Home Sejarah Memburu Mayor Nawawi (Bagian Kedua)

Memburu Mayor Nawawi (Bagian Kedua)

0
Demonstrasi Aksi Massa Mahasiswa menyampaikan nota anti PRRI dan intervensi asing kepada Duta Besar Amerika H. Jones pada 25 Maret 1958. Pemerintah Pusat kemudian menumpas gerakan PRRI lewat Operasi 17 Agustus yang dipimpin Letnan Kolonel Ahmad Yani. (Sumber Foto: IPPHOS)
Dudy Oskandar

Oleh Dudy Oskandar
(Jurnalis dan Peminat Sejarah Sumatera Selatan)

Ditolak Rakyat Bengkulu

SEBELUM pergolakan PRRI, Letnan Kolonel Barlian dan sejumlah perwira lainnya dari TT II membentuk Dewan Garuda. Nama “Garuda” diambil dari nama satuan di wilayah ini pada zaman revolusi.

Dewan Garuda menuntut otonomi daerah. Panglima TT II, seperti dicatat Abdul Haris Nasution dalam memoarnya Memenuhi Panggilan Tugas: Jilid 4 Masa Pancaroba (1984:65), kemudian menyatakan bahwa daerah Sumatra Selatan dalam keadaan bahaya dan Gubernur Winarno diminta secara resmi menyerahkan kekuasaannya.

Djuhartono, perwira yang menjadi pejabat di Resimen Infanteri ke-5 Palembang dan dicap Sukarnois menentang keputusan atasannya yang dianggap tidak loyal kepada pemerintah pusat. Djuhartono sempat melarikan diri ke pelabuhan udara Talang Betutu, di pinggiran kota Palembang. KSAD Kolonel Abdul Haris Nasution pun turun tangan.

“Untuk menghindari pertempuran saya diminta segera ke Palembang […] kami mendarat dalam curah hujan yang keras, yang datang menjemput adalah komandan AURI Talang Betutu bersama pejabat komandan Resimen 5 (Djuhartono),” tulis Nasution (1984:83).

Djuhartono kemudian ditarik ke Jakarta. Letnan Kolonel Barlian, juga para perwira menengah yang terlibat PRRI kemudian aman tanpa kehadiran Djuhartono di Sumatra Selatan.

Ketika Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta) dideklarasikan di Sulawesi pada Maret 1957, Barlian menyatakan bahwa daerah yang pimpinnya sebagai wilayah netral. Ia juga pada akhirnya tidak ikut PRRI meski tetap tidak puas dengan Jakarta.

Sementara Mayor Nawawi kepala stafnya, yang pernah menjadi komandan garnisun Palembang, ikut PRRI di Sumatra Barat.

Menurut Nasution, para perwira TT II Sriwijaya tidak kompak dalam menyikapi PRRI. Padahal jika Barlian dan para perwira lainnya kompak mendukung PRRI, maka akan sangat menguntungkan PRRI karena wilayahnya memiliki minyak yang sangat penting dalam perang modern.

Meski krisis PRRI tidak begitu parah di wilayah TT II, tetapi Kolonel dr Ibnu Sutowo kemudian dikirim ke Sumatra Selatan untuk memperbaiki keadaan.

Operasi Sadar digelar. Letnan Kolonel Barlian dinonaktifkan dan digantikan Letnan Kolonel Harun Sohar pada 26 Juni 1958 selaku Panglima TT II, serta Alamsjah sebagai Kepala Staf.

Barlian kemudian dijadikan atase militer. Mayor Makmun Murod dijadikan pula sebagai komandan garnisun kota Palembang. Setelah 1958, Palembang tergolong aman bagi pemerintah pusat.

Seperti telah disinggung di atas, Wakil Kepala Staf TT-II, Mayor Nawawi yang diperintahkan oleh Panglima TT-II menghadap Kasad di Jakrta, tidak dia tidak mematuhi perintah itu.

Dengan membawa pengawal bersenjata lengkap Mayor Nawawi melarikan diri ke Prabumulih.

Dalam pelariannya itu, anggota anggota pengawalnya ini dapat ditangkap oleh pasukan yang dipimpin oleh Mayor Yahya Bahar.

