Home Headline News Juara Umum, SMAN 7 Gusur SMAN Sumsel

Juara Umum, SMAN 7 Gusur SMAN Sumsel

0
Ekspresi kegembiraan Cindy Azka Chantika, siswi SMA Negeri 5 Palembang, saat dirinya dinyatakan sebagai Sang Juara.

PALEMBANG, PE – Berakhir sudah pergelaran Sang Juara ‘Payo ke Museum’ season 3 di Museum Negeri Sumatera Selatan. SMA Negeri 7 Palembang akhirnya keluar sebagai juara umum, dengan merebut trofi bergilir Piala Gubernur Sumatera Selatan dari tangan SMA Negeri Sumsel. Sementara Cindy Azka Chantika, siswi SMA Negeri 5 Palembang, menasbihkan diri sebagai Sang Juara setelah meraih juara pertama pada lomba tersebut.

Babak grandfinal lomba, yang diikuti 75 peserta dari 25 SMA se-Kota Palembang di Halaman Museum Negeri Sumatera Selatan, Kamis (19/11) berlangsung meriah. Meski, even kali ini berlangsung di tengah terpaan pandemi Corona.

Penerapan protokol kesehatan tetap menjadi prioritas penyelenggara dalam even hasil kerja sama Harian Umum Palembang Ekspres, Museum Negeri Sumatera Selatan, dan Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI) Provinsi Sumsel. Setiap peserta wajib memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak.

Pada gelaran kali ini, suporter dibatasi hanya sepuluh orang saja untuk tiap sekolah. Lomba yel-yel tetap diadakan, yang mengawali penyelenggaraan babak grandfinal. Masing-masing sekolah kebagian dua menit untuk menampilkan aksi terbaiknya. Untuk menarik perhatian dewan juri, mereka membawa serta peralatan musik, seperti gitar dan drum.

Lantaran ada 25 sekolah yang harus tampil, butuh waktu setidaknya 50 menit untuk lomba yel-yel saja. Selepas regristrasi peserta, pukul 09 pagi lomba dimulai. Ini untuk mengisi waktu sembari menunggu tamu VVIP tiba, yakni Asisten III Pemprov Sumsel Prof Dr Edwar Juliartha, yang datang mewakili Gubernur Sumsel Herman Deru, yang berhalangan hadir.

Dijadwalkan, Edwar Juliartha akan menutup even ini dan Pameran Bersama Museum Negeri Sumatera Selatan yang telah berlangsung sejak 10 November silam.

Grandfinal Sang Juara pun dimulai ketika Edwar Juliartha tiba di lokasi acara — tayangan lengkap jalannya lomba bisa disaksikan di channel Youtube Palpres Official. Bertindak selaku pembawa acara, Erwin Azhari Wijaya dan Dinda. Mereka juga yang jadi pembawa acara pada gelaran grandfinal tahun lalu di tempat yang sama.

Sejumlah tamu undangan mendapat kesempatan untuk memberikan soal kehormatan kepada peserta. Mereka yang menjawab dengan benar mendapatkan bingkisan menarik dari panitia. Tidak ada yang tereliminasi di sesi ini lantaran jawabannya salah.

Soal permuseuman mendapatkan porsi paling banyak dalam gelaran kali ini sebanyak 60 persen, sementara soal Sejarah 20 persen, dan pengetahuan umum 20 persen. Setelah melalui serangkaian soal, tinggal menyisakan sembilan peserta saja di arena permainan. Lima orang memperebutkan juara pertama duduk di baris depan, tiga lainnya di barisan kedua, bersaing untuk meraih juara keenam.

Mereka yang memperebutkan juara pertama alias Sang Juara, dua di antaranya berasal dari sekolah yang sama, SMA Negeri 5, yakni Cindy Azka Chantika dan Bima Putra Pratama.

“Benar atau salah, pemberontakan PETA terhadap pemerintah Jepang pimpinan Supriyadi terjadi di Blora,” Dinda membacakan soal.

Cindy mengangkat tangan kirinya yang memegang kertas warna merah bertuliskan SALAH. Jawabannya berbeda sendiri dengan tiga peserta lainnya.

Cindy diminta berdiri oleh pembawa acara. “Kamu mau juara berapa?” tanya Erwin. “Terserah aja, Kak,” kata Cindy pasrah.

Kepasrahan Cindy ternyata mengantarkannya menjadi Sang Juara. Jawaban yang benar adalah SALAH. Pemberontakan PETA terhadap pemerintah Jepang pimpinan Supriyadi bukan terjadi di Blora, melainkan di Blitar.

