Home Opini Covid-19, Merdeka Belajar dan Pembelajaran Jarak Jauh

Covid-19, Merdeka Belajar dan Pembelajaran Jarak Jauh

0
Dodi Irawan

Oleh Dodi Irawan
e-mail: mr.dhee88@gmail.com

Pendahuluan

WABAH Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) yang telah melanda 215 negara di dunia, memberikan tantangan tersendiri bagi lembaga pendidikan, khususnya sekolah dan perguruan tinggi. Melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Pemerintah telah melarang sekolah dan perguruan tinggi untuk melaksanakan pembelajaran tatap muka (konvensional), dan memerintahkan untuk menyelenggarakan pembelajaran secara daring (Surat Edaran Kemendikbud Dikti No. 1 tahun 2020).

Tak ayal, peralihan moda pembelajaran dari tatap muka menjadi pembelajaran jarak jauh yang tentunya banyak menimbulkan polemik. Salah satunya adalah, “Bagaimana desain pembelajaran jarak jauh yang efektif?” Pertanyaan inilah yang akan menjadi fokus pembahasan artikel ini. Agar pembahasan tersebut sejalan dengan program merdeka belajar yang dicanangkan oleh Kemdikbud Republik Indonesia.

Merdeka Belajar

Merdeka Belajar merupakan program Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim yang ingin menciptakan suasana belajar yang bahagia. Tujuannya adalah agar para guru, peserta didik, serta orang tua bisa mendapat suasana yang bahagia.

Yang menjadi sorotan dalam merdeka belajar saat ini adalah tenaga pendidik. Pendidik dituntut untuk mendisain, mengeksplorasi dan menerapkan berbagai macam teori, pendekatan, dan prinsip desain pembelajaran guna menciptakan lingkungan belajar yang inovatif bagi peserta didiknya.

Oleh karena itu, pendidik perlu melakukan refleksi secara terus-menerus terhadap praktik pengajarannya, serta menerapkan dan mengembangkan model-model pembelajaran terkini, seperti flipped classroom, blended learning, dan pembelajaran daring. Selain itu, pendidik juga perlu mengoptimalkan gawai yang telah dimiliki oleh peserta didik, atau yang telah disediakan bagi mereka, untuk menciptakan pembelajaran inovatif, aktif, dan mendalam.

Pembelajaran Jarak Jauh

Berdasarkan Undang-Undang Perguruan Tinggi nomer 12 tahun 2012, pasal 31 tentang Pendidikan Jarak Jauh (PJJ). Dalam pengertiannya, pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) adalah pembelajaran dengan menggunakan suatu media yang memungkinkan terjadi interaksi antara pengajar dan pembelajar.

Melalui sistem PJJ ini, setiap orang dapat memperoleh akses terhadap pendidikan yang berkualitas seperti halnya pendidikan tatap muka atau reguler pada umumnya, tanpa harus meninggalkan keluarga, rumah, dan pekerjaan. Akan tetapi, dalam implementasinya terdapat beberapa tantangan yang dihadapi program PJJ, yakni: peserta didik dalam belajar daring tidak memiliki laptop atau smartphone, kuota pulsa terbatas, dan jaringan sinyal yang lemah. Sehingga kegiatan belajar online tidak dapat berjalan dengan maksimal. Maka dari itu seorang pendidik perlu mencari solusi dari masalah tersebut.

Pendidikan dan Platform Pembelajaran

New Normal, istilah ini sering terdengar selama beberapa pekan terakhir, sebagai jawaban dari pandemi virus corona yang belum juga menampakkan tanda-tanda akan berakhir.

Kini, semua sektor bersiap menjalani tatanan kehidupan baru, tidak terkecuali dunia pendidikan. Karena itu, para pelaku dunia pendidikan wajib mencari solusi terkait bagaimana proses belajar mengajar bisa tetap dilangsungkan, tanpa mengabaikan peran guru sebagai pengajar. Dengan kata lain, dibutuhkan media untuk memfasilitasi para guru agar tetap bisa menunaikan tugasnya sebagai pengajar. Sementara sebagai siswa, menunaikan kewajibannya untuk belajar dengan baik.

