Home Sejarah Ekspedisi Sumatera Tengah 1877-1879 (Selesai)

Ekspedisi Sumatera Tengah 1877-1879 (Selesai)

0
Sultan Jambi, Ahmad Nazaruddin, bertemu dengan tim ekspedisi di Dusun Tengah. Sumber foto : National Gallery Of Australia (NGA)

Oleh Dudy Oskandar
(Jurnalis dan Peminat Sejarah Sumatera Selatan)

Dudi Oskandar

Ekspedisi Sumatera Tengah Berakhir

PAGI itu terasa dingin. Bumi diselimuti kabut dan hujan turun merintik. Begitu tebalnya kabut itu sehingga daratan di seberang danau pun tak tampak.

Tiba-tiba, entah mengapa, kuda hitam yang ditunggangi Veth berulah, berbalik arah dan lari meninggalkan mereka.

Memang, kuda-kuda penjelajahan itu sukar dikendalikan karena tali-tali kendali, pelana dan perlengkapan berkuda lainnya sudah aus karena termakan hujan, panas dan entah apa lagi selama penjelajahan.

Di Pakan Rebaa mereka tidak berhenti. Mereka terus saja menelusuri jalan menanjak menuju Talang. Dulu, ketika mereka melewati jalan itu, keadaannya masih baik. Akan tetapi kini, oleh banyaknya hujan yang turun, jalan itu berlumpur dan licin.

Setelah melewati Danau di Talang, mereka berpisah. Veth berbelok menuju Talang untuk mendaki gunung itu dan menginap sekali lagi di rumah pemandu yang dulu mengantarnya. Ia juga hendak membuat beberapa foto daerah itu. Snelleman mengarahkan langkahnya ke Loeboe Soelasi, dusun yang terletak di jalan baru dari Padang ke Solok.

Lembah Ajer dimulai ketika daerah hutan ditinggalkan. Lembah itu subur dengan banyak sawah dan penduduknya pun banyak yang tinggal di beberapa dusun.

Kampung Baroes merupakan salah sebuah dusun di antaranya. Banyak rumah di dusun itu dihiasi dengan ukiran-ukiran kayu yang cantik. Sebuah jalan setapak berbelok-belok melintasi sawah-sawah. Lelaki dan perempuan sibuk bekerja di persawahan itu. Di tempat mana sungai berbelok ke arah barat, menyelip di celah bukit, mereka meninggalkan lembah itu. Loeboek Selasie tak jauh dari sana .

Van Hasselt, yang sudah tiba sejam sebelumnya, sudah menunggu mereka di dusun itu. Ia berada di rumah Faber, mantan pengawas tambang di daerah itu. Oleh meledaknya dinamit yang meledak dini, lelaki Belanda itu menjadi cacat dan tak dapat lagi melakukan tugasnya. Namun demikian, rupanya ia masih terus tinggal di dusun itu. Ia tinggal di sebuah lapau yang diubahnya menjadi rumah tinggal. Malam itu, di sanalah mereka menginap.

Siang itu, Faber—yang kini menjadi pengawas kebun kopi, mengantar mereka melihat-lihat pepohonan kopi serta buruh-buruh perkebunan yang membersihkan lahan untuk ditanami bibit kopi yang baru.

Sepuluh bulan lalu, ketika mereka melewati jalan baru itu, beberapa bagiannya belum cocok dilewati pedati. Kini, jalan itu sudah selesai dibangun.

Setelah 16 tahun, terhubunglah Padang dan Solok secara langsung. Sebelumnya, perjalanan dari kedua tempat itu dilakukan melalui jalan yang melewati Padang Pandjang dan Singkarah. Jalan yang baru memperpendek jarak sampai separuhnya.

Jalan penghubung di antara Loeboe Prakoe dan Tindjoe Laut, yang sedang dikerjakan, menuntut perhatian khusus agar dapat dilewati oleh kendaraan beroda seperti gerobak dan pedati. Medannya lebih sulit, akan tetapi orang-orang yang membangun jalan itu dapat menikmati pemandangan yang sangat indah. Itu kalau mereka masih ada waktu, tenaga dan minat untuk menikmatinya.

