Home Palembang Pandemi Covid, Angka Perceraian di Sumsel Meningkat

Pandemi Covid, Angka Perceraian di Sumsel Meningkat

0
Dialog interkatif Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI) Sumsel, bertema Perlindungan perempuan terhadap kekerasan dalam rumah tangga di masa Pandemi Covid-19.

PALEMBANG, PE – Women Crisis Cantre (WCC) Palembang menyoroti persoalan meningkatkannya tingkat perceraian di Sumsel, di masa pandemi Covid-19.

Menurut Direktur Eksekutif WCC Palembang, Yeni Roslaini Izi pada masa pandemi Covid-19 terjadi peningkatan angka perceraian di sejumlah kabupaten/kota di Sumsel.

“Angka pastinya saya tidak begitu hafal. Tapi angka perceraian mengalami kenaikan tiga kali lipat dibanding hari biasa sebelum pandemi Covid-19. Misalnya di WCC Palembang sendiri biasanya dalam satu bulan hanya 2-3 kasus yang minta pendampingan, tetapi di masa pandemi ini satu bulan itu sampai 7 kasus yang minta pendampingan kami,” ujar Yeni usai menjadi pemateri pada acara Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI) Sumsel bertema Perlindungan perempuan terhadap kekerasan dalam rumah tangga di masa Pandemi Covid-19.

Menurutnya, berbagai faktor pemicu terjadinya peningkatan angka perceraian di masa pandemi Covid 19 ini, seperti terlalu lama berdiam dirumah. Karena sebagian orang tak jarang mengibaratkan rumah adalah neraka, tetapi ada juga yang mengibaratkan rumah sebagai surga. “Nah, bagi mereka yang menganggap rumah adalah neraka, berdiam diri dirumah menjadikan diri tidak betah,’’ ujarnya.

Dilanjutkan Yeni, sebagian orang yang tidak terbiasa di rumah justru membuat diri menjadi stres. Apalagi, pemerintah mengimbau masyarakat untuk tetap di rumah.

“Kadang komunikasi di rumah tidak baik, timbul pertikaian, ini juga menjadi pemicu terjadinya perceraian,” tuturnya.

Selain itu, faktor ekonomi juga menjadi faktor utama terjadinya perceraian. Selama pandemi ada yang mengalami penghasilan berkurang, juga terjadi PHK, ini juga menjadi pemicu tingginya angka perceraian.

Hal lain yang memicu terjadinya perceraian di masa pandemi ini, lanjut Yeni, yaitu sekolah di rumah. Dimana seorang ibu yang sudah banyak mengerjakan hal dalam urusan rumah tangga dan tak jarang ada yang berkerja, harus menambah ekstra kegiatan dengan mengajarkan anak sekolah dari rumah.

“Kebiasaan “ngemall” yang selama ini bisa dilakukan kapanpun, sementara dimasa pandemi ini harus menahan diri untuk tidak berjalan ke mall juga menjadi pemicu terjadinya perceraian. Belajar dari rumah itu membuat ibu kelelahan, kan jarang ada ayah yang mendampingi anaknya untuk belajar dari rumah. Belum lagi tidak bisa ngemall. Ini membuat kelelahan akhirnya, ai sudahlah, akhirnya bercerai,” ujarnya.

Untuk menghindari terjadinya perceraian, kata Yeni, suami istri harus pandai menjalin komunikasi yang baik dan berusaha menciptakan suasana yang menyenangkan jangan sampai stres.

“Ciptakan suasana yang tidak cepat bosan, ciptakan suasana gembira,” imbuhnya.

Sementara itu Ketua DPD KPPI Sumsel, RA Anita Noeringhati SH, merasa prihatin dengan tingginya angka perceraian di masa pandemi Covid-19 ini.

“Dalam penjelasan tadi, faktor ekonomi menjadi faktor pemicu terjadinya perceraian. Nah, melalui diskusi ini kita berupaya mencegah terjadinya perceraian dan tindak kekerasan dalam rumah tangga yang sering dialami wanita,” tukasnya. JAN/ RIL

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here