Home Pariwisata Melirik Gaya Melaka “Menjual” Sejarah

Melirik Gaya Melaka “Menjual” Sejarah

0
The Stadthuys, Melaka
Masayu Indriaty Susanto

Oleh: Masayu Indriaty Susanto
(Penulis adalah Mantan Praktisi Jurnalistik)

Kapal dagang dari seberang
Sarat muatan kayu meranti
Dari jauh tuan puan datang
Orang Melaka sedia menanti

ITULAH larik pantun yang menjadi tagline promosi wisata di Melaka Bandaraya, sebuah kota kecil di tepi Selat Malaka, Malaysia. Melaka atau Malacca adalah kota wisata andalan Negeri Jiran itu. Sebagai kota tertua di Malaysia, Melaka ternyata memiliki kaitan sejarah yang erat dengan Palembang.

Penduduk Melaka sangat familiar dengan nama kota Palembang terutama Bukit Siguntang. Itu terjadi karena pendiri kota itu adalah orang Palembang asli, yaitu Parameswara. Karena itulah, bagi warga Melaka, Palembang dan Bukit Siguntang adalah daerah asal nenek moyang mereka.

Melaka bisa ditempuh dengan perjalanan sekitar 2,5 jam dengan mobil lewat jalan tol yang lebar dan mulus. Atau 1,5 jam dengan kereta api dari Kuala Lumpur. Bisa juga dengan bus antar negara dari Singapura dengan waktu tempuh sekitar 3 jam. Luasnya hanya sekitar separuh Palembang. Penduduknya beragam etnis, melayu, tionghoa, arab, india, hidup berdampingan di sana.

Pemerintah Malaysia sukses mengemas Melaka menjadi begitu molek. Kota yang pernah dijajah empat negara, Inggris, Belanda, Portugis, dan Jepang itu, memang banyak meninggalkan bangunan bersejarah. Dari benteng, rumah ibadah, bangunan tua, hingga kawasan komunitas etnis seperti Chinatown, Kampung Melayu, Kampung Jawa, dan lainnya.

Melaka juga dikenal dengan negeri permuseuman. Betapa tidak. Di sana ada 38 museum, dari museum sejarah, museum kontemporer hingga museum kecantikan yang digilai para pecinta foto instagramable.

Museum-museum itu tidak terlalu besar namun menarik. Begitu juga bangunan tua lainnya, semua ditata dengan serius dan sangat dijaga keasliannya. Bangunan-bangunan metropolitan berpadu dengan bangunan bersejarah secara apik, menjadikan Melaka sebagai kota wisata kelas dunia.

Karena itulah, kota yang indah ini telah ditetapkan UNESCO sebagai World Heritage Site (Situs Pusaka Dunia) sejak 2008 lalu. Sebuah pengakuan yang tidak berlebihan, mengingat betapa kayanya kota kecil ini dengan bangunan pusaka yang tetap terawat baik. Sejak pengakuan UNESCO itu, Melaka semakin giat membangun kotanya sebagai tujuan wisata, dan meresmikannya dengan nama Melaka Bandaraya Bersejarah.

Kota Kembar yang Dibelah Sungai

Parameswara, pendiri Kesultanan Melaka adalah putera mahkota dari raja terakhir Kerajaan Sriwijaya. Sang Pangeran lari dari Palembang karena kalah pada perang paregreg di Kerajaan Majapahit. Parameswara terlibat perang saudara karena istrinya adalah seorang puteri Majapahit.

Dari Palembang, Parameswara membangun Tumasek, yang menjadi Singapura saat ini. Namun karena terus dikejar pasukan Majapahit, Parameswara kemudian lari ke Melaka, dan membangun kerajaan baru di tepi Selat Malaka pada akhir abad 14. Parameswara yang penganut Hindu kemudian menjadi mualaf dan masuk Islam, dan berganti nama menjadi Iskandar Syah. Kisah tentang Parameswara ini berikut benda-benda peninggalannya banyak terdapat di museum di Melaka.

Karena keterkaitan sejarah, Palembang dan Melaka bagai kota kembar. Banyak sekali kemiripannya. Terutama makanan tradisional, bentuk dan model bangunan perkotaan, dan busana keseharian penduduknya.

Juga sama-sama menjadi kota yang dibelah sungai. Di tengah kota Malaka, mengalir Sungai Melaka meski tidak sebesar Sungai Musi di Palembang. Karena itu, Melaka dan Palembang mendapat julukan yang sama. Yaitu Venesia dari Timur. Namun, Malaka juga merupakan kota pesisir yang terletak di tepi Selat Malaka, sehingga memiliki garis pantai yang cukup panjang.

Wisata sungai Melaka River Cruise adalah salah satu wisata andalan yang menjadi favorit para turis di sana. Dengan naik kapal-kapal kecil, wisatawan diajak berkeliling menyusuri sungai melewati rumah-rumah penduduk yang ditata apik berhiaskan mural. Sepanjang bantaran sungai dibangun pedestrian berikut lampu-lampu yang tampak indah di waktu malam. Sungainya pun bersih dari sampah.

