Home Parlemen & Politik Trio Petahana Diprediksi Gagal

Trio Petahana Diprediksi Gagal

0
Direktur Eksekutif Lintas Politika Indonesia, Kemas Khoirul Muklis

PALEMBANG, PE – Meski belum menjadi ketetapan resmi KPU, namun beberapa pasangan calon diyakini terpilih menjadi Kepala Daerah/ Wakil Kepala Daerah melalui pencoblosan yang dilaksanakan pada 9 Desember.

Dimana hasil real count, rata-rata sudah mencapai angka 100 persen dari data yang masuk.

Menurut Direktur Eksekutif Lintas Politika Indonesia, Kemas Khoirul Muklis, untuk di Sumsel, dari 7 Pilkada diprediksi 3 kandidat yang berasal dari petahana tumbang. Yaitu Ilyas Panji Alam (Ogan Ilir), Hendra Gunawan (Mura), dan Syarif Hidayat (Muratara).

“Hal ini di samping tingkat kepercayaan masyarakat selama ini yang kurang, juga diakibatkan beberapa faktor lain,” ujar Khoirul Muklis, Kamis (10/12/2020).

Faktor itu diungkapkan mantan ketua KPU Palembang ini, pertama masyarakat cenderung menginginkan dipimpin sosok yang humble dan gaul.

Hal tersebut bukan semata terkait usia, namun bagaimana sosok itu mampu tampil dan menyentuh langsung masyarakat. Termasuk juga bagaimana penampilan kandidat dalam berpakaian keseharian, gaya bicara dengan masyarakat.

“Masyarakat sudah tidak merasa kagum lagi dengan tampilan pejabat dengan pakaian perlente. Dan bahkan terasa membuat jarak antara pemimpin dengan masyarakat,” tuturnya.

Selanjutnya diterangkan Muklis, faktor kedua kandidat yang memperoleh suara anjlok, diakibatkan tidak berjalan maksimalnya mesin partai politik pendukung.

“Karena tak sedikit yang menganggap dukungan partai hanya sebagai kewajiban administratif, sebagaimana diatur Undang-Undang. Sehingga setelah memperoleh surat dukungan, tidak lagi dilakukan konsolidasi secara maksimal,” tuturnya.

Padahal, ditambahkan Muklis, partai politik terbukti memiliki konstituen masing-masing.

“Tak kalah pentingnya, faktor ketiga yakni penguasaan media sosial. Hampir pasti semua kandidat memiliki akun medsos. Namun karena hanya dikelola oleh admin, sehingga tidak terjadi interaktif langsung dengan nitizen. Ini pula sehingga yang ditampilkan hanya kegiatan-kegiatan formal,” tandasnya.

Seharusnya diungkapkan Muklis, jika ingin menyentuh masyarakat melalui medsos, harusnya kandidat menampilkan keseharian dan terjadinya interaktif, ada tanya jawab serta dialog dengan santai.

“Mungkin ada juga hujatan, namun tak harus direspon dengan emosi. Banyak kandidat mengabaikan pentingnya medsos dan interaktif di dalamnya. Padahal di waktu senggang semestinya mereka bisa memanfaatkan untuk bersosialisasi, apalagi pengguna medsos sudah sangat banyak,” pungkasnya.JAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here