Home Sejarah Ekspedisi Sumatera Tengah 1877-1879 (Bagian Kelima Belas)

Ekspedisi Sumatera Tengah 1877-1879 (Bagian Kelima Belas)

0
Makam J. Schouw Santvoort. Sumber foto : National Gallery Of Australia (NGA)
Dudy Oskandar

Oleh Dudy Oskandar
(Jurnalis dan Peminat Sejarah Sumatera Selatan)


Kematian J. Schouw Santvoort

SEBELUM mengakhiri tulisan ini, ada baiknya dijelaskan mengenai kematian pemimpin ekspedisi Sumatera Tengah yang mendadak Letnan Komandan J. Schouw Santvoort.

Malam, menjelang 22 November 1877, Schouw-Santvoort tiba-tiba diserang suatu penyakit tak terduga. Lelaki Belanda itu akhirnya menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Selama berada di Djambi, ia tinggal di rumah Niessen (Agen Kepolisian Djambi) dan semakin lama semakin dianggap sebagai anggota keluarga dan teman yang baik. Walaupun pada awalnya ia agak tertekan karena memikirkan banyaknya hambatan, terutama yang disebabkan oleh berita-berita mengkhawatirkan mengenai orang-orang di daerah hulu yang menentang kedatangannya ditambah dengan sungai yang terus-menerus dangkal kekurangan air. Namun, karena hambatan-hambatan itu satu per satu dapat diatasi, ia kembali ceria dan bersemangat.

Pada malam hari tanggal 22 November, ia mengobrol seperti biasa. Ia tampak puas dan sehat-walafiat. Kira-kira pk 23.30, ia pamit untuk beristirahat dan tidur.

Itu memang lebih cepat dari kebiasaannya. Biasanya ia tidur setelah setelah jam menunjukkan waktu tengah malam. Tak ada yang tahu pasti kejadian setelah itu.

Para pejabat Hindia-Belanda di Loeboe Gedang mengetahui kematian J. Schouw Santvoort pada tanggal 24 Desember 1887. Surat itu ditulis oleh Nakhoda Makkink dan berbunyi sebagai berikut:

Djambi, 23 November 1877
Kepada yang terhormat
Toean van Hasselt
Di Solok

Dengan hormat,
Dengan berat hati, saya terpaksa mengabarkan kepada Anda bahwa suatu pukulan berat telah menghantam Ekspedisi.

Hari ini, seperti hari-hari lalu, saya sudah turun ke darat (dari kapal) pagi-pagi untuk mengerjakan pemetaan Soengei Tongkal. Karena biasanya Toean Schouw-Santvoort selalu sudah bangun dan siap bekerja pagi-pagi sekali, saya merasa sangat heran bahwa kali ini, sampai pk 09.00, beliau masih belum menampakkan diri walau pembantunya sudah berkali-kali mengetuk pintunya.

Ketika hari sudah semakin siang, terbersit di pikiran bahwa barangkali malam sebelumnya, beliau sakit. Karena itu, saya memutuskan untuk mencari tau mengapa beliau belum juga muncul. Toean Niessen, yang juga heran karena sama sekali belum melihat Toean Schouw-Santvoort hari itu, memutuskan untuk mengetuk kamarnya dan membangunkannya.
Namun, sebelum hal itu dapat dilakukan, Oedjir—Djoeroetoelis—datang dengan wajah pucat dan berseru: “Toean meninggal dunia!”

Tampaknya, Toean Schouw-Santvoort meninggal dunia dengan tenang. Wajahnya damai dan tidak menunjukkan tanda-tanda sempat menderita atau kesakitan. Di tempat tidur, beliau tampak seperti orang yang sedang tidur.

Dengan rasa ingin tahu dan kekhawatiran besar, kami menunggu keputusan Perhimpunan (KNAG) mengenai apa yang selanjutnya akan dilakukan. Tak mudah untuk menemukan seorang pemimpin ekspedisi seperti almarhum. Sampai saat itu, segala-sesuatu akan dilaksanakan setelah bermusyarawah dengan Toean Niessen.

Hormat saya,
JH Makkink, Nakhoda.
NB: saya lampirkan surat tertanggal 11 November yang belum selesai ditulis Schouw-Santvoort untuk van Hasselt.

Ketika Niessen masuk ke kamar tidur itu, tubuh Schouw-Santvoort sudah kaku dan terasa dingin.

Seorang perwira kesehatan yang diperbantukan pada detasemen militer Hindia-Belanda di Djambi melakukan otopsi atas jasadnya. Hasil pemeriksaannya menunjukkan bahwa Schouw-Santvoort meninggal dunia karena serangan jantung dan keadaan paru-parunya pun parah.

Tak ada tanda-tanda apa pun bahwa kematiannya disebabkan oleh tindak kekerasan; lagipula, tak ada siapa pun yang patut dicurigai sebagai orang yang (berniat) melakukan tindak kekerasan/pembunuhan terhadap Schouw-Santvoort dan sebelum kematiannya, ia selalu didampingi oleh Niessen.

Walaupun demikian, karena tak seorang pun melihat adanya tanda-tanda gangguan jantung, kematian Schouw-Santvoort yang masih muda itu tentunya sangat mengejutkan.

Setelah kembali ke negeri Belanda, ketika dipanggil oleh Komisi Ekspedisi Sumatera Tengah (yang sengaja dibentuk untuk meneliti kematian Schouw-Santvoort), hanya Masinis Herman saja yang mengaku pernah mengamati adanya tanda-tanda fisik bahwa Schouw-Santvoort mengidap sesuatu penyakit. Akan tetapi, bila ditanya, Schouw-Santvoort selalu mengatakan bahwa tak ada waktu baginya untuk bersakit-sakit.

Pada tanggal 24 November 1877, pk 10.00, Schouw-Santvoort dikebumikan dengan upacara militer. Ia diantar ke peristirahatannya yang terakhir oleh iring-iringan panjang: para pejabat dan perwira militer Hindia-Belanda di Djambi dan para kepala adat Djambi (Pangeran Wiro Koesoemo berjalan paling depan). Di kemudian hari, sebuah pagar putih yang sederhana dibangun mengelilingi kuburan bertanda salib. Di salib itu, Masinis Hermans menuliskan:

Di sini beristirahat
Letnan Laut kelas 2
JOHANNES SCHOUW-SANTVOORT
Wafat pada tanggal 23 November 1877
Di Djambi

Schouw-Santvoort, yang lahir di Bennekom (negeri Belanda) pada tanggal 10 Juli 1846, meninggal dunia pada usia 31 tahun.

Setelah kematian Schouw-Santvoort, penjelajahan Ekspedisi Sumatera dimulai lagi. Laporan penjelajahan yang selanjutnya terutama ditulis oleh van Hasselt. Sementara Schouw-Santvoort dan timnya menjelajah di sungai-sungai sekitaran Djambi, sebagian tim menjelajah di Dataran Tinggi Sumatera Barat. ***

Sumber :

1. Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia / Universiteit Leiden
2. https://indonesia-zaman-doeloe.blogspot.com/search?q=sumatera+selatan+
3. http://knag-expedities.nl/pages/voorwerpen.php
4. https://www.kajanglako.com/id-27-kategori-telusur.html
5. Van Hasselt. ‘Volksbeschrijving en Taal,’ dalam Midden-Sumatra: Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, 1877-1879 (Prof PJ Veth, ed). Leiden: EJ Brill. 1882
6. PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here