Home Headline News Perahu Lesung dan Kemudi Kapal Mulai Dipamerkan

Perahu Lesung dan Kemudi Kapal Mulai Dipamerkan

0
Dua pengunjung memperhatikan kemudi kapal dengan berlatar belakang lukisan mural bergambar kapal zaman Kerajaan Sriwijaya di Museum Negeri Sumatera Selatan Balaputra Dewa, Sabtu (3/10).

PALEMBANG, PE – Museum Negeri Sumatera Selatan Balaputra Dewa mulai memamerkan koleksi terbarunya yang berukuran besar peninggalan zaman Kerajaan Sriwijaya dan Kesultanan Palembang Darussalam, yakni kemudi kapal dan perahu lesung, Selasa (6/10).

Kepala Museum Negeri Sumatera Selatan Balaputra Dewa Chandra Amprayadi mengatakan, kedua benda bernilai sejarah tinggi itu, dipamerkan di Ruang Pamer II.

“Kita ada beberapa ruang pameran. Yakni Ruang Pamer Galeri Malaka, Ruang Pamer I, yang berisi koleksi peninggalan zaman batu. Lalu ruang Pamer II. Di sini dipamerkan peninggalan zaman Kerajaan Sriwijaya dan Kesultanan Palembang Darussalam, yakni perahu lesung dan kemudi kapal,” ucapnya ditemui di ruang kerjanya, Senin (5/10).

Dikatakan, perahu lesung ditemukan oleh masyarakat di dasar Sungai  Ogan di Pemulutan, Kabupaten Ogan Ilir, tepatnya di kedalaman 15 meter pada awal tahun ini. Perahu lesung tersebut memiliki panjang 7,8 meter.

“Di Ruang Pamer II juga ada kemudi kapal. Setelah kami minta Balai Akeologi untuk meneliti, diperkirakan kemudi ini berasal dari abad 1 sampai 13. Kemudi ditemukan di Sungai Musi, tepatnya di wilayah Kramasam, Kertapati, Palembang, di kedalaman 35 meter,” ucapnya.

Dikatakan, kemudi ditemukan pada 2016 dan dibeli pengusaha, yang lalu menjadikannya ikon kafe di Jakabaring.

“Selama tiga tahun kami mendekatinya untuk menyerahkan kemudi kapal ke museum, karena punya nilai sejarah yang sangat tinggi,” ujarnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, kemudi kapal terbuat dari kayu ulin keras. Beratnya dua hingga tiga ton dengan panjang 7,8 meter.

“Barang tersebut masih terlihat utuh dan bagus hingga saat ini. Kami juga buat lukisan mural yang jadi latar belakang kemudi dan perahu lesung di ruang pamer,” ucapnya.

Untuk memberikan sentuhan artistik sekaligus memberikan gambaran lebih jelas kepada pengunjung mengenai benda yang dipajang, ada lukisan mural sebagai latar belakang. Seperti kemudi kapal. Di belakangnya terpampang lukisan raksasa bergambar kapal zaman Kerajaan Sriwijaya. Sedangkan yang menjadi latar belakang perahu lesung, rumah-rumah panggung masyarakat yang berada di atas air.

“Zaman dahulu di tepi Sungai Musi tumbuh pohon-pohon besar. Panjangnya bisa 200 sampai 300 meter. Di sebelahnya berdiri rumah-rumah panggung milik warga yang berada di atas air. Perahu lesung ini kami buat seolah-olah peninggalan masyarakat di pinggiran Sungai Musi,” tuturnya.

Menurutnya, pengunjung bisa melihat dari dekat dua koleksi teranyar museum tersebut mulai Selasa besok. “Kita buka Selasa sampai Minggu. Kalau Senin libur,” tukasnya.

Sementara itu, Kepala Balai Arkeologi Sumsel Budi Wiyana mengatakan, dirinya tidak bisa memastikan tahun pembuatan kedua koleksi teranyar Museum Balaputra Dewa ini. Sebab, untuk mengetahuinya harus mengambil sedikit bagian dari peninggalan sejarah sebagai sampel untuk diteliti di laboratorium. Hal tersebut tak mungkin dilakukan, karena akan merusak koleksi museum. Namun ia memperkirakan perahu lesung berasal dari abad 18.

“Saya pernah melakukan penelitian di Air Sugihan, OKI. Di sana juga ditemukan perahu lesung yang sudah rusak. Sampelnya kita kirim ke laboratorium di Jakarta. Diketahui bahwa perahu itu berasal dari abad 18,” ucapnya.

