Home Headline News Tetap Jadikan Sejarah Mata Pelajaran Wajib!

Tetap Jadikan Sejarah Mata Pelajaran Wajib!

0
Diskusi yang digelar Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI) Provinsi Sumatera Selatan di Aula Museum Negeri Sumatera Selatan, Selasa (3/11).

PALEMBANG, PE – Kalangan pecinta dan pemerhati sejarah di Sumatera Selatan meminta pemerintah pusat tetap menjadikan Sejarah sebagai mata pelajaran wajib di jenjang SMA/SMK dan MA. Bahkan, tambah jam belajarnya menjadi empat jam perminggu di setiap jenjang kelas.

Demikian pernyataan sikap yang dikeluarkan dalam dengar pendapat dan diskusi yang digelar Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI) Provinsi Sumatera Selatan di Aula Museum Negeri Sumatera Selatan, Selasa (3/11).

Pernyataan sikap yang akan disampaikan ke pemerintah pusat itu, ditandatangani oleh guru-guru sejarah yang tergabung dalam AGSI Sumsel, Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Sejarah Sumsel dan MGMP Sejarah Kabupaten/Kota, perwakilan dari Museum Negeri Sumsel, Museum Sriwijaya, program studi sejarah sejumlah perguruan tinggi, Balai Arkeologi Sumsel, Kesultanan Palembang Darussalam, lembaga budaya Komunitas Batanghari Sembilan (Kobar 9), serta Jelajah Edukasi dan Entertainment Palembang Sriwijaya (JEEPS).

“Pernyataan sikap ini akan dikirim via pos ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebelum 5 November nanti, untuk diusulkan ke Presiden melalui AGSI pusat,” kata Ketua AGSI Sumsel Merry Hamraeny.

AGSI Sumsel menggelar kegiatan ini menyusul rencana Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menempatkan mata pelajaran sejarah sebagai mata pelajaran pilihan di SMA, bahkan menghilangkannya di SMK.  Rencana perubahan pendidikan sejarah di SMA/SMK itu tertuang dalam draf sosialisasi Penyederhanaan Kurikulum dan Asesmen Nasional tertanggal 25 Agustus 2020.

Dikatakan Merry Hamraeny, ada tiga masalah serius yang menjadi perhatian publik. Pertama, bergesernya posisi mata pelaran (mapel) Sejarah di jenjang SMA dari semula kelompok wajib menjadi kelompok pilihan di kelas XI dan XII.

Lalu kedua, mapel Sejarah di SMA direduksi menjadi bagian dari IPS di kelas X. Dan ketiga, penghilangan mapel Sejarah di jenjang SMK.

“Di SMK pada kurikulum 2013, pelajaran sejarah hanya diajarkan di kelas X. Di draf kurikulum baru nanti sejarah dihapuskan sepenuhnya. Sementara di SMA, sejarah masuk pelajaran IPS. Pelajaran IPS itu banyak. Hanya empat jam pelajaran pula dalam seminggu,” tukasnya.

Selain itu, kata dia, di kelas XI dan XII SMA dalam draf tersebut, sejarah dijadikan mata pelajaran pilihan. Artinya pelajaran sejarah dianggap tidak penting.

“Wajar ini bakal berdampak ke mana-mana. Bisa jadi program studi sejarah perguruan tinggi bakal sulit mendapatkan mahasiswa. Kunjungan ke museum akan turun,” ucapnya.

Draf kurikulum ini, ia mengatakan, mulai disosialisasikan pada Desember 2020. Lalu akan dilaksanakan pada Maret 2021. Sementara pada 5 November nanti bakal keluar modul kurikulum tersebut.

“Jumlah jam pelajaran Sejarah akan digantikan Program Pengembangan Karakter. Mata pelajaran baru ini dapat porsi penting dalam kurikulum baru tersebut dengan akan diajarkan selama sembilan jam dalam sepekan di sekolah,” ucapnya.

Sebelumnya, pada Kurikulum 2013, Sejarah ditempatkan sebagai mapel wajib bagi siswa SMA jurusan IPA dan IPS. Posisi ini yang rentan tergusur ketika Kemendikbud berniat merampingkan kurikulum baru yang rencananya diluncurkan Maret 2021.

Sejumlah narasumber dihadirkan dalam diskusi tersebut. Yakni Kepala Balai Arkeologi Sumsel Budi Wiyana, Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Jaya Wikrama RM Fauwaz Diradja, Kepala Museum Negeri Sumatera Selatan Chandra Amprayadi, dan praktisi pendidikan DR Suherman. Diskusi dipandu oleh budayawan Sumsel, Vebri Al Lintani. Turut hadir pula tokoh pendidikan Sumsel, Mirza Fansuri.

Umumnya mereka menyesalkan rencana pemerintah mereduksi pelajaran sejarah di jenjang SMA, bahkan menghilangkannya di SMK. Sebab sejarah adalah identitas bangsa.

“Kita sangat menyayangkan kalau jam pelajaran sejarah kurang. Apalagi, pengetahuan anak didik tentang sejarah, utamanya sejarah lokal, masih sangat minim,” kata Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Jaya Wikrama RM Fauwaz Diradja.

Menurutnya, sejarah adalah aset berharga suatu daerah, yang tidak dimiliki daerah lainnya. Ia mencontohkan patung-patung batu peninggalan zaman megalitikum . “Itu hanya kita, Sumatera Selatan, yang punya. Daerah lain tidak. Benda-benda bersejarah ini juga yang menjadi daya tarik wisatawan,” ucapnya.

Sementara praktisi pendidikan DR Suherman mengatakan, upaya mengenyampingkan sejarah sudah terlihat jelas di tingkat perguruan tinggi. Buktinya, tidak ada program doktoral (S3) sejarah. Malah di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Dirjen Sejarah dihapuskan.

“Bagaimana menanamkan kecintaan sejarah kalau Dirjen Sejarah dihapus,” katanya. CIT

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here