Home Palembang SMB IV Usul Bangun Miniatur Keraton di BKB

SMB IV Usul Bangun Miniatur Keraton di BKB

0
SMB IV saat menerima kunjungan Tim Balitbang Kemenhan RI, di Istana Adat Kesultanan Palembang Darussalam, Palembang, Rabu (23/9).

PALEMBANG.PE- Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Jaya Wikrama RM Fauwaz Diradja SH Mkn, Sultan Kesultanan Palembang Darussalam, mengusulkan di Benteng Kuto Besak (BKB) dibangun miniatur keraton. Pihaknya pun siap bersinergi dengan berbagai pihak, untuk membentuk kembali BKB sebagaimana masa lampau.

Demikian ditegaskan oleh SMB IV saat menerima kunjungan tim dari Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementrian Pertahanan (Kemenhan) Republik Indonesia (RI), ke Istana Adat Kesultanan Palembang Darussalam, Palembang, Rabu (23/9).

Dalam kunjungan itu, Tim Balitbang Kemenhan RI dipimpin oleh Gerald Theodorus L.Toruan, S.H.,M.H selaku Peneliti Ahli Muda Balitbang Kementrian Pertahanan R, bersama anggota tim, Jeanne Francoise, Penulis Disertasi tentang Defense Heritage dan Founder Defense Heritage Intellectual Community.

Tim Balitbang Kemenhan RI diterima langsung oleh SMB IV, didampingi sejumlah Pangeran dan Bangsawan Kesultanan Palembang Darussalam, diantaranya Raden Zainal Abidin Rahman Dato’ Pangeran Puspo Kesumo, R.M.Rasyid Tohir,S.H, Dato’ Pangeran Nato Rasyid Tohir, Pangeran Suryo Febri Irwansyah, Pangeran Jayo Syarif Lukman, Pangeran Surya Kemas A. R. Panji, dan Beby Johan Saimima.

SMB IV dalam kesempatan itu mengapresiasi kedatangan Tim Balitbang Kemenhan RI terkait defence heritage Benteng Kuto Besak (BKB). Soalnya, BKB merupakan khazanah yang harus dipertahankan dan dilestarikan karena bukan hanya memiliki nilai budaya dan historis, tapi bisa bernilai ekonomi dengan menjadi aset wisata yang baik.

Pihaknya, menurut SMB IB, berharap khususnya kepada pemerintah supaya BKB bisa dijadikan cagar budaya yang bisa dinikmati semua orang.

“ Bagaimana masyarakat bisa masuk ke sana dan bisa tahu sejarah, budaya dari Benteng Kuto Besak itu. Karena saya yakin bukan cuma penduduk lokal yang akan bertanya kesana, tapi masyarakat dari luar negeri akan bertanya bagaimana zaman Kesultanan bisa membuat benteng sekuat dan sekokoh itu. Itu menjadi pertahanan yang tidak bisa ditembus bom. Sultan tidak hanya membuat tempat bertahan sementara, tapi benar-benar kokoh,” katanya.

SMB IV menilai revitalisasi BKB dengan cara tukar guling dinilainya agak berat.

“ Sebaiknya kalau bisa Pemerintah Pusat atau dari Kemenhan dan TNI membuat BKB sebagai situs atau museum dari tentara itu,. mengenai historical ya. Tidak apa-apa jika tidak diserahkan ke pemerintah (oleh TNI, red), karena mungkin ribet masalah tukar gulingnya. Apalagi Benteng Kuto Besak sudah masuk dalam daftar kekayaan negara, kan susah disitu. Lebih baik bagaimana pemanfaatannya bisa dimanfaatkan oleh masyarakat, walaupun itu dikuasi oleh TNI,” katanya.

Pihaknya siap bersinergi dengan semua pihak, untuk membentuk kembali bagaimana Benteng Kuto Besak seperti di masa lampau.

“Kalau bisa disana dibuat miniatur keraton lagi, dibuat tempat penjualan souvenir, tempat-tempat dan pojok-pojok sejarah yang bisa mengundang wisatawan,” katanya.

Sementara Gerald Theodorus L.Toruan, S.H.,M.H mengaku terkejut mendapatkan sambutan yang istimewa dari SMB IV dan jajaran.

“Kunjungan kami kesini dalam rangka penelitian terkait defence heritage, dimana di Kota Palembang dalam sejarahnya menyimpan dan masih ada cagar budaya pertahanan yang masih eksisting, masih dapat dilihat adalah Benteng Kuto Besak. Dimana ini adalah benda yang ditinggalkan dan bisa dikenal dari masa Sultan Mahmud Badaruddin II,” kata Gerald didampingi rekannya Jeanne Francoise.

Apalagi, menurut dia, Benteng Kuto Besak dibangun oleh orang Palembang sendiri. Sementara benteng-benteng di Indonesia Timur, dibuat oleh bangsa kolonial

“Kami kesini sifatnya penelitian, dan hanya bisa memberi rekomendasi kepada stakholder terkait. Kami tak bisa memberikan kebijakan terkait,” katanya. Apalagi dia melihat peluang dan potensi Benteng Kuto Besak menjadi objek wisata sangat besar, tapi selama ada political will dari pemerintah setempat, baik itu Pemprov maupun Pemkot.

“Karena bicara pariwisata, Benteng Kuto Besak ini bisa menjadi investasi jangka panjang. Mungkin bukan Gubernur atau Wali Kota sekarang, mungkin 20 sampai 30 tahun kedepan baru terasa bahwa benteng ini bisa mendunia dan bisa mengundang turis asing datang ke Palembang. Pajak makin meningkat, ada PAD, UMKM bisa tumbuh,” katanya.

Gerald mengatakan, Benteng Kuto Besar juga perlu dibangun narasi sejarah sehingga bisa menarik turis berkunjung dan bisa dilakukan penelitian di Benteng Kuto Besak .

Pihaknya juga telah merekomendasikan kepada stakeholder terkait, terutama kepada Pemerintah Kota Palembang , agar program revitalisasi Benteng Kuto Besak yang sempat direncanakan di tahun-tahun lalu diteruskan kembali. Tapi mungkin bisa ditukar inisiatornya yakni Pemkot, karena Benteng Kuto Besak menjadi icon Kota Palembang selain Sungai Musi dan Jembatan Ampera.

“Mudah-mudahan kajian kami berdua ini bisa membuka pikiran para stakeholder terkait, untuk keberlangsungan Benteng Kuto Besak di tahun depan atau beberapa tahun kedepan. Kita harus bersyukur dan berterima kasih karena Benteng Kuto Besak selama ini dipelihara TNI, dalam hal ini Kodam II Sriwijaya. Kalau enggak ada, mereka mungkin Benteng Kuto Besak sudah penuh coretan, sudah rusak sana-sini,” tukasnya. DUD

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here