Home Sejarah Operasi Bersama Menggempur Palembang (Bagian Kedua)

Operasi Bersama Menggempur Palembang (Bagian Kedua)

0
KSAD Kol A.H Nasution Ke Palembang saat Operasi Sadar melawan PRRI. (Sumber: Ibnu Sutowo- Saatnya Sata Bercerita , Ramadhan KH , Desember 2008 , National Press Club, Jakarta)

Perang Saudara di Kalangan TNI

Dudy Oskandar

Oleh Dudy Oskandar
(Jurnalis dan Peminat Sejarah Sumatera Selatan)

“KATAKAN pada A. Husein bahwa dia telah aku pandang anakku sendiri. Tindakannya mengambil oper pemerintahan dari tangan gubernur dapat membahayakan negara. Karena mungkin jadi panglima atau komandan militer lainnya akan melakukan hal yang sama. Katakan juga kepadanya bahwa aku tidak bisa melupakan budi baik istrinya, Des,” kata Presiden Soekarno sebagaimana dikutip Hasjim Ning dalam otobiografinya yang ditulis AA Navis, Pasang Surut Pengusaha Pejuang.

Ketika sejumlah Kolonel di daerah mulai mengeluarkan tuntutan kepada pemerintah pusat pada akhir 1956, Presiden Sukarno berupaya turun tangan mengatasinya lantaran Kabinet Ali Sastroamidjojo II maupun Djuanda yang menggantikannya tak kunjung dapat menyelesaikan masalah tersebut.

Tindakan Kolonel A. Husein di Padang merupakan bentuk protesnya terhadap pemerintah pusat yang dianggap oleh sejumlah perwira daerah sebagai mengabaikan kepentingan daerah. Sentralisasi pembangunan, pembubaran Divisi Banteng, makin menguatnya PKI setelah Pemilu 1955 dan diperparah oleh mundurnya Wakil Presiden Moh. Hatta dari kursi Wakil Presiden menjadi alasan di balik protes tersebut.

Apa yang terjadi ternyata diluar kehendak MBAD, malahan Panglima TT. II/Sriwijaya Letkol Burlian memerintahkan menangkap Komandan Resimen V Mayor Djuhartono dengan menggerakan pasukan dari KMKB. Hal ini mengakibatkan Mayor Djuhartono membawa pasukanya ke Talang Betutu dalam rangka mengamankan diri.

KKMB (Garnisun) segera memerintahkan Lettu. Sainan Sagiman, dan dibantu oleh skuadron-skuadron panser pimpinan Lettu. Faisol dan Satu Batalyon Penuh Infrantri pimpinan Kapten. Abdulla yang bersama-sama untuk memimpin pasukan, serta meminta penyerahan diri Mayor Djuhartono dan pasukan yang ternyata ditanggapi dingin oleh Mayor Djuhartono.

Mayor Riacudu segera mengambil usulan untuk menempuh jalur diplomasi, mengingat kawan dan lawan adalah sesama mantan pejuang kemerdekaan dengan usulan-usulan:

Semua pasukan siap ditempat dan tidak boleh bergerak, tidak ada sebutir peluru ditembakkan, KSAD dibenarkan mendarat di Talang Betutu

Peristiwa semakin rumit dengan mendaratnya tiga fligh Dakota yang membawa Pasukan RPKAD di Talang Betutu.

Mengingat kondisi yang rumit Mayor Nawawi segera diperintahkan untuk membawa pasukan dalam jumlah besar mengepung Talang Betutu. Untunglah sebelum front terbuka,

Ketegangan mulai mencair ketika jalur diplomasi dari TT. II/Sriwijaya yang dipimpin oleh Mayor Kastubi mencapai kesepakatan dengan dihadiri oleh Kolonel A.Yani dan Kolonel Ibnu Sutowo sebagai utusan KSAD. Peristiwa ini sangat menggemparkan dan dikenal dengan peristiwa “Djuhartono”.

Setelah dimutasikanya Djuhartono dan disetujuinya tidak ada released ke media massa tentang peristiwa ini, tiba-tiba terdengar issu bahwa akan adanya serangan dari pusat terhadap daerah dan penangkapan tokoh-tokoh pergerakan daerah dari kalangan mliter. Hal ini mengakibatkan ketersinggungan unsur TT. II/Sriwijaya dan mensiagakan seluruh kekuatan mliter yang ada.

Untunglah sebelum situasi bertambah panas Lettu Sainan Sagiman diperintahkan untuk mengkonsolidasi dan mengkoordinasikan dengan Panglima Sumatera Tengah Letkol A. Husain, Panglima Sumatera Utara Letkol. Djamin Ginting serta Panglima Aceh Letkol Syamaun Gaharu, agar memberikan dukungan kepada TT. II/Sriwijaya meyakinkan MBAD masalah Sumatera Selatan dibawa ketingkat pusat dan tidak perlu dengan pengerahan kekuatan mliter.

Usulan ini didukung secara penuh oleh ketiga panglima wilayah Sumatera dengan tujuan mencegah pertempuran sesama kekuatan NKRI. Namun dalam perjalanannya, Dewan Garuda ini ternyata pecah, ada mendukung PRRI dan ada yang menolak bergabung dengan PRRI.

“Kalau sikap Pak Letkol Barlian ini abu-abu sikapnya, menyokong PRRI 100 persen tidak, tapi berpihak ke pemerintah juga tidak ,” katanya. Namun satu tokoh Sumsel yang akhirnya bergabung ke PRRI bernama Mayor Nawawi Manap.

“Dari Palembang, Pak Nawawi Manap keluar bergabung PRRI di Padang, PRRI itu pusatnya di Padang. Jadi Pak Nawawi dengan pasukannya meninggalkan Palembang, disuruh Letkol Barlian keluar Palembang untuk menghindari kehancuran kota. Karena Letkol Barlian menyatakan mendukung sepenuhnya PRRI itu pasti dihantam oleh Pemerintah Pusat, seperti Padang hancur karena di hantam pemerintah pusat, maka menghindari kehancuran Palembang, pendukung PRRI disuruh keluar dari Kota Palembang,” kata Syafruddin Yusuf.

Apalagi antara Letkol Barlian dengan Mayor Nawawi Manap adalah kawan akrab dan sama-sama pejuang dari Bengkulu.

Karena sikap lunak Letkol Barlian ini, akhirnya Pemerintah Pusat mengirimkan satu operasi bernama Operasi Sadar dipimpin Kol Ibnu Sutowo yang merupakan wakil dari Kepala KSAD Kolonel Nasution.

Akhirnya Letkol Barlian dicopot dari jabatannya sebagai Panglima T&T II / Sriwijaya dan digantikan Letkol Harun Sohar, Letkol Barlian lalu dinonaktifkan dari militer dan pangkat terakhirnya hanya Letkol. Setelah itu Dewan Garuda akhirnya bubar dengan sendirinya. ***

Sumber :

1. https://historia.id/militer/articles/operasi-bersama-gempur-sumatera
2. http://www.donisetyawan.com
3. https://www.kodam-ii-sriwijaya.mil.id/
4. https://palpres.com/2020/02/perseteruan-palembang-dan-pemerintah-pusat-tahun-1950
5. https://historia.id/politik/articles/kesaksian-hasjim-ning-tentang-penyelesaian-prri-

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here