Home Konsultasi Tanah Hibah Diambil Kembali

Tanah Hibah Diambil Kembali

0

SAYA ingin bertanya terkait masalah tanah hibah. Misalnya dahulu tanah adat (keluarga besar) dihibahkan untuk bangunan sekolah. Namun seiring waktu, sekolah yang telah dibangun diatas tanah hibah itu dipindahkan dan tanah tersebut tidak diolah atau pergunakan oleh Pemerintah lagi. Sementara bersamaan dengan itu, sedang ada pembangunan rumah adat. Pertanyaannya, apakah tanah tersebut dapat diambil kembali untuk kepentingan pembangunan rumah adat? Terima kasih.

Yustanti
ettyyustanti@gmail.com

Untuk menjawab permasalahan tersebut maka dapat saya jelaskan sebagai berikut:

Penghibahan adalah suatu persetujuan dengan mana seorang penghibah menyerahkan suatu barang secara cuma-cuma, tanpa dapat menariknya kembali, untuk kepentingan seseorang yang menerima penyerahan barang itu. Undang-undang hanya mengakui penghibahan-penghibahan antara orang-orang yang masih hidup.

Pelaksanaan hibah harus dilakukan dengan akta notaris kecuali pemberian hadiah dari tangan ke tangan secara langsung (Pasal 1682 KUHPer). Setelah lahirnya PP 24/1997, setiap pemberian hibah tanah dan bangunan harus dilakukan dengan akta Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT). Berdasarkan ketentuan tersebut, prinsipnya benda yang sudah dihibahkan tidak dapat ditarik kembali menjadi hak milik pemberi hibah.

Akan tetapi, untuk kepentingan kewarisan, benda yang telah dihibahkan dapat “diperhitungkan kembali” nilainya ke dalam total harta peninggalan seolah-olah belum dihibahkan (lihat Pasal 916a sampai Pasal 929 KUHPer). Ketentuan ini bermaksud agar jangan sampai hibah yang dahulu pernah diberikan oleh pewaris, mengurangi bagian. Benda yang telah dihibahkan tidak dapat ditarik kembali oleh pemberi hibah.

Hibah menurut Hukum Islam :
Pengertian hibah menurut Pasal 171 huruf g Inpres No. 1 Tahun 1991 tentang Penyebarluasan Kompilasi Hukum Islam (“KHI”) adalah pemberian suatu benda secara sukarela dan tanpa imbalan dari seseorang kepada orang lain yang masih hidup untuk dimiliki. Hibah dalam hukum Islam juga tidak dapat ditarik kembali, kecuali hibah orang tua kepada anaknya (Pasal 212 KHI).

Dalam kasus ibu Ety Yustanti maka perlu kita cermati apakah hibah yang dilakukan adalah Hibah Lepas atau Hibah yang sudah di tentukan peruntukannya. Apabila yang dilakukan Hibah Lepas, silahkan untuk meneruskan pembangunan rumah adat. Namun apabila hibah yang dilakukan adalah hibah yang diperuntukan pembangunan sekolah oleh si penghibah, maka hibah tersebut tidak dapat ditarik kembali.

Tanah yang sudah dihibahkan tentu tidak dapat ditarik kembali menurut pasal 1666 KUHPer. Karena tanah yang dihibahkan untuk kepentingan umum (Pembuatan sekolah). Berdasarkan KUHPer tidak ada jangka waktu dan tidak bisa dilakukan karena benda yang telah dihibahkan tidak bisa ditarik kembali, sedangkan untuk hukum Islam hanya hibah orang tua kepada anak yang dapat ditarik kembali dan tidak disebutkan sampai kapan jangka waktunya.

Demikian jawaban kami, terima kasih.

Dra Hj Erleni SH,MH
(Advokat dan Wakil Ketua 1 STIHPADA)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here