Home Headline News Ketat Terapkan Prokes di Babak Grandfinal

Ketat Terapkan Prokes di Babak Grandfinal

0
Peserta dari SMAN 21 Palembang saat mengikuti babak penyisihan Sang Juara ‘Payo ke Museum’ di Aula Museum Negeri Sumatera Selatan, Rabu (28/10).

PALEMBANG, PE – Sebanyak 75 peserta dari 25 SMA se-Kota Palembang akan berkompetisi dalam babak grandfinal Lomba Sang Juara ‘Payo ke Museum’ di halaman depan Museum Negeri Sumatera Selatan pada 19 November mendatang.

Pemimpin Redaksi Harian Palembang Ekspres M Iqbal mengatakan, penyelenggaraan babak grandfinal nanti tidak akan berbeda dengan tahun lalu. Hanya saja peserta yang lolos dibatasi jadi tiga besar per sekolah dari sebelumnya lima besar, untuk menghindari kerumunan.

“Jadi dari 25 SMA yang kita undang, pada final nanti akan menghadirkan total 75 peserta. Masih sama seperti babak penyisihan, kita akan terapkan protokol kesehatan dengan ketat,” ujarnya, Rabu (28/10).

Dikatakan, sejak awal masuk museum, peserta akan dicek suhu tubuh. Lalu wajib pakai masker dan face shield, serta mencuci tangan di air mengalir dan disiapkan pula hand sanitizer.

“Sebelum acara, arena lomba akan disterilisasi dengan disemprot disinfektan oleh petugas museum. Museum sendiri sudah memiliki satgas Covid-19, yang dibentuk Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumsel,” terangnya.

Soal-soal yang diberikan, ia melanjutkan, masih seputar permuseuman, sejarah, dan pengetahuan umum. Namun lebih dititikberatkan soal koleksi Museum Negeri Sumatera Selatan.

Sementara Ketua Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI) Provinsi Sumatera Selatan Merry Hamraeny menilai semua peserta memiliki peluang yang sama untuk menjadi Sang Juara sesi ketiga tahun ini.

“Semua peserta punya peluang yang sama untuk menjadi Sang Juara, baik itu sekolah unggulan maupun bukan, karena semangat yang ditunjukkan masing-masing peserta,” ujarnya.

Dalam pandangannya, selama penyelenggaran babak penyisihan 19-28 Oktober, peserta terlihat masih lemah dalam hal sejarah lokal Sumatera Selatan. Ini jadi tantangan bagi guru-guru Sejarah.

“Materi sejarah lokal perlu diberikan kepada siswa. Sebab sejarah lokal inilah yang akan jadi sejarah nasional. Apalagi, Sumsel sudah melewati beberapa dekade. Ada masa Kerajaan Sriwijaya, Kesultanan Palembang, termasuk juga awal masa pra aksara,” tuturnya.

Ia memberikan apresiasi yang tinggi kepada pihak Museum Negeri Sumatera Selatan, yang terus bersinergi dengan AGSI Sumsel selama tiga tahun terakhir.

“Even ini dan kegiatan-kegiatan sebelumnya yang telah digelar selama tiga tahun terakhir, tujuannya untuk menggiring siswa datang ke museum. Sesuai dengan moto Sang Juara, Payo ke Museum,” ucapnya.

Menurutnya, museum merupakan sumber ilmu, seperti halnya buku dan internet. Malah, siswa dapat melihat langsung objek-objek sejarah, yang sedang dipelajari. “Di museumlah tempat kita belajar sejarah,” pungkasnya. CIT

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here