Home Headline News Berburu Koleksi Museum Dari Rumah Warga Hingga Situs Bersejarah

Berburu Koleksi Museum Dari Rumah Warga Hingga Situs Bersejarah

0
Kepala Museum Negeri Sumatera Selatan Chandra Amprayadi berfoto bersama Sejarawan Sumsel, Kemas Ari Panji dan Hj Rukimah Malisin (72).

PALEMBANG, PE – Guna menambah koleksi museum, Kepala Museum Negeri Sumatera Selatan Chandra Amprayadi melakukan survei ke sejumlah lokasi, dari Kabupaten Ogan Komering Ilir hingga OKU Selatan.

Di Kota Kayuagung, Kabupaten OKI, tepatnya di Kelurahan Sidakersa, Kecamatan Kayuagung, ia mengunjungi rumah Hj Rukimah Malisin (72). Ibu ini memiliki banyak barang peninggalan keluarga turun temurun. Mulai dari keramik, meja batu, lemari bari, peti kayu, pedang dan keris, hingga peralatan rumah tangga. “Barang-barang di rumah ibu ini terawat dan terpelihara dengan baik,” ucapnya memuji saat dihubungi, Rabu (14/10).

Dikatakan, koleksi benda antik yang dimiliki Hj Rukimah menarik minatnya. Terlebih sebagian benda tersebut sudah berusia sangat tua. Berasal dari zaman Kerajaan Sriwijaya hingga Kesultanan Palembang Darussalam.

“Lemari bari diperkirakan dari zaman Kesultanan Palembang. Lalu piring-piringnya kemungkinan dari zaman Sriwijaya dan kesultanan, yang dibawa oleh pedagang Cina,” tukasnya.

Orang-orang Kayu Agung dulu, ia menjelaskan, termasuk nenek moyang ibu ini, merupakan pedagang antardaerah dan pulau. Mereka berdagang menggunakan perahu kajang hingga ke Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta.

“Perdagangan saat itu dengan cara barter. Mereka masuk daerah pelosok untuk membeli barang-barang tadi,” ucapnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, selain dari perdagangan, barang-barang antik yang dimiliki warga juga merupakan pemberian dari orangtua.   Tak semua orang bisa memiliki barang-barang antik tersebut. Melainkan hanya mereka yang punya kedudukan penting pada masa pejajahan Belanda.

“Kemungkinan orangtua dari ibu ini pejabat pada zaman pemerintahan Belanda. Makanya bisa memiliki barang-barang tersebut,” ujarnya.

Sejauh ini, ia mengatakan, pihaknya baru sebatas melihat-lihat barang antik milik warga, apakah sesuai dengan kriteria koleksi Museum Negeri Sumatera Selatan.

“Kami masih studi koleksi. Dilihat dulu kira-kira mana yang cocok untuk jadi koleksi museum dan mana yang belum ada di museum. Saat ini kita sedang melakukan pendekatan,” tuturnya.

Berdasarkan pembicaraan dengan ibu tersebut, ia mendapat kesan ibu itu bersedia menghibahkan koleksinya kepada Museum Negeri Sumsel.

“Ibu Hj Rukimah bilang, kalau memang museum memerlukan, dirinya bersedia menghibahkan,” ucapnya menirukan perkataan ibu tersebut.

Setelah menyambangi rumah Hj Rukimah, Kepala Museum Negeri Sumsel yang ditemani seorang stafnya dan sejarawan Kemas Ari Panji, melanjutkan perjalanan ke OKU Selatan. Target mereka adalah Candi Jepara dan Candi Lesung Batu di Desa Subik, Kecamatan Buay Pematang Ribu Ranau Tengah, Kabupaten OKU Selatan. Lokasi situs cagar budaya ini berada di dekat Danau Ranau.

“Jalan menuju situs ini sudah bagus. Tapi belum terekspos. Banyak orang yang tidak tahu dengan kedua situs tersebut,” ucapnya menyayangkan.

Candi Jepara, ia mengatakan, berada di belakang bukit, tidak jauh dari Mess Pusri. “Hanya berjarak 300 meter dari Danau Ranau. Hanya saja memang harus menaiki bukit,” tukasnya.

Kedua situs bersejarah tersebut sudah tinggal reruntuhan bangunan saja yang terbuat dari batu alam. CIT

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here