Home Sejarah Hari-hari Terakhir SMB II di Palembang (Bagian Pertama)

Hari-hari Terakhir SMB II di Palembang (Bagian Pertama)

0
Makam Sultan Mahmud Badaruddin II di sekitar tahun 1890. Sumber : Woodbury and Page / NGA. (Budaya Palembang Darussalam)
Dudy Oskandar

Oleh Dudy Oskandar
(Jurnalis dan Peminat Sejarah Sumatera Selatan)

Sultan Mahmud Badaruddin yang Punya Negeri

Datangkah Musuh Tidak Terperi

Dengan Takdir Tuhan Yang Qohari

Pindahlah Ia Ke Lain Negeri

Dari Palembang Ke Ternati

Diamlah Disana, Berbuat Bhakti

Jikalau Iman , Kurang Mengerti

Rusaklah Badan, Serta Hati

Rusak Badan, Pada Itu Ketika

Karena Berperang, Dengan Kafir Celaka

Tetapi, Jikalau, Tidak Didaulat Belaka

Niscaya Menang , Pula Sri Paduka…………………………………

(Syair Sultan Mahmud Badaruddin
Oleh : Raden Haji Abdul Habib Prabu Diradjah)

SULTAN Mahmud Badaruddin (SMB) II menjadi Sultan ke-VIII menggantikan ayahnya di Kesultanan Palembang Darussalam (KPD) pada tahun 1803-18194.

Selama masa pemerintahannya SMB II berhasil menanamkan semangat perjuangan yang tak pernah menyerah.

Penggambaran sikap ini dikatakan oleh orang Inggris sebagai harimau yang tidak pernah jinak (never a tame tiger), hal ini didasarkan pada pengalaman Inggris menghadapi SMB II dimana Jenderal Meares dari Inggris yang sangat berambisi untuk menangkap SMB II, Justru sang Jendral yang tewas dalam satu pertempuran di daerah hulu Kota Palembang.

Konvensi London 13 Agustus 1814 membuat Inggris menyerahkan kembali Palembang kepada Belanda, termasuk semua koloninya di seberang lautan sejak Januari 1803.

Kebijakan ini tidak menyenangkan Raffles karena harus menyerahkan Palembang kepada Belanda. Serah terima terjadi pada 19 Agustus 1816 setelah tertunda dua tahun, itu pun setelah Raffles digantikan oleh John Fendall.

Saat Belanda ingin menguasai Palembang, Perang Menteng (Perang Palembang) akhirnya pecah pada 12 Juni 1819.

Perang ini merupakan perang paling dahsyat pada waktu itu, dan akhirnya dimenangkan oleh Palembang. Belanda yang tidak menerima kenyataan itu. beberapa waktu berikutnya, tepatnya tanggal 21 Oktober 1819 kembali menyerang Palembang, tetapi juga mengalami kegagalan. Begitu juga pada serangan ketiga mendapatkan kekalahan.

Selanjutnya untuk yang keempat kalinya, pada tanggal 16 Mei 1821 armada Belanda sudah memasuki perairan Musi. Bulan Juni 1821 bertepatan dengan Bulan Suci Ramadan.

Hari Jumat dan Minggu dimanfaatkan oleh dua pihak yang bertikai untuk beribadah. De Kock memanfaatkan kesempatan ini. Ia memerintahkan pasukannya untuk tidak menyerang pada hari Jumat, dengan harapan SMB II juga tidak menyerang pada hari Minggu.

Pada waktu dini hari Minggu 24 Juni, ketika rakyat Palembang sedang makan sahur, Belanda secara tiba-tiba menyerang Palembang.

Serangan dadakan ini tentu saja melumpuhkan Palembang karena mengira di hari Minggu orang Belanda tidak menyerang.

Setelah melalui perlawanan yang hebat, tanggal 25 Juni 1821 Palembang jatuh ke tangan Belanda. Kemudian pada 1 Juli 1821 berkibarlah bendera Merah Putih Biru (rod, wit, en blau) di Kuto Besak Kuto Besak, maka resmilah kolonialisme Hindia Belanda di Palembang.

Meskipun mengalami kekalahan, SMB II tidak pernah membuat surat kalah perang ataupun penyerahan kekuasaan (Lange Verklaring atau pun Korte Verklaring) ketika Belanda berhasil menguasai Kesultanan Palembang, Sultan Mahmud Badaruddin II dan Pangeran Ratu serta keluarganya ditangkap. Ia beserta keluarga dibuang dengan menaiki kapal Dageraad dengan tujuan Batavia, pada hari Selasa malam Tanggal 3 Syawal 1236 H (13 Juli 1821) kemudian diberangkatkan menuju Batavia pada keesokan harinya 4 Syawal 1236 H.

Dari Batavia SMB II dan keluarganya diasingkan ke Ternate sampai akhir hayatnya 26 November 1852.

Setelah Palembang jatuh ke tangan Belanda, Kapal van der Werff yang membawa Jendral de Kock tiba di Muntok pada tanggal 31 Juli 1821.

Walaupun kota Muntok aman-aman saja, jendral itu memerintahkan beberapa kapal kecil untuk berpatroli hilir-mudik di perairan sekitar Pulau Bangka.

Pemerintah Hindia-Belanda menduga bahwa perairan di sekitar itu menjadi tempat persembunyian para perompak.

Di Muntok, kerusakan-kerusakan kapal van der Werff diperbaiki. Jendral de Kock baru dapat meneruskan perjalanan beberapa hari kemudian, pada tanggal 2 Agustus.

