Home Opini Kebijakan Seharusnya Dijadikan Kebiasaan

Kebijakan Seharusnya Dijadikan Kebiasaan

0
Penulis : H Albar Sentosa Subari SH SU, Ketua Pembina Adat Sumatera Selatan.

Mu’awiyah bin Abu Sufyan radiyallaahu anhu, menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, : Kebajikan seharusnya dijadikan kebiasaan, keburukan dapat menjadi watak: dan barangsiapa dikehendaki Allah menjadikan baik, maka Dia akan menganugerahkan pemahaman agama kepadanya (HR. Ibnu Majah).

Maksud hadits di atas adalah jika seseorang membiasakan dirinya berbuat baik, maka perbuatan itu akan menjadi kebiasaan dan watak pribadinya. Sifat sifat baik pada diri seseorang bisa melekat karena orang tersebut mempunyai watak baik atau bisa juga karena orang tersebut mendiplin diri untuk senantiasa berbuat baik.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda kepada Mundzir bin A’idz radiyallaahu anhu, Sesungguhnya pada dirimu terdapat dua sifat yang disukai Allah yakni lemah lembut dan sabar.

Al Baihaqi meriwayatkan bahwa Abu Hurairah radiyallaahu anhu berkata, Jadikanlah perbuatannya baik sebagai adat kamu, dan jauhkanlah kebiasaan kebiasaan yang membinasakan dirimu. Maka janganlah menganggap kebiasaan baik yang engkau lakukan hanya sebagai kebiasaan semata tanpa adanya nilai nilai ibadah di dalamnya. Orang orang yang lalai adalah mereka yang berbuat kebajikan, namun tidak mendapatkan pahala atas kebijakan, namun tidak mendapatkan pahala atas kebajikan itu, karena mereka menganggap perbuatan baiknya sebagai kebiasaan, tanpa ada nilai nilai ibadah di dalamnya.

Adapun orang orang Mukmin yang mawas diri, maka mereka menjadikan kebiasaan kebiasaan baiknya sebagai bentuk ibadah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Seperti misalnya jika hendak tidur, hendaknya kita berniat supaya kuat mengerjakan salat malam, maka dengan demikian tidur kita adalah ibadah.

Seorang muslim hendaknya selalu mempunyai harapan memperoleh pahala dalam segala keberadaannya baik itu dalam keadaan terjaga maupun dalam segala keadaan tertidur.
Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa Mu’adz bin Jabal radiyallaahu anhu dan Abu Musa al Asyaari radiyallaahu anhu pernah saling mengingatkan tentang amal shaleh. Ketika itu Mu’adz bertanya: Wahai Abdullah (Abu Musa). Bagaimana engkau membaca al Qur’an? Abu Musa balik bertanya: Kalau engkau, bagaimana. Mu’adz menjawab: Adapun aku, maka aku tidur di awal malam, lalu bangun, maka aku telah memenuhi sebagian dari tidur, lalu aku membaca apa yang telah Allah tetapkan bagiku, sehingga aku mengharap pahala dalam tidurku sebagaimana aku mengharap kan pahala saat aku terjaga.
Adapun orang orang yang lalai, adakalanya menjadikan ibadah yang ia kerjakan sebagai kebiasaan, tanpa mengharapkan pahala dan ridha Allah subhanahu wa taala.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada pahala kecuali bagi yang mengharapkannya ” (HR. Ad-Dailami). Wallaahu a’lam. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here