Home Headline News Menyibak Peradaban Kuno di Pantai Timur Sumatera

Menyibak Peradaban Kuno di Pantai Timur Sumatera

0
Paparan Dr. Junus Satrio Atmojo dalam webinar yang diselenggarakan Balai Arkeologi Sumatera Selatan, dengan tema ‘Permukiman di Lahan Basah dan Prospek Penelitiannya’ menggunakan aplikasi Zoom, Jumat (18/9).

PALEMBANG, PE – Kawasan Pantai Timur Sumatera yang berupa rawa, ternyata menyimpan peradaban kuno berusia ribuan tahun, yang sudah ada bahkan sebelum berdirinya Kerajaan Sriwijaya. Evolusi peradaban manusia di kawasan tersebut, direkonstruksi dalam webinar yang diselenggarakan Balai Arkeologi Sumatera Selatan, dengan tema ‘Permukiman di Lahan Basah dan Prospek Penelitiannya’ menggunakan aplikasi Zoom, Jumat (18/9).

Dua narasumber yang dihadirkan, yakni Dr. Junus Satrio Atmojo, M.Hum (peneliti lahan basah dan tenaga ahli cagar budaya nasional) dan Drs. Nurhadi Rangkuti, M.Si (peneliti lahan basah Pantai Timur Sumatera). Sedangkan bertindak sebagai moderator, Drs. Tri Marhaeni Budhisantoso. Acara sendiri dibuka oleh Kepala Balar Sumsel Drs. Budi Wiyana.

Junus Satrio dalam paparannya mengatakan, sepanjang pantai timur Sumatera terbentuk daratan rawa pasang surut. Dengan aliran sungai yang dipengaruhi fluktuasi pasang surut permukaan air laut. Pengaruh ini dirasakan jauh ke pedalaman, antara lain di Kota Palembang dan Jambi, yang puluhan kilometer lokasinya dari laut.

“Daerah rawa tidak banyak di sebelah barat Sumatera. Paling adanya di Aceh. Sementara di timur, rawa bisa ditemukan di sepanjang Selat Malaka dan Laut Cina Selatan. Termasuk Selat Bangka. Kawasan inilah yang disebut lahan basah,” tuturnya mengawali paparan.

Umumnya rawa, ia mengatakan, berupa lahan gambut. Lahan yang lembut ini mudah terbakar saat musim kering. Siapa sangka, di kawasan itulah peneliti banyak menemukan benda-benda purbakala peninggalan peradaban kuno.

“Usia keramik dan gerabah yang kita temukan dari abad 9 hingga awal abad 20. Kawasan ini ternyata dimukimi oleh manusia,” tukasnya.

Ia menyinggung penemuan tiang-tiang rumah berdiameter 30-40 sentimeter di kedalaman tanah 1,5 meter di pinggir sungai, yang diperkirakan berasal dari abad ke-2 atau zaman pra- Sriwijaya di Kecamatan Cengal, Kabupaten Ogan Komering Ilir pada 2019 silam.

“Cengal itu seluruhnya air. Tapi dulunya hutan sebetulnya. Di antara hutan itu mengalir sungai-sungai kecil yang nantinya keluar ke laut atau menyatu dengan sungai besar,” ucapnya.

Banyak temuan benda purbakala di sini seusai terjadi kebakaran lahan. Seperti keramik, manik-manik, dan prasasti timah, yang diketahui berasal dari masa Dinasti Tang akhir. Melihat jumlahnya sangat banyak, kemungkinan Cengal merupakan daerah pelabuhan singgah di masa lalu.

“Jadi sebelum masuk ke pedalaman Sumatera, penduduk zaman dulu berdagang di Cengal,” tukasnya.

Kalau dilihat dari kualitas, menurut dia, barang tersebut, kemungkinan barang pasaran, yang dibuat dalam jumlah banyak. “Tidak terlalu bagus ukirannya dan mudah mengelupas. Tapi sudah bagus untuk dipakai,” imbuhnya.

Terkait banyaknya produk Tiongkok pada masa pra-Sriwijaya, ia mengatakan, karena memang pada saat itu hanya bangsa Tiongkok yang bisa membuat keramik.

“Kalau bagi kita, benda tersebut terlihat biasa saja. Tapi pada masa lalu, barang-barang ini merupakan barang eksklusif. Tidak semua orang bisa memilikinya. Ini barang mahal dan penting, yang dibarter dengan barang-barang yang diproduksi oleh orang-orang Sumatera Selatan,” ucap dia.

Selain keramik, juga ditemukan batu asah. Benda ini terlihat sepele, namun teramat penting bagi warga Cengal, karena tidak ada batu di sana.

“Tidak ada batu di sana. Harus diimpor. Ini adalah barang dagangan juga,” katanya.

Batu banyak ditemukan di kapal karam di Cirebon. Tadinya tidak dianggap penting. Tapi setelah melihat jumlahnya banyak dan bentuk dan ukurannya hampir sama, diyakini itu bukan batu biasa. Melainkan batu yang sengaja dibentuk.

“Untuk apa batu itu? Rupanya itu digunakan untuk mengasah benda-benda logam, khususnya benda tajam,” tukasnya.
Lantas, apa yang dihasilkan penduduk Cengal sehingga bisa mendatangkan benda-benda mahal pada masa itu? “Ini yang perlu kajian lebih lanjut,” ucapnya.

Temuan-temuan yang sama dari usia yang lebih muda ada di Jambi, tepatnya di Desa Trimulyo, yang merupakan daerah transmigrasi.

Sementara Nurhadi memaparkan temuannya di situs Karang Agung, Banyuasin. Benda-benda purbakala yang ditemukan juga kebanyakan barang impor.
“Sejak 2006, saya melakukan penelitian di Karang Agung yang daerahnya basah. Daerah ini diapit sungai Lalan dan sungai Banyuasin, yang bermuara ke pantai timur Sumatera. Pertanyaan sederhananya, mereka ini hidupnya pasti tak lepas dari perahu. Kalau meninggal, paling dilarung di perahu,” tukasnya.

Kenyataanya tidak demikian. Dalam menjalankan penelitian bersama tim Balar Sumsel, mereka melakukan penyisiran sampai ke Sentang, yang berjarak cukup jauh dari Karang Agung. Di sana, tim menemukan kubur tempayan, yakni tempayan dari tanah liat yang berisi jenazah. Setelah digali, ditemukan kerangka manusia dan banyak artefak bekal kubur.

“Dari situ diketahui, warga yang meninggal, dimakamkan di tanah kering. Walaupun jaraknya cukup jauh dari pemukiman mereka,” ujarnya.

Survei berlanjut di Karang Agung Tengah pada 2010. Di sana, warga menemukan kubur tempayan berisi jenazah manusia. Ternyata, tradisi kubur tempayan juga ada di daerah rawa, tidak hanya di dataran kering. “Ini berarti masyarakat zaman dahulu dimakamkan tidak jauh dari lingkungan huniannya,” katanya. CIT

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here