Home Sejarah Ekspedisi Sumatera Tengah 1877-1879 (Bagian Kesembilan)

Ekspedisi Sumatera Tengah 1877-1879 (Bagian Kesembilan)

0
Istri dan salah satu anak dari Dipati Rawas. Sumber foto Universiteit Leiden

Tindik Telinga, Mencat Kuku, hingga Memelihara Kumis dan Janggut

Dudy Oskandar

Oleh Dudy Oskandar
(Jurnalis dan Peminat Sejarah Sumatera Selatan)

TAK beda dengan perempuan di Eropa, perempuan Melayu juga suka mengenakan perhiasan kuping. Mereka menindik daun telinganya.

Daun telinga anak-anak perempuan ditindik pada umur sekitar 7 atau 8 tahun. Bila sudah saatnya telinga ditindik, seorang dukun perempuan didatangkan.

Ada dua cara untuk menindik telinga. Pada cara yang pertama, dukun perempuan itu mencubit daun telinga si anak perempuan dengan keras supaya nantinya tidak terasa sakit.

Dukun itu kemudian mencari ‘poese’, yaitu tempat yang akan ditindik. Dengan menggunakan jarum atau duri landak, poese itu ditusuk. Cara kedua lebih sering dilakukan.

Bagian dalam sebuah enau dipotong membentuk semacam cincin terbuka dengan ujung-ujung yang ditajamkan. Cincin itu dijepitkan di daun telinga, di bagian yan hendak dilubangi.

Cincin enau itu dibiarkan tergantung selama kira-kira empat hari, lalu tempat jepitannya dilubangi dan cincin itu diputar sehingga betul-betul tergantung di dalam lubang tindikan.

Untuk menjaga agar tidak meradang, lubang tindikan diolesi dengan kunyit. Setelah 5-8 hari, cincin enau tadi diganti dengan cincin lain yang terbuat dari sejenis daun rumput: ‘keliki kandji’ atau ‘pimping’ sampai lubang tindikan betul-betul pulih.

Untuk melebarkan lubang tindikan itu, cincin rerumputan itu diganti lagi dengan tali rotan atau segulung daun ‘djaroeng’.

Orang Melayu juga memiliki suatu kebiasaan yang kemungkinan diambil alih dari orang Arab, yaitu mencat kuku. Biasanya kuku jari tangan maupun kaki dipotong pendek.

Kebiasaan jelek menggigit-gigit kuku tidak tampak dilakukan oleh orang Melayu. Anak muda, anak-anak dan orang tua dari kalangan berada mencat merah kuku tangan dan kaki.

Pada malam hari, setelah jari-jari kaki dan tangan dibersihkan, kuku-kuku dilumuri dengan ramuan dedaunan hinai yang dicampur dengan arang. Setelahnya, ujung-ujung jari dibungkus dengan daun bingkasok atau daun puding supaya ramuan daun hinai tadi tidak terlepas ketika tidur.

Ada dua jenis daun hinai yang dapat digunakan sebagai pewarna kuku: daun paroe hinai (sejenis rempah) dan daun hinai parasi (sejenis pohon). Biji kasoembo juga digunakan sebagai pewarna, tetapi pewarna ini cepat hilang bila terkena air.

Raut wajah lelaki Melayu tampak seperti perempuan, itu dari pengamatan van Hasselt. Kesan ini, katanya, mungkin muncul karena tak banyak tampak orang yang berkumis atau berjanggut.

Tubuh lelaki Melayu tak banyak ditumbuhi bulu. Hanya kaki saja yang biasanya berbulu. Beberapa lelaki tua memiliki janggut tipis; lelaki-lelaki muda terkadang memelihara kumis, yang juga tipis.

Di daerah Limoen dan Rantau di Baroew, kaum lelaki berkumis memoles kumisnya dengan minyak atau lilin, lalu memelintir ujung-ujung kumis itu ke atas.

Ada kebiasaan menggunakan pencabut bulu (pinset) yang disebut ‘sapi djanggoei’ untuk mencabuti bulu-bulu yang tumbuh di dagu, ketiak dan kemaluan. Ini dilakukan oleh laki-laki maupun perempuan. Yang aneh, helai-helai bulu yang tumbuh pada kutil di wajah dan leher dibiarkan tumbuh memanjang. ***

Sumber :

1. Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia / Universiteit Leiden
2. https://indonesia-zaman-doeloe.blogspot.com/search?q=sumatera+selatan+
3. http://knag-expedities.nl/pages/voorwerpen.php
4. https://www.kajanglako.com/id-27-kategori-telusur.html
5. Van Hasselt. ‘Volksbeschrijving en Taal,’ dalam Midden-Sumatra: Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, 1877-1879 (Prof PJ Veth, ed). Leiden: EJ Brill. 1882

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here