Dua minggu kemudian, pada tanggal 16 Agustus 1821, ia tiba di Batavia dan disambut meriah sebagai pahlawan yang berhasil membuat Sultan Machmoed Badar Oedin bertekuk lutut.

Ekspedisi militer Hindia-Belanda yang dipimpin oleh Jendral de Kock berhasil.

Dalam waktu sepuluh tahun, Kesultanan Palembang telah mengalami tiga kali pergantian sultan; dan, sultan yang kini memegang berkuasa bukanlah pemimpin yang kuat.

Pemerintah Hindia-Belanda memperkirakan bahwa kepemimpinannya takkan berlangsung terlalu lama.

Selama dua tahun, Sultan Achmat Najam Oedin memerintah. Pada waktu yang bersamaan, JJ van Sevenhoven menjabat sebagai Komisaris di Palembang dan perwakilan pemerintah Hindia-Belanda.

Namun, karena Sang Sultan dianggap Belanda tidak mampu dan tidak memiliki pengetahuan yang memadai untuk menjalankan tugasnya sebagai Sultan, Achmat Najam Oedin (terpaksa) menandatangani perjanjian baru yang diajukan oleh JJ van Sevenhoven.

Di dalam perjanjian itu, Sang Sultan menyerahkan kekuasaannya atas Kesultanan Palembang.

Penyerahan kekuasaan itu disertai catatan bahwa Sultan akan tetap menikmati hak atas penghormatan militer, hak atas lambang dan tanda-tanda kebesarannya, hak atas tunjangan tahunan dan hak berperan-serta dalam pengadilan sipil dan pidana.

Perjanjian itu tidak mengubah apa pun bagi Soesoehoenang. Segala hak istimewa, tunjangan dan hak-hak lain yang diberikan kepadanya dalam perjanjian tahun 1821 tetap berlaku.

Setelah menjadi Komisaris di Palembang, JJ Sevenhoven telah menghapuskan kewajiban kerja (secara adat) dan aneka pajak yang dibebankan pada penduduk.

Setiap orang mendapatkan hak guna atas sumber daya yang dimilikinya dan hak menikmati hasil kerja dan karya masing-masing. Sevenhoven juga menetapkan sanksi hukuman berat bagi tindak memperbudak orang merdeka.

Namun, segala niat baik yang mendasari aturan-aturan baru itu menjadi nihil karena tidak didukung dengan kerjasama Sultan dan pembesarnya.

Belanda akhirnya kerepotan sendiri, pasca mengalahkan Palembang, perlawanan-perlawanan di daerah uluan atau pedalaman Palembang terus silih berganti.

Belanda sendiri harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk mengirimkan sejumlah ekspedisi-ekspedisi dan tentaranya ke pedalaman Palembang, dalam rangka menanamkan dan memperluas kekuasaan setelah Sultan Palembang menyerah.

Setelah dapat memadamkan perlawanan-perlawanan di daerah Lematang, dan setelah berminggu-minggu lamanya serta menderita korban yang besar dapat dapat menguasai benteng di dusun-dusun, ekspedisi Belanda bergerak ke daerah Kikim.

Disinipun Belanda mendapat hambatan perlawanan yang kuat, akhirnya setelah daerah Kikim dapat mereka amankan, dan setelah dapat tambahan tenaga-tenaga baru dari Palembang, Belanda dapat maju dan mendirikan benteng di Tebing Tinggi.

Tebing Tinggi pada waktu itu adalah kota kecil yang sangat strategis sekali bagi Belanda. Dari Tebing Tinggi dapat bergerak kearah Lubuk Linggau, Rawas, juga ke daerah Lintang Empat Lawang untuk seterusnya dapat menuju Tanah Pasemah. Kalau di daerah-daerah lain belanda mendirikan kampemen-kampemen (benteng-benteng) dari kayu-kayu, tapi di Tebing Tinggi kampemen mereka, berupa bangunan-bangunan yang permanen dengan dikelilingi parit-parit yang dalam.

Pada bulan Desember 1824, pemerintah Hindia-Belanda di Palembang mendapat kabar bahwa sejak bulan Juli tahun itu juga, terjadi beberapa kali pemberontakan di daerah Rawas.

Rupanya, pemberontakan itu terjadi karena baru diterapkannya penarikan pajak tanah di daerah itu oleh Belanda.

Pangeran Soera Di Laga ditugaskan untuk memadamkan pemberontakan itu. Namun di luar dugaan, kedatangannya disambut dengan keresahan dan kemarahan.

Konon, beberapa orang penujum berkeliling dari desa ke desa, menyebarkan keresahan. Konon pula, keresahan dan pemberontakan-pemberontakan itu didukung oleh sultan dan kerabatnya.

Belanda menduga bahwa semua itu, ditambah dengan massa yang berhasil dikumpulkan oleh para ulama, bertujuan untuk menentang pemerintah Hindia-Belanda. ***

Sumber :

1. THS Leicher. Het Leven en de Lotgevallen van Wijlen FP Leicher, Oost Indische Pionnier. Groningen: S. Barghoorn. 1843
2. https://beritapagi.co.id/2017/05/28/ketenteraman-semu-di-palembang
3. Sultanku, Mahmud Badaruddin II , Kemas A. R. Panji, S.Pd., M.Si.1 Dosen Sejarah di Universitas PGRI Palembang
4. https://beritapagi.co.id/2017/05/28/gratifikasi-hindia-belanda-dari-harta-sultan
5. Wikipedia
6. https://beritapagi.co.id/2018/09/08/ekspedisi-pedalaman-palembang-goenoeng-merakso.

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here