilakukan konferensi Serikat Tani Islam Indonesia Wilayah Sumatera Selatan. Pimpinan wilayah terpilih Da’ud Badarudin dan Djadil Abdullah, dibantu oleh sebuah Sekretariat dengan bagian-bagiannya.

Mulai pada pertengahan tahun 1951 sampai 1952 keadaan organisasi partai ini tidak sesehat seperti biasanya dalam tahun 1950-1951.

Hal ini disebabkan gangguan jalan penghidupan akibat merosotnya harga karet. Meskipun begitu, dalam rangka perjuangan mendapatkan ke-anggotaan dalam Dewan Kabupaten berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 39/1950, yang terkenal, Partai Masyumi ternyata mencapai kemenangan yang nyata.

Dewan Kabupaten dalam Keresidenan Lampung yang dibentuk pada tahun 1951, sebagian besar keanggotaannya diisi oleh Masyumi dan organisasi penyokongnya.

Hanya dalam Dewan Kabupaten Bangka, ternyata Masyumi dapat dikalahkan oleh PNI.

Mengenai perjuangan menghadapi pemilihan Dewan Marga dan Pamong Marga, berdasarkan Peraturan Gubernur No.53 dan 54 yang terkenal itu, ternyata Masyumi dan organisasi penyokongnya mendapat hasil yang terbesar pula.

Sebagai juga partai lain, Masyumi pun mengadakan pendidikan kader yang diadakan ditiap-tiap cabang. Dari Sekretariat Partai ini kita tidak mendapatkan angka yang jelas berapa banyak jumlah seluruh anggota-anggotanya diwilayah ini.

Tetapi dapat ditaksir mungkin ratusan ribu banjaknya. Terbukti dengan meratanya cabang diseluruh Kabupaten, anak cabang diseluruh Kecamatan (ada juga yang di Marga) dan ranting di dusun-/haminte dan kampung.

Jumlah cabang-cabangnya adalah 16 buah; cabang kota Palembang, cabang Kabupaten Kayuagung, cabang Kabupaten Muara Enim ,cabang Kabupaten Lahat, cabang Kabupaten Lubuklinggau, cabang Kabupaten Baturaja, cabang Musi Ilir, cabang Banyuasin, cabang Kabupaten Lampung Selatan, cabang Kabupaten Lampung Utara, cabang Kabupaten Lampung Tengah, cabang Kabupaten Bengkulu Utara, cabang Kabupaten Bengkulu Selatan, cabang Kabupaten Rejang Lebong, cabang Bangka, dan cabang Belitung.

Usaha penting bagi partai ini dalam hubungan kepentingannya adalah mendirikan sebuah gedung partai yang terletak dijalan Jenderal Sudirman, Talang Jawa, Kota Palembang.

Gedung tersebut besarnya 15 X 25 meter, terdiri atas tanah wakaf dari beberapa orang hartawan anggotanya. Pendirian gedung ini telah dimulai sejak pengujung tahun 1951. Luas gedung tersebut dapat ditempati oleh ± 1000 orang. ***

Sumber :

1. https://historia.id/politik/articles/lakon-masyumi-zaman-revolusi
2. https://tirto.id/masyumi-dan-ilusi-persatuan-umat-islam
3. /lahirnya-masyumi-mozaik-tirto-
4. Republik Indonesia, Propinsi Sumatera Selatan, Kementrian Penerangan, Siliwangi-Jakarta, Agustus 1954
5. https://republika.co.id/berita/phtia8385/7-november-1945-islam-politik-dan-lahirnya-partai-masyumi

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here