Home Sejarah Ekspedisi Sumatera Tengah 1877-1879 (Bagian Keempat belas)

Ekspedisi Sumatera Tengah 1877-1879 (Bagian Keempat belas)

0
Tim penjelajahan bermalam dengan tenda di kaki Gunung Kerinci. (Sumber /hak cipta: National Gallery of Australia / Universiteit Leiden)
Dudy Oskandar.

Oleh Dudy Oskandar
(Jurnalis dan Peminat Sejarah Sumatera Selatan)

Di Akhir Ekspedisi Sumatera Tengah

SETELAH beristirahat sebentar, sampailah mereka di jalan yang terbentang di antara Moeara Laboeh dan XII Kota. Pk 14.30. Dalam waktu singkat, mereka sampai pula di Doerian Taroeng.

Beberapa orang keluar dan mengundang mereka untuk mampir ke rumah Toeankoe. Veth sudah menghilang karena sejak tadi, ia berjalan mendahului rombongan.

Ia sendiri mampir ke rumah Toeankoe dan menikmati segala kudapan yang disajikan oleh isteri tuan rumahnya. Van Hasselt menyalami semua tangan yang disodorkan kepadanya. Pertanyaan datang bertubi-tubi dari segala arah dan ia berusaha menjawab semuanya. Tanpa terasa, hari sudah sore. Menjelang pk 17.00 barulah ia sampai di gudang kopi negari, tempatnya menginap.

Dari tiga orang kuli yang tersisa di dalam tim penjelajahan, dua orang muncul malam itu juga. Kuli yang ketiga, Si Akal, baru datang keesokan harinya. Ia tersesat, kemalaman dan terpaksa menginap semalam lagi di dalam hutan. Untunglah namanya Si Akal dan ia dapat menemukan jalan pulang ke gudang kopi.

Kini mereka puas telah mendaki dan melakukan pengamatan di gunung Korintji dan sampai ke tempat tertinggi . Akan tetapi, rasa senang dan puas itu pupus seketika setelah membaca berita mengenai kematian mendadak rekan mereka, Schouw-Santvoort.

Pada tanggal 15, keesokan harinya, van Hasselt menyibukkan diri dengan menulis aneka surat dan membereskan administrasi penjelajahan. Ia membayarkan honor para pemandu: ƒ3,50 per orang. Veth, yang tugasnya sudah selesai di daerah ini, berangkat beberapa hari kemudian ke Moeara Laboeh. Beberapa hari sebelumnya, enam orang kuli sudah berangkat duluan, membawa barang-barang dan peralatannya. Sementara itu, Snelleman pun sibuk mempersiapkan keberangkatannya dari Bedar Alam ke Loeboe Gedang. Ia tiba tanggal 19 Desember.

Di Moeara Laboeh, Veth menyelesaikan tugas-tugas yang masih harus diselesaikannya di dusun itu, Soerian dan Alahan Pandjang. Sambil menunggu jawab atas suratnya yang terakhir, van Hasselt dan timnya bersiap-siap untuk menyusul Veth bila pemerintah menolak permohonannya.

Tambahan lagi, anggaran ekspedisi sudah semakin menipis. Dengan berat hati, van Hasselt sudah harus menentukan waktu untuk meninggalkan tempat ini, kembali ke Padang dan mengakhiri penjelajahan.

Waktu beberapa hari yang masih tersisa di Loeboe Gedang dihabiskan dengan menyenangkan. Van Hasselt merasa mendapatkan waktu tambahan untuk mengenal lebih baik penduduk daerah itu.

Dari hari ke hari, van Hasselt dan timnya menunda-nunda keberangkatan dari Moearo Laboeh. Beberapa orang menjanjikan untuk memberikan atau menjual benda-benda etnografi yang diperlukan untuk melengkapi. Akan tetapi, yang ditunggu-tunggu ternyata tak kunjung datang. Barangkali mereka masih entah berapa lama menunggu, kalau tidak datang surat dari Komite Penjelajahan pada tanggal 10 Januari. Surat menekankan bahwa barang-barang koleksi yang sudah ada hendak dikirimkan secepatnya ke negeri Belanda. Tak ada kemungkinan untuk menunda-nunda lagi. Esok, mereka berangkat.

Rencana penjelajahan ke Talau pun terpaksa dibatalkan. Jawaban atas permohonan izin ke daerah itu masih saja belum datang, sementara informasi mengenai keadaan jalan ke sana semakin lama semakin buruk.

Banyak jembatan yang terbuat batang-batang pohon raksasa terbawa arus deras sungai yang meluap. Hanya satu jembatan saja yang tersisa. Luapan arus sungai pun akan menciutkan hati perenang yang paling jagoan.

Di darat, jalan-jalan setapak yang seharusnya ditelusuri sudah menjadi kubangan lumpur yang acapkali membenamkan kaki pejalan sampai ke lutut. Beberapa orang yang pergi dari XII Kota ke Talau terpaksa berbalik arah, pulang lagi, karena tak dapat meneruskan perjalanan..

Setelah memohon diri pada tuan rumah mereka, Welsink, dan kenalan-kenalan lainnya, mereka naik kuda dan berangkat menuju Soerian.

