Home Sejarah Perkembangan Tentara Ditengah Gelombang Revolusi Palembang (Bagian Keempat)

Perkembangan Tentara Ditengah Gelombang Revolusi Palembang (Bagian Keempat)

0
Masyarakat Palembang mencari sisa-sisa barang-barang yang dapat diambil, pasca Palembang digempur oleh Belanda dalam Perang Lima Hari Lima Malam, Januari 1947 (Sumber Poto: https://www.nationaalarchief.nl)

 

Dudy Oskandar

Oleh Dudy Oskandar
(Jurnalis dan Peminat Sejarah Sumatera Selatan)

SEDIKIT yang tahu bahwa pada bulan Januari 1947, Belanda melakukan serangan dahsyat dan pembunuhan di Kota Palembang. Pertempuran yang terjadi di salah satu wilayah Sumatera Selatan tersebut dikenal dengan pertempuran ‘Lima Hari Lima Malam’ di Palembang. Pertempuran ini terjadi pada tanggal 1 hingga 5 Januari 1947.

Sayangnya, pembantaian di Palembang ini tidak dipublikasikan secara utuh dalam historiografi Belanda dan Indonesia.

Pada tanggal 2 April pertempuran diakhiri dengan diadakannya pertemuan antara pemimpin tentera Sekutu Brigadier General Hutchinson, dengan pemimpin Indonesia yang dikepalai oleh Residen Palembang.

Dalam pertemuan ini, pucuk pimpinan tentara Sekutu disini berharap pertempuran yang serupa itu jangan lagi terjadi dihari-hari yang akan datang.

Kebimbangan serta kekhawatiranlah yang menyebabkan telah terjadinya insiden tersebut, Sekutu mengharapkan, supaya tumpukan-tumpukan karung pasir, barrikade jangan dilakukan oleh pihak pemuda dijalan raya, yang umumnya harus dilalui oleh tentara Sekutu.

Ada saja alasan yang dikemukakan pihak Sekutu untuk menyalahkan pihak Republik. Keadaan ini tidak mendinginkan suasana yang senantiasa memanas.

Insiden yang satu biasanya disusul dengan insiden yang lain. Kemudian digelar perundingan. Demikianlah seterusnya.

Tentara Belanda makin lama makin bertambah banyak di Kota Palembang disebabkan karena kedatangannya pada tanggal 29 Oktober 1946 untuk yang kedua kalinya dengan membonceng dibelakang tentara Inggris.

Pendaratan ini dilakukan di pelabuhan di depan gedung DPR Palembang (sempat menjadi kantor Staf T.T. II termasuk Jambi) yang berjumlah 1300 orang tentara, yang dinamakan pasukan Gajah Merah.

Semenjak itu keadaan Kota Palembang menjadi genting. Provokasi acap kali terjadi sehingga menimbulkan “insiden”.

Seperti perang 5 hari 5 malam di Kota Palembang, mulai dari 1 hingga 5 Januari 1947. Dalam pertempuran ini tentara Belanda mempergunakan bom, granat, meriam, mortir dan sebagainya, membunuh rakyat Kota Palembang, yang sebagian besar tidak bersenjata.

Banyak rumah, pohon kayu rusak parah. Gedung mulai dari persimpangan empat Jalan Tengkuruk sampai dipersimpangan tiga dijalan Jenderal Sudirman, toko antara toko Koenes & Hoogerwaard dan Methodist Mission School rusak karena sasaran peluru tentara Belanda.

Di Pasar 16 Ilir puluhan toko terbakar hebat hingga menjadi tumpukan arang dan abu, musnah dimakan api. Dan dikampung-kampung juga banyak kebakaran dan kerusakan terjadi, sehingga banyak penduduk menjadi korban.

Pertempuran yang sangat hebat yang belum pernah terjadi di Kota Palembang, sungguh menjadi suatu ujian bagi bangsa Indonesia dan akan menjadi ruangan istimewa dalam sejarah perkembangan Kota Palembang semenjak diproklamirkan kemerdekaan Indonesia.

Pengorbanan sungguh banyak sekali, baik materil maupun moril dan jiwa. Pertempuran ini terus merembet sampai ke daerah Gasing, ± 15 km dari Kota Palembang.

Dari pihak Belanda banyak djuga mengalami kerugian. Satu kapal pemburu dan beberapa buah motorboot tenggelam di Sungai Musi.

Gedung radio serta alat pesawatnya di Talang Betutu hancur sehingga tidak dapat dipergunakan lagi. Kerugian djiwa ditaksir hampir satu batalyon bagi tentara Belanda.

Tank baja dan beberapa buah truk hancur dan tak dapat dipergunakan lagi. Dalam pertempuran ini, dari pihak tentara/rakyat yang bertempur disekitar Charitas telah dapat merebut beberapa pucuk alat senjata tentara Belanda. ***

Sumber:

1. Republik Indonesia, Propinsi Sumatera Selatan, Kementrian Penerangan, Siliwangi-Jakarta, Agustus 1954
2. Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Sejarah Berita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Restu Gunnawan dan Kawan-Kawan, 2015
3. https://tirto.id/cara-belanda-merespons-proklamasi-1945
4. https://historia.id/militer/articles/desersi-jepang-masa-perang-kemerdekaan
5. https://beritapagi.co.id/2018/07/07/pembunuhan-yang-dibungkam-di-palembang

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here