Home Palembang Museum Media Pembinaan Karakter Bangsa

Museum Media Pembinaan Karakter Bangsa

0
Sejarawan Sumsel, Kemas A.R Panji Msi, memberikan paparan pada Diskusi Peranan Museum Terhadap Pembinaan Karakter Bangsa di UPTD Taman Wisata Kerajaan Sriwijaya (TWKS), Gandus, Palembang, Rabu (21/10).

PALEMBANG, PE – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Selatan melalui UPTD Taman Wisata Kerajaan Sriwijaya (TWKS) menggelar Diskusi Peranan Museum Terhadap Pembinaan Karakter Bangsa di UPTD Taman Wisata Kerajaan Sriwijaya (TWKS), Gandus, Palembang, Rabu (21/10).

Narasumber yang dihadirkan, Herintation Spd, kurator Museum TWKS Gandus Palembang, Dosen Universitas Sriwijaya Adhitya Rol Asmi Mpd, sejarawan Sumsel, Kemas A.R Panji Msi, dan penggiat budaya dari Direktorat Jendral (Ditjen) Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Wanda Lesmana. Acara diikuti oleh kalangan mahasiswa dan komunitas sekota Palembang.

Khairul Sahri, ketua panitia pelaksana kegiatan, mengatakan, peserta seratus orang. Dibagi dua menjadi 50 orang. Mereka merupakan mahasiswa dan komunitas pecinta sejarah.

“Kita pilih tema tersebut, lantaran saat ini terjadi degradasi moral. Utamanya di kalangan anak muda. Maka itu digelar diskusi dengan menghadirkan sejumlah narasumber yang berkompeten,” tukasnya.

Pembahasan dikaitkan dengan koleksi Museum Sriwjaya. Yakni prasasti-prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya. Terlebih, prasasti ini juga membahas tentang karakter bangsa.

Tujuan digelarnya diskusi ini, ia mengatakan, untuk meningkatkan pengetahuan mahasiswa. Bahwa zaman dahulu pun, bangsa ini sudah berkarakter. Dibuktikan dalam prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya.

Sejarawan Sumsel, Kemas A.R Panji Msi menilai museum sebagai salah satu alternatif tempat pembelajaran ataupun sebagai media pembinaan karakter bangsa.

“Jadi para generasi muda kalau kita ajak ke museum, dijelaskan nilai-nilai apa yang dapat diambil dari koleksi museum. Maka pembinaan karakter bangsa ini akan menjadi semakin tajam dan mendalam. Tidak cukup hanya di sekolah,” katanya.

Pembinaan karakter bangsa, ia melanjutkan, bisa dilakukan di sekolah, rumah, serta tempat lain, tidak mesti di museum.

“Saran kami, manfaatkan museum sebagai media pembelajaran dan pembinaan karakter bangsa. Terkait itu, pihak museum TWKS Gandus Palembang harus mengelola dan mengembangkan koleksi-koleksi yang ada menjadi media pembelajaran,” katanya.

Sedangkan penggiat budaya dari Direktorat Jendral (Ditjen) Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Wanda Lesmana mengatakan, kegiatan ini untuk mengajak kaum pelajar dan mahasiswa melihat kembali warisan para leluhur.

“Saya melihat acara hari ini lebih mengajak kaum pelajar dan mahasiswa untuk bernostalgia. Mengenang kembali apa sebetulnya warisan-warisan leluhur yang telah ditinggalkan Kerajaan Sriwijaya,” ucapnya.

Dikatakan, Kedatuan Sriwijaya banyak meninggalkan catatan monumental terkait prasasti-prasastinya. Dari masa itu saja sudah dijelaskan bahwasanya terdapat kecintaan tanah air di Prasasti Kedukan Bukit . Prasasti itu menuliskan tentang perjalanan Dapunta Hyang.

“Prasasti Kedukan Bukit merupakan akta kelahiran Kota Palembang. Dalam prasasti ini diceritakan bentuk cinta tanah air. Sedangkan Prasasti Telaga Batu menceritakan struktur Kerajaan Sriwijaya. Bagaimana kecintaan pada negara ditumbuhkan oleh para pendahulu kita lewat prasasti,” tuturnya.

Diharapkan hal ini bisa tertanam dalam benak pelajar dan mahasiswa. Sehingga bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Saya menyarankan pengelola museum yang ada di Sumatera Selatan untuk tetap mengikuti kemajuan zaman. Bikin modul, buku, booklet sebagai pegangan di museum sudah tepat. Tapi juga perlu menyebarkannya ke media sosial, seperti Instagram, Facebook, termasuk Youtube,” ujarnya.

Informasikan kepada kalangan anak muda di medsos tentang kearifan lokal. Tidak perlu lama durasinya. Cukup dua sampai tiga menit. Ceritakan satu sisi saja mengenai Prasasti Kedukan Bukit. Lalu share. Juga informasikan kepada lingkungan sekitar terkait kecintaan sejarah,” katanya.

Sedangkan Herintation Spd, kurator Museum TWKS Gandus Palembang menjelaskan, sudah banyak program dan langkah dilakukan pengelola Museum TWKS untuk meningkat kunjungan masyarakat ke museum tersebut.

“Di antaranya melalui tulisan, brosur dan lain sebagainya. Kita juga melakukan berbagai acara, seperti lomba, pameran, dan sebagainya. Kita menjalin hubungan dengan komunitas-komunitas yang berbau sejarah. Sudah banyak kita lakukan,” terangnya.

Ia juga mengatakan, museum juga akan berpromosi menggunakan platform Yotube. “Pastinya kita selalu mengikuti perkembangan zaman. Jangan sampai kita ketinggalan,” katanya.

Dosen Universitas Sriwijaya (Unsri) Adhitya Rol Asmi Mpd mengatakan, untuk memperbaiki karakter bangsa harus dimulai dari diri sendiri.

“Sejarah itu adalah identitas. Kalau di Islam, coba anda baca alquran. Baca artinya itu. Ada bercerita soal sejarah, tindak tanduk manusia zaman dulu,” katanya. CIT

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here