Home Headline News Hindari Kesalahan, Arkeolog Balar Sumsel Teliti Ulang Piagam Kesultanan Palembang

Hindari Kesalahan, Arkeolog Balar Sumsel Teliti Ulang Piagam Kesultanan Palembang

0
Tim peneliti dari Balai Arkeologi Provinsi Sumatera Selatan melakukan desk study atau membaca ulang piagam kuno di Museum Negeri Sumatera Selatan Balaputra Dewa, Jumat (2/10).

PALEMBANG, PE – Tim peneliti dari Balai Arkeologi Provinsi Sumatera Selatan melakukan desk study atau membaca ulang piagam kuno di Museum Negeri Sumatera Selatan Balaputra Dewa, Jumat (2/10). Ini dilakukan untuk menghindari terjadinya kesalahan dalam menafsirkan isi piagam tersebut.

Arkeolog Balar Sumsel, Wahyu Rizky Andhifani, mengatakan, penelitian difokuskan kepada naskah kuno peninggalan Kesultanan Palembang Darussalam, yang jadi koleksi museum, yakni prasasti Padang Ratu.

“Penelitian ini tentang piagam Kesultanan Palembang. Dari kemarin kita melakukan penelitian di Museum SMB II. Kita teliti tiga prasasti logam, satu tembaga, dan dua dari timah atau perak. Satu lagi di sini, yakni Prasasti Padang Ratu,” ujarnya.

Dikatakan, Prasasti Padang Ratu berisi tentang aturan yang dikeluarkan oleh Sultan Ahmad Najamuddin I. Prasasti ini diberikan kepada Pangeran Anom dari Desa Tanjung. Terdiri dari 13 baris. Berangka tahun 1700-an

“Saya meragukan Padang Ratu ini sebagai apa. Yang saya tahu, ketika di tahun 90-an, mahasiswa menamainya Piagam Sukabumi. Kenapa saat pindah ke Balaputra Dewa, namanya berubah jadi Piagam Padang Ratu,” tukasnya.

. Lebih lanjut dikatakan dia, tim peneliti Balar Sumsel, yang beranggotakan sejumlah arkeolog, di antaranya dia dan Retno Purwanti, melakukan pembacaan ulang piagam-piagam kuno untuk meluruskan kesalahan baca dan penulisan dari penelitian sebelumnya.

“Naskah ini sebetulnya sudah pernah dibaca oleh peneliti sebelumnya. Kita baca ulang. Biasanya suka ada kesalahan penulisan, terutama kesalahan pembacaan. Seperti di SMB II kemarin, ada beberapa yang salah pembacaan. Malah ada yang tidak terbaca juga,” tuturnya.

Ia tidak tahu persis apa penyebabnya sampai terjadi kesalahan tersebut. Pastinya, terjadi kesalahan dalam pembacaan ejaan.

“Tapi 80 persen sama pembacaannya. Sisanya ada kesalahan,” ucapnya.

Menurutnya, penelitian difokuskan di dua museum saja, yakni Museum SMB II dan Museum Negeri Sumatera Selatan Balaputra Dewa, lantaran hanya kedua museum tersebut yang menyimpan piagam-piagam zaman Kesultanan Palembang Darussalam.

“Kita ingin melakukan penelitian lebih luas lagi. Seperti piagam-piagam yang diberikan Kesultanan ke daerah-daerah. Banyak kan itu. Seperti di Pagaralam, Lahat, Banyuasin, dan Muba. Masih banyak dipegang masyarakat di daerah,” ucapnya.

Penelitian ini dilakukan, ia mengatakan, juga untuk menjawab rasa ingin tahu peneliti perihal pada masa kesultanan siapa, yang paling banyak mengeluarkan piagam-piagam untuk daerah.

“Kalau saya baca dari laporan penelitian, paling banyak mengeluarkan piagam itu, yakni Sultan Najamuddin I, Sultan Bahaudin, dan Sultan Abdurrahman,” pungkasnya. CIT

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here