Home Palembang SMB IV Resmi Surati Menhan Prabowo, Minta BKB Direvitalisasi

SMB IV Resmi Surati Menhan Prabowo, Minta BKB Direvitalisasi

0
Sultan Palembang Darussalam, Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Jaya Wikrama R.M.Fauwaz Diradja,S.H.M.Kn

PALEMBANG.PE – Sultan Palembang Darussalam, Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Jaya Wikrama R.M.Fauwaz Diradja,S.H.M.Kn resmi melayangkan surat kepada Menteri Pertahanan (Menhan) Republik Indonesia (RI) H Prabowo Subianto, Rabu (30/9). Dalam surat itu, SMB IV minta agar Benteng Kuto Besak (BKB) dapat direvitalisasi oleh pihak Kemenhan RI.

“Tujuan kami memberikan surat ini adalah untuk merevitalisasi Benteng Kuto Besak (BKB), yang pada saat ini berada di bawah Kementrian Pertahanan (Kemenhan). Dimana Benteng Kuto Besak merupakan aset bersejarah, sehingga patut bila dijadikan suatu defense heritage yang sudah lama didengungkan oleh negara-negara yang berada di kawasan Eropa,” kata SMB IV di Istana Adat Kesultanan Palembang Darussalam di Jalan Sultan Muhammad Mansyur Nomor 776, 32 Ilir Palembang, Rabu (30/9).

Pihaknya tetap berkeinginan Kemenhan RI yang mengelola, dan menginisiasi untuk menjadikan kawasan Benteng Kuto Besak ini sebagai kawasan cagar budaya berupa defense heritage.

“Kami mohon kepada Kementrian Pertahanan supaya kita buat suatu tim kecil untuk merevitalisasi Benteng Kuto Besak, yang terdiri daripada beberapa stekholder yang berkepentingan dalam Benteng Kuto Besak,” katanya.

Selain mengirimkan surat kepada Menhan RI, pria yang juga seorang Notaris dan PPAT ini mengatakan juga mengirimkan surat kepada Menteri Politik Hukum dan HAM RI, Menteri Dalam Negeri, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, dan Menteri Koordinator Staf Kepresidenan.

“Tujuan kami mengharapkan supaya Benteng Kuto Besak ini dijadikan Defense Heritage oleh Kementrian Pertahanan, adalah supaya kita tetap menghargai dan menjunjung tinggi warisan nenek moyang kita yang berjuang demi kemerdekaan Republik Indonesia, “ katanya.

Sedangkan Pengeran Suryo Vebri Irwansyah (Vebri Al Lintani) menambahkan, pengiriman surat tersebut ke sejumlah Kementrian berdasarkan hasil kunjungan dari dua orang tinm dari Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementrian Pertahanan (Kemenhan) Republik Indonesia (RI) ke Kota Palembang selama beberapa hari dalam rangka penelitian terkait dengan benda cagar budaya bernilai pertahanan yang ada di Kota Palembang. Dimana tim tersebut diketuai Gerald Theodorus L.Toruan, S.H.,M.H (Peneliti Ahli Muda Balitbang Kementrian Pertahanan RI) dengan anggota tim, Jeanne Francoise (Penulis Disertasi Defense Heritage dan Founder Defense Heritage Intellectual Community; Instagram @defenseheritage).

“Dan kita mendengarkan info mereka tentang revitalisasi itu. Memang sebelum ada tim ini, sudah lama kita ingin BKB itu difungsikan sebagai manifestasi sejarah Kesultanan Palembang Darussalam, manifestasi dari cagar budaya benda yang luar biasa,” katanya sembari mengatakan, kalau kini BKB menjadi tiga keistimewaan yaitu dibangun oleh orang Pribumi, Fungsinya istana, menjadi fungsi pertahanan dan fungsi rumah sakit.

Apalagi menurutnya, Kesultanan Palembang Darussalam berkepentingan dengan BKB ini.