“Saya bangga bisa meraih Sang Juara. Sukses ini berkat dukungan penuh guru dan rekan-rekannya, serta keluarga,” kata Cindy seusai lomba.

“Saya memang lebih banyak memfokuskan materi tentang permuseuman, pengetahuan umum, dan sejarah,” tukasnya lagi.

Sementara SMA Negeri 7 Palembang berhasil menjadi juara umum setelah mengumpulkan poin tertinggi dari sejumlah penilaian, yang ditentukan dewan juri. Mulai dari video challange, foto challange, jumlah kehadiran di kunjungan Pameran Bersama, dan lomba yel-yel, serta keaktivan di Sang Juara.

Sri Nuryati, guru pendamping dari SMA Negeri 7 Palembang, mengaku tidak menyangka sekolahnya bisa juara umum.

“Banyak sekolah lain yang lebih baik dari kami. Alhamdulillah, berkat kerja sama dan dukungan dari keluarga besar SMA Negeri 7 Palembang, kami bisa menjadi juara umum,” ucapnya sumringah.

Lomba Sang Juara tingkat SMA se-Kota Palembang dan Pameran Bersama Museum Negeri Sumatera Selatan resmi ditutup oleh Asisten III Pemprov Sumsel Prof Dr Edwar Juliartha.

Ditemui usai acara, Edwar Juliarta mengapresiasi acara, yang mendorong peserta untuk belajar Sejarah. Generasi milenial harus paham dengan sejarah bangsanya.

“Jangan sampai mereka terkontaminasi atau terbatasi dengan pengetahuan-pengetahuan yang sifatnya entertain saja,” ucapnya.

Kegiatan ini, kata dia, salah satu upaya untuk mengajak siswa mengunjungi museum. Belajar sejarah kadang kala terasa bosan kalau caranya hanya itu-itu saja. Tapi dengan mengunjungi museum, melakukan kegiatan-kegiatan yang sifatnya outdoor, mengunjungi tempat-tempat yang dulu bagian sejarah, ini bisa menarik minat siswa. Banyak informasi tentang sejarah yang bisa digali di museum.

“Generasi milenial harus paham dan mengetahui sejarah. Dengan begitu, mereka tahu apa yang harus dilakukan di masa depan. Jangan melupakan sejarah. Karena sejarah merupakan awal di mana kita berada, mengetahui seperti apa kita dulunya, dan bagaimana nanti kita di masa depan,” terangnya.

Ia mendorong pihak Museum Negeri Sumatera Selatan untuk rutin menggelar even seperti ini setiap tahunnya, karena bagus sekali manfaatnya bagi siswa.

“Saya miris dengan pengetahuan anak-anak muda zaman sekarang. Saya kasih foto proklamator Mohammad Hatta. Mereka tidak tahu. Dijawabnya anggota dewan,” tukasnya.

Hal seperti ini, kata dia, menjadi pekerjaan rumah bagi semua pihak. Pelajaran sejarah harus benar-benar ditanamkan kepada siswa.

Hadir dalam acara ini, Kepala Museum Negeri Sumatera Selatan Chandra Amprayadi, Ketua Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI) Provinsi Sumatera Selatan Merry Hamraeny, yang bertindak sebagai dewan juri, Ketua Pembina Adat Sumsel Albar S Subari, dan tamu undangan lainnya.

Panitia telah menyiapkan hadiah utama untuk juara umum, yakni trofi bergilir Gubernur Sumatera Selatan, serta uang pembinaan Rp5 juta. Lalu juara satu Rp3,5 juta, juara 2 Rp3 juta, juara 3 Rp2,5 juta, juara harapan 1 Rp1,5 juta, juara harapan II Rp1.250 ribu, juara harapan III Rp1 juta. Dan juara yel-yel sebesar Rp250 ribu. CIT

 

Daftar juara babak Grandfinal Sang Juara ‘Payo ke Museum’ season 3:

 

Juara 1 Cindy Azka Chantika (SMA Negeri 5 Palembang)

Juara 2 Bima Putra Pratama (SMAN 5 Palembang)

Juara 3 Abdullah Zeith Alfarizy (SMAN 12 Palembang)

Juara Harapan 1 Dhea Aulia Putri (SMAN 15 Palembang)

Juara Harapan 2 Novrida Dwi Maharani (SMAN 21 Palembang)

Juara Harapan 3 Arjuna (SMAN 2 Palembang)

Juara yel-yel terbaik SMAN 19 Palembang

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here