Home Sejarah Perkembangan Tentara Ditengah Gelombang Revolusi Palembang (Bagian Ketiga)

Perkembangan Tentara Ditengah Gelombang Revolusi Palembang (Bagian Ketiga)

0
Seorang pejuang Palembang yang ditangkap pasukan Belanda, dan dibawa masuk dalam Benteng Kuto Besak di Palembang (Sumber foto: https://duizenddagenindie.wordpress.com)
Dudy Oskandar

Oleh Dudy Oskandar
(Jurnalis dan Peminat Sejarah Sumatera Selatan)

INSIDEN dengan tentara Serikat seringkali terjadi sejak saat mendaratnya tentara Sekutu di Kota Palembang. Penyebabnya karena tentara Inggris dan India mengadakan penggeledahan-penggeledahan rumah-rumah penduduk, dengan alasan untuk mencari senjata api ilegal.

Pasukan asing tersebut ternyata di lapangan bukan hanya mencari senjata api saja, melainkan melakukan pula melakukan aksi penjarahan atas harta milik penduduk, seperti mengambil jam tangan, weker, kulkas, dan barang berharga lainnya.

Bahkan penghuni rumah sering diculik pasukan asing ini lalu dibawa ke kamp Talang Semut, dan disana para korban di introgasi dan mendapat berbagai pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab mereka dan diiringi dengan siksaan-siksaan.

Dan setiap kali terjadi insiden, maka berkat kebijaksanaan pemimpin pemerintahan daerah dengan bekerja sama dengan pemimpin BPRI, dan TKR maka perdamaian bisa terjadi konflik sehingga tidak meluas.

Semakin hari tentara Sekutu makin banyak mengalir ke Kota Palembang, yang didalamnya membonceng tentara Belanda yang tergabung dalam Netherland Indies Civil Administration (NICA).

Pada tanggal 13 Maret 1946 serombongan tentara Inggris telah mendarat pula dilapangan terbang Talang Betutu. Semua tentaranya yang berada di Kota Palembang ada berjumlah 2 batalyon, dan berada dibawah pimpinan Brigadier General Hutchinson.

Oleh Hutchinson telah ditetapkan, dengan persetujuan Residen Palembang, akan corridor dari tentara Sekutu dan tempat dimana masih mereka duduki, ialah Charitas, Benteng. Talang Semut dan lapangan terbang Talang Betutu.

Dan kedatangan mereka ini awalnya berjanji tidak akan mengganggu dan memberi kesukaran kepada bangsa Indonesia. Tetapi pasukan asing ini ingkar janji, hal ini dapat dilihat dari pertempuran-pertempuran yang berlangsung, setelah mendaratnya tentara Sekutu di Palembang.

Rupanya, walaupun corridor telah ditetapkan bersama-sama, tetapi pihak tentara Sekutu dan NICA sering melanggar batas daerah penetapan yang telah disepakati.

Mereka sengaja membuat kekacauan dengan menggeledah rumah penduduk, merampas harta kekayaan rakyat, menculik pemuda-pemuda, sehingga suasana makin bertambah panas.

TKR akhirnya telah dilebur kini mendjadi TRI. (Tentara Republik Indonesia) pada tanggal 5 Januari 1946 dan berada dibawah pimpinan Kolonel Hasan Kasim.

Barisan pemuda, laskar rakyat dan barisan perjuangan lainnya masih tetap berdiri dengan mempunyai anggota ± 12.000 orang, dan mereka ini bekerja sama dengan TRI.

Pertempuran selama 3 hari dengan tentara Inggris terjadi di Kota Palembang dengan hebatnya, yang dimulai pada tanggal 29 Maret sampai tanggal 31 Maret.

Pertempuran tersebut tak dapat dihindarkan oleh TRI. Penyebabnya adalah pada tanggal 29 Maret serombongan tentara Inggris keluar dari corridor yang telah ditetapkan, menuju ke 9 Ilir Kota Palembang bagian Timur dan melakukan provokasi-provokasi disana.

Mereka mendobrak penjagaan Polisi Tentera Republik Indonesia (PT), yang memasang barikade dan melepaskan tembakan, pasukan TRI beserta barisan pemuda menyambut tembakan dengan tembakan pula.

Lalu gempur-menggempur terjadi. Tentara Sekutu merasa terkepung dan akhirnya mereka mundur, melarikan mobilnya dengan kencang kembali ke tempatnya.

Saat mundur, tentara Inggris tersebut dengan membabi buta, menembakkan senapan mesin mereka kesegala arah, sehingga 2 orang perempuan tua yang tak bersalah jadi korban, yang saat itu berada dijalan raya. Mereka tewas oleh tembakan tentara Sekutu tersebut.

Keesokan harinya pertempuran dilanjutkan pula. Tentara Inggris telah menembaki Masjid Agung dan kemudian dibuatnya sebagai tempat bertahan, yang menyebabkan marahnya ummat Muslimin di Kota Palembang khususnya dan Provinsi Sumatera Selatan umumnya.

Terhadap perbuatan tentara Inggris ini oleh kaum Muslimin diseluruh Provinsi Sumatera Selatan telah diajukan protes yang keras, dengan dipelopori oleh protes Badan Peribadatan Masdjid Agung Palembang dalam bentuk suatu resolusi-protes yang disahkan ditengah puluhan ribu ummat Islam yang melakukan ibadah Salat Jum’at. ***

Sumber:

1. Republik Indonesia, Propinsi Sumatera Selatan, Kementrian Penerangan, Siliwangi-Jakarta, Agustus 1954
2. Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Sejarah Berita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Restu Gunnawan dan Kawan-Kawan, 2015
3. https://tirto.id/cara-belanda-merespons-proklamasi-1945
4. https://historia.id/militer/articles/desersi-jepang-masa-perang-kemerdekaan

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here