Stebler, kepala perkebunan kopi di Moeara Laboeh, mereka dapat menyewa dua buah pedati untuk mengangkut peti-peti penjelajahan ke Alahan Pandjang. Welsink meminjamkan sebuah pedati kecil tambahan karena ternyata barang bawaan mereka terlalu banyak. Ketiga pedati itu khusus untuk mengangkut koleksi penjelajahan; pakaian, perlengkapan pribadi serta alat-alat rumahtangga penjelajahan dibungkus dan diangkut oleh 17 orang kuli.

Untunglah cuaca baik. Matahari bersinar di balik awan (sehingga tak terlalu terik) dan hujan tidak turun. Mereka mengambil jalan ke kiri karena van Hasselt masih ingin mengukur suhu air di mata air panas di Baloem.

Beberapa orang petani membajak sawah dengan kerbau. Jalan itu tampaknya jarang dilewati orang sehingga ditumbuhi ilalang tinggi. Di Loeboe Sampir, mereka melewati sebuah pondok sederhana: lapau. Melihat ke sekeliling, van Hasselt merasa heran: siapa yang biasanya datang ke lapau di padang ilalang itu?

Menjelang siang, mereka tiba di Soerian, dusun yang terletak di dinding gunung, di ketinggian kira-kira 1000 meter di atas laut. Kepala perkebunan kopi di Soerian mengundang mereka menginap. Itu merupakan kesempatan baik untuk mempelajari jalannya sebuah perkebunan kopi dan van Hasselt menerima undangan itu dengan senang hati.

13 Januari. Ke Lolo. Veth menginap di dusun ini, di rumah Kontrolir yang sekarang kosong sejak Moeara Laboeh menjadi tempat kontrolir bertugas. Luka-luka di kakinya yang sebelah sudah banyak membaik, tetapi yang di kaki satu lagi, menjadi lebih parah. Awalnya, oleh luka-lukanya itu, ia tak dapat berjalan sama sekali. Kini, terpincang-pincang, ia sudah mengenakan sepatu bot di salah satu kaki, sementara kaki yang satu masih terbungkus perban. Karena Veth merasa sudah siap, keesokan harinya, mereka meneruskan perjalanan.

Di dekat dusun, jalan bercabang ke kanan, ke Talang Berboenga. Setelah menyeberangi Batang Hari, jalan itu terus ke arah barat laut mengikuti aliran sungai. Sampai Ajer Dingin, mereka melewati kebun-kebun kopi yang subur. Jalan itu mulai menanjak ke daerah Alahan Pandjang yang lebih dingin. Di beberapa tempat, seperti Soengei Gando di tepian sebuah anak Batang Hari, lembah melebar dan lingkungan alamnya tampak lain. Di dusun itu terdapat beberapa rumah sederhana yang dikelilingi oleh sawah. Kaum perempuan dan gadis-gadis dusun itu sedang menanam benih.

Mereka melewati Batoe Gadjah, Ajer Dingin, dan semakin mendaki mendekati Danau di Atas. Pemandangan ke danau luas itu, berlatar belakang Talang, masih saja memukau. Lalu, jalan membelok ke Alahan Pandjang. Mereka tiba empat jam kemudian. Keesokan harinya, Veth tiba pula. Pakaiannya basah kuyup oleh hujan. Walau cuaca tidak terlalu mendukung, ia masih berusaha membuat foto daerah itu. Yang lainnya melanjutkan pekerjaan mempersiapkan barang-barang koleksi untuk dibawa ke Belanda. Pekerjaan mereka bertambah ketika ketiga pedati membawa barang dari Moeara Laboeh sampai pula.

19 Januari. Barang-barang sudah siap. Van Hasselt berangkat ke Solok untuk menemui Asisten-Residen yang selama ini berfungsi sebagai bendahara penjelajahan.

Setelah barang-barang siap dipak, barulah nyata betapa banyak tenaga yang diperlukan untuk membawa barang-barang itu ke Padang. Namun, tak ada jalan lain. Dengan bantuan Kepala Laras, mereka berhasil mengupah 45 orang (ƒ2,50 per orang) untuk keperluan itu. Kini, yang masih harus diatur adalah sesuatu yang dapat melindungi peti-peti itu dari siraman hujan. Kain layar yang selama penjelajahan digunakan sebagai atap kemah ternyata tidak cukup banyak. Penduduk setempat biasanya menggunakan anyaman daun pandan untuk itu, tetapi tak banyak tanaman pandan di Alahan Pandjang. Apa akal? Tak ada jalan lain. Mereka terpaksa memesan daun pandan dari Sarik Alahan Tiga. Duri-duri dedaunan itu dibersihkan, lalu para kuli menganyamnya menjadi lembaran pembungkus peti. Lembaran anyaman itu dijahit rapi.

Satu per satu, peti-peti itu siap. Pada tanggal 18 Januari, 25 peti diberangkatkan; 19 Januari, 25 peti lagi siap dan diberangkatkan; 20 Januari, 5 peti dan keesokan harinya, 11 peti siap. Total enam puluh enam peti yang dibawa oleh para kuli, berjalan kaki dari Alahan Pandjang sampai ke Padang. ***

Sumber :

1. Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia / Universiteit Leiden
2. https://indonesia-zaman-doeloe.blogspot.com/search?q=sumatera+selatan+
3. http://knag-expedities.nl/pages/voorwerpen.php
4. https://www.kajanglako.com/id-27-kategori-telusur.html
5. Van Hasselt. ‘Volksbeschrijving en Taal,’ dalam Midden-Sumatra: Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, 1877-1879 (Prof PJ Veth, ed). Leiden: EJ Brill. 1882

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here