22 Januari 1878. Pagi-pagi sekali mereka sudah meninggalkan Loeboe Soelasi. Jalan ke Padang sudah menunggu. Dalam sekian bulan menjelajah di Sumatera tengah, mata mereka sebetulnya sudah terbiasa melihat pemandangan yang indah.

Keasrian alam boleh dikatakan sudah menjadi makanan sehari-hari. Namun kini, mereka terdiam. Batin berdecak kagum.

Jalan berbelok dan di depan mata, pepohonan seolah-olah saling menjauh sehingga dinding Boekit Barisan tampak dengan sungai di kakinya.

Di Padang, mereka pertama-tama mengetuk pintu Gubernur. Lelaki itu gembira betul melihat tamunya dan besar rasa ingin tahu tentang segala yang dialami oleh mereka dalam penjelajahan. Tetapi, di mana mereka dapat menginap? Tak ada rumah yang dapat disewa oleh Gubernur. Namun, untunglah ada orang lain menawarkan sebuah kosong di sebelah rumahnya sendiri sebagai tempat menginap.

Hari itu belum seorang pun kuli tiba. Karena itu, mereka tak dapat mengatur dan membongkar barang dan keperluan untuk di rumah itu. Karena itu pula, ketika Gubernur mengajak mereka makan siang, tak ada yang menampiknya.

Veth tiba di Padang pada hari itu juga. Ia tampak puas. Cuaca di dinding gunung di dekat Talang ternyata lebih baik. Ia berhasil membuat foto-foto yang yang bagus.

Kapal Tambora, milik perusahaan perkapalan Nederlandscb-Indiscbe Stoomvaart-Maatscbappij yang akan ditumpangi oleh Snelleman dan barang-barang penjelajahan akan berangkat menuju Batavia pada tanggal 26 Januari.

Tiga hari terakhir di Padang, semua orang bekerja keras seperti kuli untuk menyiapkan peti-peti terakhir: 68 buah peti berisi koleksi dan catatan yang merupakan bukti-bukti telah dilakukannya penjelajahan itu.

Akhirnya, tepat waktu, semua barang dapat dimasukkan ke dalam peti yang langsung ditutup rapat-rapat. Lalu, peti-peti itu diangkut ke dermaga dan dinaikkan ke atas perahu. Kemudian, perahu-perahu itu bertolak dari dermaga untuk mengantarkan muatannya ke kapal Tambora.

Pk 08.00. 26 Januari 1878. Van Hasselt dan Veth berdiri di tepi dermaga. Mereka melambaikan tangan pada rekan-rekan seperjalanan di atas Tambora.

Perpisahan itu terasa berat. Berbulan-bulan, mereka sudah berbagi hari dan malam, dalam suka dan duka, di dalam gelapnya hutan, teriknya mentari, dan berbasah-basah dalam penyeberangan sungai dan di bawah curah hujan yang deras.

Anggota tim yang berbangsa Melayu tampak berat juga mengucapkan selamat jalan kepada ‘Toean Berdjanggoet’—nama yang mereka berikan kepada Snelleman.

Dua hari kemudian, Kapal Tambora merapat di pelabuhan di Batavia. Snelleman segera mengurus perjalanan selanjutnya. Untunglah Kapal Prins Hendrik, yang sudah setengah penuh dengan muatan, masih dapat menerima peti-peti penjelajahannya di dalam lambungnya.

2 Februari 1878. Asap mengepul, menyatu dengan awan-awan putih di atas laut. memutar haluan. Kapten Kapal Tambora membunyikan pluit perpisahan. Perlahan-lahan, kapal itu bergerak meninggalkan Batavia. Ekspedisi Sumatera Tengah berakhir….. ***

Sumber :

1. Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia / Universiteit Leiden
2. https://indonesia-zaman-doeloe.blogspot.com/search?q=sumatera+selatan+
3. http://knag-expedities.nl/pages/voorwerpen.php
4. https://www.kajanglako.com/id-27-kategori-telusur.html
5. Van Hasselt. ‘Volksbeschrijving en Taal,’ dalam Midden-Sumatra: Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, 1877-1879 (Prof PJ Veth, ed). Leiden: EJ Brill. 1882
6. PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here