Menariknya, kedua kota juga memiliki landmark yang sama. Yaitu air mancur. Melaka memiliki Queen Victorian Fountain. Air mancur ini tidak besar, namun sejarahnya yang menjadikannya menarik. Queen Victorian Fountain dibangun Inggris pada 1901 saat negara itu menjajah Melaka. Sampai sekarang bentuk air mancur itu sama seperti aslinya.

Becak pun ada di sana. Bahkan menjadi kendaraan wisata favorit. Biasanya becak-becak wisata yang dihiasi ornamen warna-warni ini menjadi kendaraan favorit para turis berkeliling kota. Becak wisata banyak terdapat di sekitar The Stadhuys, bangunan tua yang juga menjadi ikon wisata.

Becak Wisata Melaka

Bentuknya mirip mercusuar yang dicat warna merah. Bangunan ini dibangun pada 1660 dan menjadi bangunan peninggalan Belanda tertua di Asia Tenggara. Sepintas, The Stadhuys ini mirip dengan Kantor Ledeng Palembang, jika saja dicat warna merah seperti Jembatan Ampera.

Di seberangnya terdapat Jonker Street. Inilah pusat kuliner, cinderamata dan barang antik, yang di malam hari berubah wujud menjadi pasar tumpah. Semua ada di sana. Dari mainan kunci sampai gunting kuku. Kawasan Jonker Street berupa deretan bangunan kaum etnis china yang dicat atraktif dengan jalanan yang diramaikan payung-payung dan lampion bergelantungan. Karena itu, Jonker Street yang mirip dengan kawasan Sekanak di Palembang ini juga disebut kawasan chinatown.

Jonker Street ini surga bagi pecinta kuliner. Menu-menu seperti nasi lemak, dodol, laksa, sampai cendol pun ada di sana. Namun, jika di Indonesia cendol biasanya dipadukan dengan dawet dan nangka, di Melaka jodohnya cendol ini ternyata kacang merah. Tapi sama-sama berkuah gula merah dan santan.

The Jonker Street, Melaka.

Karena ini adalah kawasan street food, jadi jangan heran jika selalu ramai dengan pembeli yang sibuk tawar menawar harga. Atau penjual yang berteriak-teriak menawarkan dagangannya yang ributnya minta ampun.

Pariwisata Sumber Devisa Terbesar

Di Melaka juga ada Demang Abdul Ghani Gallery. Bangunan tradisional yang didirikan 1894, masih dijaga kelestariannya hingga kini. Rumah kayu yang masih kokoh ini bentuknya merupakan perpaduan tipikal bangunan Palembang, Filipina dan Champa. Demang Abdul Ghani sendiri adalah seorang pengusaha dan penghulu keturunan Palembang. Zaman dulu, rumah ini sering dijadikan tempat berkumpulnya warga kota.

Selain bangunan tua yang bertebaran, Melaka juga memiliki beragam obyek wisata modern. Dari water park, opera house, Menara Taming Sari di mana dari puncaknya kita bisa memandang panorama kota Melaka 360 derajat, dan lain-lain.

Kompletnya obyek wisata di sana membuat Melaka sukses mendatangkan 18 juta wisatawan pada 2018, dan menargetkan 20 juta wisatawan pada 2019 dengan pundi-pundi pemasukan RM 20 miliar (sekitar Rp 69 triliun). Pariwisata pun menjadi sumber devisa terbesar kota itu. Sebagian besar penduduk kota memiliki usaha dan mendulang ringgit dari sektor ini.

Sukses Melaka Bandaraya menyulap sejarah kotanya menjadi pemikat para turis bisa menjadi sumber motivasi untuk mengembangkan wisata di Palembang. Sebagai kota yang lebih tua, Palembang punya modal yang sangat banyak untuk menjadi kota wisata.

Palembang juga menyandang nama besar Kerajaan Sriwijaya yang sudah terkenal hingga ke mancanegara. Juga menjadi pusat Kesultanan Palembang Darussalam dengan beragam peninggalannya, termasuk Benteng Kuto Besak, satu-satunya benteng yang dibangun pribumi, yang penuh nilai historis.

Selain itu, Palembang juga banyak memiliki bangunan bersejarah peninggalan kolonial, seperti kantor ledeng, kantor pos, gedung BP7, Jembatan Ampera, kawasan kota tua seperti Sekanak, Kuto, Tangga Buntung, Sungai Musi, dan tentu Bukit Siguntang yang fenomenal.

Jika dikemas dengan konsep menarik, dan penataan kota yang berorientasi kelestarian sejarah dan promosi gencar hingga level internasional, bukan tidak mungkin Palembang akan dinobatkan sebagai kota bersejarah warisan dunia berikutnya. Semoga. ***

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here