Inilah mengapa sebuah platform pembelajaran jarak jauh idealnya tidak untuk menggantikan peran masing-masing stake-holder yang ada di ekosistem sekolah, baik itu guru, orang tua dan sekolah itu sendiri. Beberapa platform yang terbilang ideal atau paling tidak bisa membantu sekolah dan ekosistem di dalamnya, untuk melakukan pembelajaran jarak jauh di masa New Normal sekarang ini diantaranya adalah google classroom, google meet, dan zoom meeting.

Peserta Didik dan Pendidik

Dalam pembelajaran tatap muka, interaksi peserta didik biasanya dilakukan pada saat penyajian materi, tanya jawab, dan diskusi klasikal. Sedangkan dalam pembelajaran jarak jauh, kegiatan-kegiatan seperti ini masih dapat dilakukan melalui konferensi video (videoconferencing).

Akan tetapi secanggih apapun pembelajaran daring, bagaimanapun juga pendidik adalah roh dan spirit untuk mencapai tujuan pendidikan. Pembelajaran daring dengan berbagai aplikasi yang menarik takkan dapat menggantikan peran guru sebagai pendidik.

Karena pendidikan tidak hanya sekadar transfer of knowledge tetapi juga transfer of values, nilai-nilai moral. Maka dari itu, kini dalam pembelajaran daring, guru dituntut tidak sekadar menyampaikan ilmu pada siswa, tetapi juga menumbuhkembangkan pendidikan karakter.

Tentu tidak mudah. Karena guru tidak bisa mengawasi secara langsung perkembangan karakter anak seperti saat berada di lingkungan sekolah. Penanaman karakter menjadi salah satu integral penting dalam dunia pendidikan terutama dalam rangka menghadirkan sumber daya manusia yang tidak hanya cerdas namun juga ramah, humanis, jujur, disiplin, dan bertanggung jawab.

Di tengah kesulitan, guru tetap harus berusaha mencari jalan. Hal yang bisa dilakukan agar peserta didik tetap belajar untuk ramah adalah kegiatan yang sederhana ini bermakna mendalam, yakni menyapa dan menanyakan kabar saat awal pembelajaran. Dengan terbiasa pada budaya tegur sapa, peserta didik bisa menjadi salah satu pelopor kerukunan hidup dalam masyarakat di masa mendatang.

Penutup

Kesimpulan

Artikel ini telah membahas beberapa rekomendasi desain pembelajaran jarak jauh dengan memandang pengajaran sebagai proses interaksi antar pelaku pembelajaran. Interaksi yang dimediasi oleh teknologi ini perlu didesain dengan matang dan diimplementasikan dengan berpatokan pada kebutuhan peserta didik. Selain apa yang telah dibagi di sini, ruang-ruang inovasi masih sangat terbuka lebar dalam desain dan implementasi pembelajaran jarak jauh.

Demikian juga dengan ruang belajar untuk terus memperbaiki pengajaran. Masih luasnya ruang inovasi dan belajar inilah yang memerdekakan pendidik untuk terus mengamati, mencoba, menemukan, dan berefleksi tentang bagaimana bentuk pembelajaran jarak jauh yang paling sesuai dengan konteks peserta didiknya. ***

Daftar Pustaka:

1. Arnesti, N., & Hamid, A. (2015). Penggunaan Media Pembelajaran Online – Offline Dan Komunikasi Interpersonal Terhadap Hasil Belajar Bahasa In-ggris. Jurnal Teknologi Informasi & Komunikasi Da-lam Pendidikan, 2(1). https://doi.org/10.24114/ jtikp.v2i1.3284.
2. Fakultas Kedokteran Universitas Lampung, & Yuliana *). (2020). Corona virus diseases (COVID-19); Sebuah tinjauan literatur. Wellness and Healthy Magazine, 2(1), 187–192.
3. Hartanto, W. (2016). Penggunaan E-Learning sebagai Media Pembelajaran. Jurnal Pendidikan Ekonomi, 10(1), 1–18
4. Kementerian Dalam Negeri. (2020). Pedoman Umum Menghadapi Pandemi COVID-19 Bagi Pemerin-tah Daerah. 1–206.
5. Kementerian Dalam Negeri. (2020). Pedoman Umum Menghadapi Pandemi COVID-19 Bagi Pemerin-tah Daerah. 1–206.
6. https://doi.org/10.1017/CBO9781107415324

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here