Ia mengatakan, perahu lesung Sungai Ogan dapat diketahui pertanggalan relatifnya dengan membandingkan dengan temuan lainnya di dekat perahu tersebut ditemukan. Misalnya temuan keramik; arca, manik-manik, dan lainnya.

Untuk mengetahui pertanggalan mutlak dapat dilakukan dengan mengambil sampel kayu pada bagian tertentu perahu untuk diproses di laboratorium, tapi hal ini disarankan tidak dilakukan karena bersifat destruktif atau merusak.

“Pada akhir tahun 2017, Balai Arkeologi Sumatera Selatan pernah melakukan carbon dating terhadap perahu lesung dari Sungai Komering (Kelurahan Perigi). Berdasarkan hasil pertanggalan mutlak, perahu lesung Perigi berasal dari abad 18 Masehi. Ini dapat dijadikan acuan untuk membandingkannya dengan perahu lesung Sungai Ogan,” terangnya.

Perahu tersebut dikategorikan sebagai perahu lesung karena terbuat dari kayu utuh, yang dibentuk menjadi perahu dan menyerupai bentuk lesung. Sehingga disebut perahu lesung.

Secara fisik panjang perahu 760 cm, diameter bagian tengah 88 cm, tinggi 39 cm, tebal dinding badan 3 cm, serta tebal bagian depan 29 cm dan belakang 30 cm. Pada badan perahu bagian bawah terdapat lubang yang ditutup sabut kelapa sebanyak delapan baris (depan satu, belakang dua, tengah empat).

“Jarak antar tiap baris yang berlubang 80 cm. Terdapat bagian yang menonjol berjumlah delapan buah di bagian kiri dan kanan dengan ukuran panjang 15 cm, lebar 10 cm, dan jarak antar tonjolan 60 cm,” terangnya.

Sedangkan kemudi kapal, ia menerangkan, diperkirakan dibuat pada abad 1 sampai 13 Masehi. Dilihat dari cirinya, dipastikan model tradisi Asia Tenggara. Cirinya antara lain, badan perahu/kapal berbentuk V, lunas yang berlinggi, haluan dan buritan biasanya berbentuk simetris, tidak ada sekat-sekat kedap air di badan perahu/kapal dan mungkin tidak ada sekat-sekat yang sebenarnya. Dalam seluruh proses pembuatan sama sekali tidak dipakai besi, kayu-kayu disambung dengan pasak kayu, dan kemudi ganda di kiri-kanan buritan.

“Ciri-ciri yang terdapat pada kemudi kapal Keramasan menunjukkan kemudi kapal tradisi Asia Tenggara. Perahu atau kapal tradisi Asia Tenggara berkembang pada abad 1 – 13 masehi,” ujarnya.

Di sekitar Palembang, ia melanjutkan, pernah ditemukan perahu di Samirejo (Mariana) dan Kolam Pinisi yang dari pertanggalan mutlak berasal dari abad 7 masehi. Selain papan perahu, di Samirejo juga diketemukan kemudi.

“Untuk mengetahui pertanggalan atau usia mutlak kemudi kapal dapat dilakukan dengan metode carbon dating. Metode ini dapat dilakukan di dalam negeri (Jakarta dan Bandung) dan luar negeri (Selandia Baru, AS),” tukasnya.

Ia menyambut baik keputusan Museum Balaputra Dewa, yang akhirnya memamerkan koleksi teranyarnya itu kepada khalayak.

“Bagus itu. Jangan hanya disimpan saja. Tapi juga dipamerkan kepada masyarakat,” tukasnya.

Muhammad Idris, pelukis mural, mengatakan, ilustrasi gambar yang jadi latar belakang barang koleksi museum adalah rumah panggung dan kapal Sriwijaya.

“Saya pilih objek tersebut karena di pinggir sungai biasanya ada rumah panggung. Sedangkan latar belakang kemudi kapal, saya lukis kapal zaman Kerajaan Sriwijaya. Paling tidak, itu mendekati gambar nyatanya,” ucapnya.

Meski mengaku belum pernah melihat kapal Sriwijaya yang sesungguhnya, namun diperkirakan bentuknya seperti pada lukisannya.

“Referensinya dari relief-relief candi. Pembuatannya memakan waktu sekitar 15 hari,” tukasnya.

Awalnya ia dibantu temannya untuk menyelesaikan kedua lukisan raksasa tersebut. Namun masuk tahap finishing dilakukannya sendiri.

“Saya sudah biasa bikin lukisan mural. Persisnya sejak awal tahun 2015. Lumayan banyak orderan. Selain museum, kita juga dapat order dari kafe,” pungkasnya. CIT

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here