Home Headline News Perahu Alat Transportasi Utama Masyarakat Sumsel Tempo Doeloe

Perahu Alat Transportasi Utama Masyarakat Sumsel Tempo Doeloe

0
Paparan Dedi Irwanto, S.S, MA, Dosen Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Sriwijaya, pada seminar dan webinar hasil kajian koleksi Museum Negeri Sumatera Selatan Balaputra Dewa, yang mengusung tema ‘Sarana Transportasi Tradisional Sumatera Selatan’ di Auditorium Museum Negeri Sumatera Selatan, Kamis (3/9).

PALEMBANG, PE – Jauh sebelum masyarakat di Provinsi Sumatera Selatan mengenal kendaraan darat, seperti motor, mobil, bus, hingga pesawat, alat transportasi air atau laut lebih mendominasi pada zaman dahulu, yakni perahu. Ini lantaran kondisi geografis Sumsel dan bahkan negara-negara di Asia Tenggara, yang berupa daerah kepulauan.

Hal itu diketahui dalam seminar dan webinar hasil kajian koleksi Museum Negeri Sumatera Selatan Balaputra Dewa, yang mengusung tema ‘Sarana Transportasi Tradisional Sumatera Selatan’ di Auditorium Museum Negeri Sumatera Selatan, Kamis (3/9).

Acara ini juga disiarkan secara virtual lewat aplikasi Zoom.
Bertindak sebagai pembicara, Drs Budi Wiyana (Kepala Balai Arkeologi Sumsel), Dedi Irwanto, S.S, MA (Dosen Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Sriwijaya), dan Drs Saudi Berlian, MSi (pengurus Dewan Pembina Adat Sumsel). Adapun bertindak sebagai moderator Dra Yoyoh Juariah, M.Pd.

Acara sendiri dibuka oleh Kepala Museum Negeri Sumatera Selatan Balaputra Dewa H Chandra Amprayadi, SH dan diikuti partisipan dari komunitas pemerhati sejarah, masyararakat sejarawan Indonesia Kota Palembang, komunitas Jeep, dan mahasiswa.

Dedi Irwanto yang mendapat giliran pertama, membawakan paparan berjudul ‘Perkembangan Transportasi Tradisional di Sumsel’. Ia membawa audiens ke zaman Kerajaan Sriwijaya. Di masa itu, perahu yang digunakan berukuran sangat besar, bahkan bisa memuat hingga 20 ribu tentara, seperti yang tertulis di Prasasti Kedukan Bukit berangka tahun 682 Masehi.
“Sebanyak 50 orang saja, kapal itu sudah terbilang besar. Ini bisa memuat hingga 20 ribu orang tentara. Seperti apa besarnya perahu itu,” tukasnya.

Alat transportasi laut juga disinggung di Prasasti Telaga Batu yang berasal dari abad 6-7 Masehi. Disebutkan ada jabatan nahkoda kapal, yang merupakan posisi penting pada saat itu. Serta catatan-catatan dari seorang biksu Tiongkok bernama I-Tsing atau Yi Jing. Serta cerita-cerita dari petualang Portugis.
“Dari temuan arkeologis, seperti temuan perahu kuno di Sungai Buah dan Air Sugihan,” tukasnya.

Dikatakan dia, pada zaman kolonial, umumnya perahu yang digunakan masyarakat berukuran kecil. Dan dalam setiap aspek kehidupan, mereka tidak bisa lepas dari perahu.
“Rata-rata perahu yang digunakan masyarakat berukuran kecil. Perahu besar biasanya milik pesirah (pejabat),” ujarnya.

Hal menarik, ia melanjutkan, meskipun ukurannya besar, orang zaman dahulu tidak pernah menyebutnya kapal, melainkan perahu. Adapun jenis-jenis perahu zaman dahulu yang masih bisa dijumpai hingga kini, yakni pencalang, yang merupakan perahu untuk keperluan berdagang.

“Sejak abad 20, perahu pencalang sudah berlayar sampai Batavia (Jakarta). Jadi walaupun perahu kecil, namun bisa digunakan untuk berlayar mengarungi lautan,” tuturnya.

Sementara Budi Wiyana membawakan paparan berjudul ‘Transportasi Tradisional Sumatera Selatan Dalam Kajian Arkeologi’. Dikatakan, kapal menjadi alat transportasi penting pada zaman dahulu di nusantara. Bisa dilihat pada relief kapal di Candi Borobudur.

Ia mengaku tidak habis pikir mengapa orang zaman dahulu menyebut kapal besar sebagai perahu. Padahal, kapal dan perahu itu berbeda.

“Perahu dibuat dengan sangat sederhana dengan teknologi yang sederhana pula. Sementara kapal lebih modern dan kompleks. Daya muatnya juga berbeda. Perahu berkapasitas muat sedikit, sedangkan kapal banyak,” ucapnya.

Bentuk perahu atau kapal, dikatakan dia, menunjukkan bisa digunakan di mana. Kapal berukuran besar sudah pasti untuk mengarungi lautan. Sementara perahu kecil untuk menjangkau wilayah yang dialiri sungai.

“Sayangnya selama melakukan penelitian, saya belum pernah menemukan kapal dalam bentuk utuh. Paling yang ditemukan hanya satu persen dari keseluruhan alat transportasi,” tukasnya.

Teknik pembuatan kapal ada dua. Salah satunya teknik Asia Tenggara yang berkembang di abad 1-13. Perahu yang dibuat dengan teknologi tradisi Asia Tenggara mempunyai ciri-ciri khas, antara lain lambungnya berbentuk V sehingga bagian lunasnya berlinggi.

Selain itu, haluan dan buritan lazimnya berbentuk simetris, tidak ada sekat-sekat kedap air di bagian lambungnya.
Dalam seluruh proses pembangunannya sama sekali tidak menggunakan paku besi, dan kemudi berganda di bagian kiri dan kanan buritan. “Relief kapal di Candi Borobudur masuk Teknik Asia Tenggara,” ujarnya.

Menurutnya, perahu sudah dikenal masyarakat bahkan sejak ribuan tahun yang lalu. Ini dibuktikan dari gambar perahu, yang ditemukan di sejumlah gua di Sumsel.

Beberapa temuan perahu kuno yang ditemukan arkeolog dari Balar Sumsel berada di sungai, bukan danau. Seperti temuan di Sungai Buah, Kramasan, Sungai Ogan, dan Lahat. “Semuanya berciri khas Asia Tenggara,” ujarnya.

Pembicara terakhir, Saudi Berlian, mengangkat tema ‘Nilai-nilai Sosial dan Budaya Maritim dalam Kehidupan Masyarakat Aquarian. Istilah aquarian digunakannya lantaran sangat dekatnya hubungan masyarakat Sumsel dengan air, dalam hal ini sungai.

 

“Air telah menjadi budaya di masyarakat Sumsel. Masa lalu, air sangatlah penting. Sehingga bisa dikategorikan sebagai masyarakat aquarian,” tukasnya.

Masyarakat aquarian membentuk identitas sendiri atau nama yang terkait dengan air. Contohnya nama kabupaten yang diawali kata Ogan, seperti Ogan Komering Ilir, Ogan Komering Ulu, Ogan Komering Ulu Timur, dan Ogan Komering Ulu Selatan.

“Ogan itu nama sungai. Kalau dilihat logo 17 kabupaten dan kota, hanya beberapa saja yang tidak membuat lukisan air. Palembang, misalnya. Ada lukisan air pada logo Pemkotnya,” ujarnya. CIT

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here