Home Headline News Pejuang Budaya Melayu Itu Telah Tiada

Pejuang Budaya Melayu Itu Telah Tiada

0
Dato DR H Kms Muhdi Abubakar, SE, MM,

PALEMBANG, PE – Sumatera Selatan kehilangan putra terbaiknya, yang konsen dalam memperjuangkan kemajuan budaya dan adat istiadat Melayu. Ketua Majelis Adat Budaya Melayu Indonesia (Mabmi) Sumsel Dato DR H Kms Muhdi Abubakar, SE, MM, meninggal dunia di usia 54 tahun, Rabu (9/9).

“Beliau meninggal di RSMH Palembang sekitar pukul 14.10 tadi. Dirawat di rumah sakit sejak Jumat malam. Penyakitnya tidak tahu. Mungkin sakit bawaan,” kata Sekretaris Dewan Pengurus Wilayah Mabmi Sumsel Dailami dihubungi telepon selulernya.

Dikatakan, terakhir kali ia berkomunikasi dengan almarhum sekitar lima hari lalu lewat telepon. Saat itu, dirinya meminta kesediaan beliau untuk jadi panitia acara pernikahan anak bungsunya.

“Empat hari sebelum acara munggah, dia telepon saya. Menyatakan siap hadir. Tapi dia mau pamit ke Bandung dulu bawa kendaraan semdiri dengan rombongan,” ucapnya.

Sepulang dari Bandung, dirinya mendapat kabar bahwa Muhdi dirawat di RSMH, lantaran menderita sesak napas. Sampai kemudian terkabar beliau sudah tiada.

“Memang ada dia riwayat penyakit sesak napas. Mungkin factor umur. Atau juga kecapekan setelah bepergian jauh. Mudah-mudahan husnul khotimah,” ucapnya.

Menurut dia, Muhdi adalah sosok yang sangat konsen dalam memajukan budaya Melayu di Sumsel. Namun sayang, sampai akhir hayatnya, banyak cita-cita almarhum yang belum kesampaian.

“Di antaranya menginventarisir adat istiadat Melayu yang sudah nyaris hilang. Mulai dari adat menghidangkan makanan bagi anak-anak muda. Rencanya mau diberikan pelatihan terkait hal ini,” tuturnya.

Lalu, ia melanjutkan, almarhum juga bertekad melestarikan beberapa tarian Melayu, yang hampir punah tergusur akibat perkembangan zaman.

“Itu belum terwujud. Baru satu dan dua kali latihan tari, tapi keburu beliau dipanggil Yang Maha Kuasa,” tukasnya.

Dewan Penasihat DPW Mabmi Sumsel, Dato’ Seri Dr (HC) Ramli Sutanegara, MBA mengatakan, warga Palembang kehilangan putra terbaik. Sosok yang peduli terhadap budaya dan adat istiadat Melayu.

“Saya sangat berduka dengan kepergian beliau. Almarhum merupakan sosok yang berpendidikan tinggi, sudah S3. Pengalaman bisnisnya bagus. Jelas orang Palembang merasa kehilangan,” ujarnya.

Ia berdoa semoga arwah beliau diterima di sisi Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan supaya tabah.

“Semoga sahabat-sahabatnya bisa meneruskan cita-cita perjuangan beliau dalam memajukan adat dan budaya Melayu, yang memang sedang kita galakkan sekarang,” ujarnya.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Sumsel Aufa Syahrizal Sarkomi mengaku Sumsel kehilangan putra terbaik, yang sangat peduli terhadap kebudayaan dan adat istiadat Melayu.

“Kalau ada perkembangan adat, beliau selalu berkoordinasi dengan para pemuka adat di Sumsel. Beliau juga sering memberikan masukan kepada pemerintah. Yang jelas, kita merasa kehilangan,” tuturnya.

Senada dikatakan Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Djayo Wikrama Fawaz Diradja, SH, Mkn.

“Kita telah kehilangan orang Palembang yang cinta budaya dan banyak sumbangsihnya buat budaya kita. Kita sangat bersedih berpulangnya salah seorang anak bangsa yang berprestasi,” katanya.

Sementara Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama, Sumsel KH Amiruddin Nahrawi atau akrab dipanggil Cak Amir terkejut saat diberitahu Dato Kms Muhdi Abubakar telah tiada.

“Beliau adalah pengurus NU. Menjabat wakil ketua. Dia adalah orang baik,” katanya.

Menurutnya, Muhdi punya sejumlah rencana untuk PW NU Sumsel. Seperti membuatkan kartu anggota NU se-Sumsel. Lalu, menggagas rencana kerja sama dengan PT Pusri terkait pembelian pupuk. Dia pun menyumbangkan lemari cabinet buat sekretariat PWNU.

“Beliau bekerja sama dengan saya dalam hal keuangannya (beli pupuk). Jadi menurut saya, Pak Muhdi ini orang yang baik. Dia tidak pernah menyakiti orang. Saya selaku Ketua PW NU Sumsel sangat kehilangan sosok terbaik,” ujarnya.

Ia mengaku terakhir dirinya kontak dengan almarhum ketika menggelar rapat dua pekan silam membahas soal kartu anggota NU.

“Kata beliau, kartu itu separuh gratis, separuh bayar. Jadi maksudnya, kiai-kiai digratiskan. Sedangkan anggota lain bayar separuh,” pungkasnya. CIT

 

 

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here