“Kita susul dengan surat Kemenhan, karena BKB kini dikelola TNI dalam hal ini Kemenhan, maka kita bersurat ke Menhan. Kita tembuskan Menteri Politik Hukum dan HAM RI, Menteri Dalam Negeri, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dan Menteri Koordinator Staf Kepresidenan,” katanya.

Pihaknya meminta pemerintah pusat menginisiasi tim kecil revitalisasi BKB, dimana tugas team ini menuju revitalisasi BKB dari pusat.

“Misalnya tidak berbenturan dengan ketentuan yang berlaku, alangkah bagusnya pengelola BKB tetap Kemenhan, jadi tidak terlalu banyak proses pengalihan itu. Apalagi selama ini Kemenhan tahu selama ini bagaimana BKB itu, yang pasti kita minta BKB bisa dibuka untuk umum dan lebih jauh lagi, sejarah banyak menunjukkan BKB itu didalamnya ada kraton, ada tempat menerima tamu, ada pohon-pohon. Kalau dikelola bisa jadi aset wisata, jadi orang datang ke Palembang, melihat itu, itu baik sekali untuk menjaga identitas kebudayaan dan mengembangkan kepariwisataan berbasis sejarah Kesultanan Palembang Darussalam,” katanya.

Sebelumnya, Ketua Tim dari Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementrian Pertahanan (Kemenhan) Republik Indonesia (RI)
Gerald Theodorus L.Toruan, S.H.,M.H mengatakan, kunjungan mereka ke Palembang dalam rangka penelitian terkait defence heritage. Dimana di Kota Palembang dalam sejarahnya menyimpan dan masih ada cagar budaya pertahanan yang masih eksisting, masih dapat dilihat adalah Benteng Kuto Besak dimana ini adalah merupakan benda yang ditinggalkan dan bisa dikenal di masa Sultan Mahmud Badaruddin II,” katanya didampingi rekannya Jeanne Francoise saat bertemu dengan SMB IV pekan lalu.

Apalagi Benteng Kuto Besak menurutnya, di bangun oleh orang Palembang sendiri. “Kalau kita lihat benteng-benteng di Indonesia Timur itu dibuat oleh bangsa kolonial, kami kesini sifatnya penelitian, kami hanya bisa memberikan rekomendasi kepada stekholder terkait dan kami tidak bisa memberikan kebijakan terkait,” katanya.

Apalagi dia melihat peluang dan potensi Benteng Kuto Besak menjadi objek wisata sangat besar, tapi selama ada political will dari pemerintah setempat, baik itu Pemprov maupun Pemkot.

“Karena bicara pariwisata, Benteng Kuto Besak ini bisa menjadi investasi jangka panjang. Mungkin bukan Gubernur atau Wali Kota sekarang, mungkin 20 sampai 30 tahun kedepan baru terasa bahwa benteng ini bisa mendunia dan bisa mengundang turis asing datang ke Palembang. Pajak makin meningkat, ada PAD, UMKM bisa tumbuh,” katanya sembari mengatakan, Benteng Kuto Besar juga perlu dibangun narasi sejarah sehingga bisa menarik turis berkunjung dan bisa dilakukan penelitian di Benteng Kuto Besak

Pihaknya juga telah merekomendasikan kepada stekholder terkait, terutama kepada Pemerintah Kota Palembang agar program revitalisasi Benteng Kuto Besak yang sempat direncanakan di tahun-tahun sebelumnya diteruskan kembali. Tapi mungkin bisa ditukar inisiatornya Pemerintah Kota, karena Benteng Kuto Besak menjadi icon Kota Palembang selain Sungai Musi dan Jembatan Ampera.

“Mudah-mudahan kajian kami berdua ini bisa membuka pikiran stekholder terkait untuk keberlangsungan Benteng Kuto Besak di tahun depan atau beberapa tahun kedepan, dan kita harus bersyukur dan berterima kasih karena Benteng Kuto Besak selama ini dipelihara TNI dalam hal ini Kodam II Sriwijaya. Kalau enggak ada mereka, mungkin Benteng Kuto Besak sudah penuh coretan, sudah rusak sana-sini,” katanya. DUD

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here