Home Sejarah Ekspedisi Gubernur Sumsel Dr M Isa di Pulau Enggano Tahun 1952 (Bagian...

Ekspedisi Gubernur Sumsel Dr M Isa di Pulau Enggano Tahun 1952 (Bagian Keempat)

0
Potret seorang lelaki tua dari Enggano. (Sumber : Collectie Tropenmuseum )
Dudy Oskandar.


Oleh Dudy Oskandar
(Jurnalis dan Peminat Sejarah Sumatera Selatan)

BUKU encyclopedi mengatakan, bahwa laki-laki Enggano, tinggi badannya, tegap, mempunyai urat daging yang sempurna berkembang.

Sedangkan hidungnya lurus atau seperti arendneus (hidung elang), mulut kecil, mata agak miring letaknya dikepala, dahi bulat, gerahnya lebar, dan bibir tipis.

Tetapi kini bentuk ini sudah hampir lenyap atau setidaknya agak mulai kabur kelihatannya, karena sudah banyak percampuran darah orang asing yang masuk ke pulau ini.

Wanitanyapun, yang disebut encyclopedi tidak menarik, mempunyai suara rendah yang serak, suka merokok, sama sekali tidak tampan, sudah agak lebih menyerupai penduduk biasa dari daratan Sumatera.

Akibat letak desa dilereng gunungnya disekitar rawa ditanah rendahannya, dan ketiadaan percampuran darah karena isolasi/ isolement (aliran darah rendah/ geringe bloed verversing) menyebabkan terlampau gampang penyakit menghinggapi darah yang lemah ini dan terjadi satu proses kearah pemusnahan penduduk yang mengkhawatirkan.

Hanya dalam masa 64 tahun, penduduk asli yang berjumlah 3.000 jiwa hanya tinggal kira 300 jiwa di tahun 1862.

Dan sekarang seluruh penduduknya hanya berjumlah 566 djiwa dengan penduduk asal luar daerah 300, diantaranya adalah penganut agama Kristen, terutama Protestan dari golongan Luther.

Sungguh mengejutkan, bahwa kepunahan/uitsterving ini memusnahkan 12 “karario”.

Tak lama lagi, kalau proses ini tidak dapat dicegah, maka dalam masa 10 tahun lagi dikhawatirkan, Enggano akan tidak mempunyai penduduk yang asli lagi.

Sayang orang yang datang ke pulau ini, terkecuali beberapa orang, banyaklah terdiri dari petualang-petualang yang tidak bertanggung-jawab, yang datang ditarik oleh keinginan berpengalaman dan mengadu nasib sebagai tukang pungut kelapa (kopra) atau menyelam untuk mencari kerang dan tenaga buruh mengambil rotan dihutan.

Tak mengherankan, bahwa darah lemah yang sangat retan bagi penjakit berjangkit yang berbahaya itu gampang saja diserang hama siphylis.

Ada yang bersendi kepada matriarchaalstelsel/ sistem matrilineal menyebabkan pedagang tertarik untuk tinggal menetap, mempergunakan kecerdasan yang lebih padanya untuk masuk menjadi anggota keluarga mereka.

Terutama ikatan yang agak lemah menyebabkan banyak pendatang yang tertarik menjadi anggota keluarga Enggano ini, bukan seperti matriarchaal/ sistem matrilineal, di Minangkabau dalam adat, yang nyata-nyata memberikan kesempatan kepadanya untuk mempunyai tanah, berusaha.

Kerugian satu-satunya bagi mereka adalah, seandainya orang ini nanti meninggal dunia dengan tidak meninggalkan keturunan, segala pecaharian dan harga mereka jatuh seluruhnya kepada keluarga perempuan (isteri) dan dibagi sama-sama.

Proses yang sedemikian ini, dalam pengertian hukum patrilinial dan dominasi laki-laki dari rata pergaulan hidup dan juga sendi undang –undang dibanyak negeri dan juga di Indonesia akan menimbulkan peng-Indonesia-an (Indonesianisasi).

Suatu hal yang ruwet juga agaknya untuk dimengerti, bahwa persukuan yang lebih mendekati kepada artinya keluarga dan nama keluarga, berlaku dalam hukum pergaulan hidup di Enggano.

Sebagai diketahui suku-suku dibeberapa daerah, walaupun didaerah Patrilinial dan Matrilinial dan daerah dimana berlaku kekuasaan keluarga seperti didaratan Sumatera Selatan, persukuan hanya satu pengertian tentang satu lingkungan keluarga besar, tidak sampai dipergunakan dan berlaku seperti fungsinya satu nama keluarga (familie-naam) seperti yang dikenal dikalangan rakyat biasa dan bangsawan di Eropa semenjak zamannya Napoleon Bonaparte.

Di Enggano sebaliknya berlaku fungsi kesukuan, sebagai nama keluarga seperti nama berlaku dengan artian terbatas (in de engere zin van het woord) dalam tata pergaulan hidup ditanah Batak (Tapanuli).

Mungkin juga adalah pengaruh dari ide dan falsafat kekeluargaan ala barat, yang menimbulkan pengaruhnya akibat Kristelijke Gemeente (Zending Kristen), dicampur dengan keadaan jumlah penduduk yang memang sangat sedikit.

Demikian terdapat suku (familinamen) yang besar, lima buah di Enggano. yakni Kaharuba, Kauno, Kaahuso, Kaitora dan Kaarubi. Keluarga (familie) yang berkuasa umpamanya di Enggano adalah dari keluarga Kaharuba (terbesar) dan Kauno.

Terutama yang termaju adalah pula kedua keluarga ini. Satu akibat dari hukum matrilinial , menyebabkan pengantin laki-laki yang masuk dalam satu keluarga mendapat nama keluarga isterinya dan menerima segala hak dan tanggung jawab sebagai anggota keluarga tersebut.

Satu hal yang spesifik seperti juga terdapat dibagian Utara Tapanuli pada sebelum abad ke-19 dan 20, dimana satu keluarga dengan keluarga condong sekali memperjuangkan hak masing-masing dan berseteru (aarts-vijanden). Demikian pula keadaan ini terdapat di Enggano, yang meninggalkan bekasnya masih pada kebiasaan adat dalam keramaian, bergembira, bersedih dan lain-lain.

Masih berlaku umpamanya sampai sekarang, bahwa selama dalam satu keluarga terdapat satu kemalangan – kematian umpamanya, seluruh anggota keluarga itu, tidak dibolehkan bergembira, dalam tindak laku, berpakaian dan kegiatan bekerja.

Masa berkabung ini memakan waktu sampai berpuluh-puluh hari (paling sedikit 40 hari). Sesudah masa berkabung selesai, dilakukan Pesta Kalea (terutama lebih dititik beratkan kalau yang mati itu orang besar, kepala keluarga (suku dan sebagainya), yang memakan waktu lama pula. ***

Sumber:

1. Republik Indonesia, Propinsi Sumatera Selatan, Kementrian Penerangan , Siliwangi-Jakarta, Agustus 1954
2. Wikipedia
3. Yuarsa, Feris (24 September 2016), Koesoema, Gandjar Santosa, ed., Mohamad Isa – Pejuang Kemerdekaan yang Visioner, Gramedia Pustaka Utama, ISBN 978-602-03-3392-2
4. http://lipi.go.id/berita/single/Enggano-Pulau-Kecewa-yang-Luar-Biasa

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here