Dalam usaha penertiban daerah TT-II, Panglima TT-II mulai tanggal 29 April 1958 dicutikan dan untuk sementara digantikan oleh Kepala Staf TT-II Letkol Harun Sohar sebagai pejabat Panglima TT-II.

Setelah Pemerintah berhasil dalam operasi-operasi yang dilancarkan di Sumatera Tengah dan Sumatera Utara, maka bulan Mei 1958 ke daerah Sumatera Selatan dilancarkan pula operasi militer yang dinamai operasi “Sadar”

Operasi ini dipimpin oleh Kolonel Dr. Ibnu Sutowo dengan tujuan :
a. Menetralisir Pimpinan TT-II akibat ketidak tegasan Panglima TT-II dalam menghadapi pemberontakan PRRI,
b. Melaksanakan operasi pembersihan dalam tubuh TT-II dan Pemerintah Daerah Sumatera Selatan dari anasir pemberontak PRRI. c. Mengadakan tindakan pengamanan terhadap perembesan PRRI dari Sumatera Tengah ke Sumatera Selatan dan mengamankan obyek-obyek vital seperti kilang-kilang minyak serta menumpas pemberontakan ex Mayor Nawawi.

Dalam usahanya itu, Kolonel Dr. Ibnu Sutowo pertama-tama menonaktifkan Letjen Barlian dan tanggal 26 Juni l958 Kasad telah menetapkan Letkol Harun Sohar sebagai penggantinya.

Dengan bantuan AURI dan ALRI yang mengerahkan pasukan KKO dan kapal kapal perang, operasi penumpasan segera dilancarkan.

Akibat tekanan-tekan an dari pihak APRI , Nawawi cs akhirnya melarikan diri ke Bengkulu.

Akibat operasi ini pula hubungan Nawawi dengan PRRI di Sumatera Tengah terputus, sehingga karena hubungan dan dukungan yang terputus ini kekuatan mereka dapat dilumpuhkan.
Operasi Sadar berhasil menyelamatkan Sumatera Selatan dari pemberontakan PRRI, sehingga berhasil diselamatkan sumber devisa negara yaitu kilang minyak yang ada di Sei Gerong dan Plaju.

Nawawi Cs yang menyelamatkan diri ke Bengkulu ternyata tidak dapat menyesuaikan diri dengan masyarakat setempat.

Tindakan-tindakan serta perbuatan-perbuatan mereka yang menyinggung perasaan menimbulkan amarah serta melahirkan suatu tekad rakyat setempat untuk menumpasnya.

Seperti yang dikemukakan oleh rakyat Bengkulu dalam pernyataan tanggal l0 Juli 1959 dan ditandatanganii oleh Ketuanya, Kabul Amin AR, yang bertindak mewakili anggota-anggota DPRD Swatantra II Bengkulu Utara, Kotapraja Bengkulu, kalangan rakyat dan penduduk dari berbagai dusun serta kecamatan Kerkap.

Dalam pernyataan itu mereka meminta antara lain :
a. Mengadakan mobilisasi semua rakyat dalam satu komando, terutama agar OPR segera dilahirkan.
b. Segera ditempatkan pos-pos alat-alat negara di daerah pengacauan gerombolan.
c. Merevisi team Penerangan dan mengeluarkan anggotanya yang tidak aktif.
d. Agar menyita hak milik dan usaha kaum pemberontak dan menjadikan hak milik negara.
e. Agar dilakukan tindakan tegas terhadap kaki tangan gerombolan yang terdapat di lapangan pemerintah.

Di samping itu suatu surat yang ditandai oleh cap jempol dengan meng gunakan darahnya sebagai tinta telah dikirimkan pula oleh 14 orang yang mewakili teman-temannya.

Pernyataan ini meminta untuk dipersenjatai agar dapat bersama-sama menumpas para pemberontak. ***

Sumber:

1. Sejarah TNI-AD 1945-1973 3 ” Peranan TNI-AD Dalam Mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia”, Dinas Sejarah TNI Angkatan Darat , Bandung , 1979
2. Wikipedia
3. https://historia.id/histeria/articles/bung-karno-yang-legowo
4. https://tirto.id/kodam-sriwijaya-dari-pergolakan-prri-sampai-peristiwa-talangsari

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here