Home Sejarah Partai Sosialis Sumatera Selatan, Satu Partai, Dua Watak (Bagian Terakhir)

Partai Sosialis Sumatera Selatan, Satu Partai, Dua Watak (Bagian Terakhir)

0
Syahrir dan lambang Partai Sosialis Indonesia (Sumber poto: https://www.wikiwand.com/id/Partai_Sosialis_Indonesia)
Dudy Oskandar.

Oleh Dudy Oskandar (Jurnalis dan Peminat Sejarah Sumatera Selatan)

“PARTAI kaum sosialis ini bubar di pengujung zaman revolusi. Amir dan Sjahrir memilih jalannya masing-masing. Kendati partainya sudah bubar sejak 1960, sampai hari ini Partai Sosialis Indonesia (PSI) selalu jadi buah bibir perbincangan politik di Indonesia”

Perpecahan Partai Sosialis memiliki arti mendalam. Amir Sjarifuddin merupakan gas, sementara Sjahrir merupakan rem. Partai Sosialis Indonesia (PSI) berjalan tanpa rem menjadi semakin radikal.
Sementara itu, PSI yang kurang memiliki gas dalam perjuangan politik akhirnya mandek serta kehilangan vitalitas dan keberanian dalam merintis pemikiran-pemikiran politik baru. Tujuh tahun setelah berdirinya, PSI memfosil dan dikalahkan dalam pemilihan umum di tahun 1955.

Di Sumatera Selatan, Partai Sosialis tidak menunjukkan aktivitasnya dan akhirnya dilebur kedalam Partai Komunis Indonesia (PKI). Setelah sebelumnya terjadi perpecahan dikalangan Partai Sosialis, apalagi setelah adanya penggabungan organisasinya kedalam PKI. keadaan para pemuka dan pemimpinnya didaerah ini terpecah dua. Diantaranya terus bergabung kedalam PKI, sedang yang lainnya menggabungkan diri dengan Partai Sosialis Indonesia, pimpinan Sjahrir.

Itulah bermula berdirinya Partai Sosialis Indonesia di Sumatera Selatan dibawah pimpinan antara lain Basri, A.S, Sumadi, Mansur Junus, dan lain-lain. Pada waktu itu kebanyakan anggotanya terdiri dari bekas anggota Partai Sosialis. Di Kota Palembang sendiri dan juga didaerah pedalaman sudah berdiri cabang partai. Akan tetapi partai belum dapat bergerak secara leluasa dan legal oleh karena masih banyak sekali menemui kesulitan, terlebih lagi didaerah pendudukan Belanda, dimana keadaan politik belum dapat memungkinkan sama sekali untuk bergerak.

Oleh karena itu maka cabang dan ranting partai pada waktu itu belum dapat dikoordinir seperlunya, disebabkan pula karena sulitnya perhubungan, dan karena adanya garis demarkasi diwaktu itu.
Kemudian beberapa bulan sebelumnya persetujuan Konprensi Meja Bundar (KMB). Setelah adanya keleluasaan untuk bergerak, aktivitas partai makin hari makin lebih nyata.

Para terkemuka partai waktu itu antaranya Basri, A.S. Sumadi Samidin, M. Saad, A. Rahman Talib, R.A. Hakky, H. Samsudin, Amir Husin, Maradin Bijk, Mansur Junus, Kgs. Anwar. Aktivitas partai diutamakan dalam soal penyusunan organisasi dan konsolidasi kedalam, antaranya dengan jalan mengadakan kursus kader partai untuk mendidik para anggota baikpun oleh cabang sendiri maupun oleh daerah.

Juga kursus-kursus dan diskusi mengenai keadaan politik, organisasi, garis perjuangan partai dan lain-lain termasuk diranting. Kemudian lambat laun aktivitas ditujukan berangsur-angsur keluar. Pada waktu ini ditiap Kabupaten diseluruh Sumatera Selatan sudah ada cabang partai, atau persiapan cabang.
Usaha partai antaranya ialah duduk dalam Panitia 17 Agustus pada tiap-tiap tahun.
Didaerah pedalaman partai turut membantu dalam panitia Pemilihan Pamong Marga/Negeri dan Dewan Marga/Negeri.
Anggota partai yang duduk dalam Dewan Perwakilan Rakyat Sementara Propinsi Sumatera Selatan adalah: Basri dan A. Arivin. ***

Sumber :
1. https://historia.id/politik/articles/satu-partai-dua-watak
2. https://tirto.id/sejarah-partai-sosialis-indonesia-galau-dalam-kenaifan-politik
3. Republik Indonesia, Propinsi Sumatera Selatan, Kementrian Penerangan, Siliwangi-Jakarta, Agustus 1954
4. https://historia.id/politik/articles/bubarnya-kongsi-sosialis

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here