Home Sejarah Ekspedisi Gubernur Sumsel Dr M Isa di Pulau Enggano Tahun 1952 (Bagian...

Ekspedisi Gubernur Sumsel Dr M Isa di Pulau Enggano Tahun 1952 (Bagian Ketiga)

0
Dua pria mengamati wabah malaria di sebuah hutan di Dakoaha, Enggano, sebelum tahun 1936. (Sumber : Collectie Tropenmuseum )
Dudy Oskandar.

Oleh Dudy Oskandar
(Jurnalis dan Peminat Sejarah Sumatera Selatan)

LETAK pulau ini yang jauh dari pantai Sumatera, sedangkan daratannya tidak terlampau besar, menyebabkan ia terlupa dan tidak banyak disinggahi kapal dagang, terkecuali KPM sekali dalam 1,5 bulan, belakangan sekali 14 hari itupun kadang-kadang.

Enggano dikelilingi 6 anak pulaunya Kaikuby, Eloppo, Aduwa, dll. Secara geografis, Pulau Enggano berada di wilayah Samudera Indonesia yang posisi astronomisnya terletak pada 05°31’13 LS dan 102°16’00 BT

Pulau Enggano sulit agaknya menghubungkannya dengan darat, dengan satu sistim lalu-lintas yang teratur.

Terutama karena perahu tak dapat menempuh gelombang besar di Samudera Hindia itu, terkecuali kapal yang besar.

Pada zaman Jepang, walaupun mereka menaruh “kustbaterijen” yang besar di pulau ini, namun mereka tak dapat menghindarkan pulau itu diambil Sekutu dan dimasuki kapal selam, karena pertahanan pulau yang begitu kecil dan jaraknya jauh dari darat, sulit dapat disuplai dengan senjata (peluru) ataupun bahan makanan, dengan teratur selaras dengan kebutuhan pokok peperangan.

Tetapi Jepang agaknya berpikir, bahwa pulau ini perlu dipertahankan, karena kemungkinan harapan dari sini dapat diganggu perhubungan antara Afrika dan Australia, yang mempunyai stasiun untuk kapal terbang di Pulau Kelapa (Cocos Island) di Samudera Hindia, yang jaraknya 150 mil dari sini.

Orang di Enggano dulu sempat menerima hadiah obat-obatan dan pakaian yang diberikan Kapal Perang Angkatan Laut Belanda kepada mereka pada tanggal 10 dan 14 Februari 1948.

Bukankah pada waktu itu perjuangan kemerdekaan Indonesia masih menghadapi perjanjian Renville.

Sedangkan sejak 1945 Jepang bertekuk lutut kepada sekutu, hubungan Enggano dengan daratan Sumaterapun telah terputus.

Pertolongan obat-obatan Belanda ini, membantu mengenyahkan bahaya yang sudah membesar, akibat 4 macam penyakit yang berbahaya itu, yaitu malaria, penyakit paru-paru, beri-beri, patek

Penyakit-penyakit dapat memusnahkan kecil ini. Sampai sekarang, hubungan laut ini dipulau ini adalah masalah yang pelik.

Karang yang mengitarinya, di Samudera yang ombak gelombangnya terkenal besar, menyebabkan kapal berlabuh jauh dilaut.

Ruangan kapal yang terbatas untuk mengangkut hasil bumi yang begitu banyak, membawa beras dan keperluan sehari-sehari, adalah suatu unsur yang selalu menjadi persoalan.

Pernah pada bulan April sampai Mei 1952, rakyat disana hanya makan ubi kayu, karena supply BAMA dari Jakarta terlambat datang, karena ruangan kapal terbatas.

Beras yang dibutuhkan 3 ton setidaknya setiap bulan baru di bulan Juni tiba, pada hal ini diperlukan pada bulan April dan Mei. Satu unsur yang paling penting agaknya perlu dipecahkan, dalam melaksanakan cita membuat hidup dan kegembiraan dipulau itu dan untuk mengeksploitasi hasil fauna dan floranya yang berharga untuk kemakmuran Indonesia.

Hubungan pos yang hanya dua kali dalam tiga bulan atau dua kali dalam sebulan, bukanlah satu hal yang menggembirakan di Pulau Enggano.

Dua buah radio rimba yang terdapat di pulau itu, sampai bulan Agustus 1952 adalah satu-satunya kontak dengan dunia ramai, yang sesekali mengalami kesulitan pula untuk mencas batery atau aki yang sudah habis terpakai. ***

Sumber:

1. Republik Indonesia, Propinsi Sumatera Selatan, Kementrian Penerangan, Siliwangi-Jakarta, Agustus 1954
2. Wikipedia
3. Yuarsa, Feris (24 September 2016), Koesoema, Gandjar Santosa, ed., Mohamad Isa – Pejuang Kemerdekaan yang Visioner, Gramedia Pustaka Utama, ISBN 978-602-03-3392-2
4. http://lipi.go.id/berita/single/Enggano-Pulau-Kecewa-yang-Luar-Biasa

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here