Home Ekonomi Butuh Kreativitas Kembangkan Kopi Pagaralam

Butuh Kreativitas Kembangkan Kopi Pagaralam

0
Komunitas Agung Seghempak salah satu Komunitas yang peduli perkembangan Kopi Pagaralam saat dikunjungi Tim Ekspedisi Kopi Palpres, Sabtu (17/10).

PAGARALAM, PE – Perkembangan perkopian di Pagaralam untuk menjadi diperhitungkan membutuhkan banyak kreativitas. Seperti para pemuda di Dusun Lawang Agung Kelurahan Agung Lawangan, Dempo Utara, Pagaralam yang menunjukkan kepedulian mereka dalam mengembangkan kopi Pagaralam dengan inovasi mereka dan menamai komunitas mereka Agung Seghempak.

Para anak muda itu membuat komunitas kecil bertindak sebagai petani dan prosesor kopi. Memelihara lahan kopi sendiri, dan memutuskan untuk hidup dengan aroma kopi setiap hari. Mereka dengan sabar menanti panen di setiap musim.

Salah seorang aktivis perkopian Muhammad Gerut Habibi— seorang sarjana — yang memutuskan untuk pulang kampung dan bertani. “Awalnya saya pernah mencoba usaha dalam bidang kopi dengan menjadi barista di kafe kopi di Palembang. Suatu ketika saya berpikir kenapa tidak di Pagaralam,” kata dia.

Masyarakat Pagaralam itu teramat suka kopi, tetapi tidak terbiasa minum kopi bersama-sama di kedai atau kafe di luar rumah. “Ah, kalau untuk ngopi saja kenapa harus ke warung. Di rumah kan banyak. Itu alasan orang di Pagaralam saat diajak ngopi di kafe,” imbuh Gerut.

Secara perlahan, ujar Gerut, kedai kopi di Pagaralam mulai bertumbuh. Kalangan muda terutama sudah banyak yang menikmati ngopi di kafe, kedai, atau warung. Di sana masyarakat mengenal kopi-kopi dari luar Pagaralam dan aromanya. “Nah, kalau kopi luar bisa terkenal, kopi Pagaralam pasti bisa,” lanjut dia.

Kopi Pagaralam mestinya bergema. Kopi Sumatera di belahan dunia lain, di luar sana mungkin saja berasal dari Pagaralam. Pada rantai pasok kopi, kopi Pagaralam banyak didistribusikan di Lampung, pada saat itulah kopi Lampung lebih terkenal. Miris, tapi beginilah keadaannya. Hingga tak banyak orang tahu.

“Karena itu jika dilihat dari potensi lahan kopi di Pagaralam, yang termasuk terluas lahannya di Sumatera Selatan, seharusnya kopi Pagaralam lebih dari ini namanya dikenal. Sejak zaman kolonial, kopi Pagaralam menjadi salah satu favorit Ratu Belanda. Tetapi kini baru mulai lagi dibangkitkan,” ujarnya.

Hingga mungkin ini yang jadi faktor suplai dan pemrosesan pascapanen kopi di kebun, yang hari ini yang mengandalkan sisi ekspor dan produksi kopi asalan.

Komunitas Agung Seghempak mulai berusaha memperbaiki pascapanen hingga dapat menghasilkan kopi yang memberi impresi baik. Masih jauh jalan, masih panjang tahap yang harus ditempuh. Namun, bukan anak muda namanya jika tak bersemangat.
“Agung Seghempak itu artinya kaya bersama-sama. Itulah keinginan kita semua,” cetusnya.

Ketua Komunitas Petani Agung Seghempak, Didek Bakri mengatakan, turun dan naiknya produktivitas buah kopi tergantung dengan pemeliharaan. Misalnya saja dicontohkan Didek dengan pemeliharaan batang, pemangkasan, dan pemupukan. Bila ini dijalankan, Didek optimis produksi buah kopi akan meningkat atau setidaknya stabil. “Faktor cuaca pasti berpengaruh. Kalau hujan terus buah tak jadi. Kalau panas terus, juga tidak terlalu bagus buat perkembangan buah,” jawab Didek. KOE

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here