Home Sejarah Suku Kubu Diperbatasan Sumatera Selatan (Bagian Terakhir)

Suku Kubu Diperbatasan Sumatera Selatan (Bagian Terakhir)

0
Orang Kubu di sebuah gubuk di hutan di daerah Tebo di Residensi Jambi, April 1921
Dudy Oskandar

Oleh Dudy Oskandar
(Jurnalis dan Peminat Sejarah Sumatera Selatan)

RENCANA diatas kini berangsur-angsur dilaksanakan dan perkampungan Suku Kubu yang pertama oleh Pemerintah di Desa Jadimulyo, dalam daerah transmigrasi Tugumulyo Lubuklinggau.

Untuk taraf pertama telah ditampung sejumlah lima belas keluarga Suku Kubu dengan jumlah 60 jiwa. Mereka berasal dari hutan Talang Rawas yang terletak kira 30 km dari tempat perkampungan tersebut.

Satu per satu Suku Kubu tersebut telah datang ke Tugumulyo menyatakan kesediaannya untuk ditampung. Lama sebelum itu Kepala Kantor Jawatan Sosial Lubuklinggau, Kasim Ishak telah mengadakan kunjungan untuk pertama kalinya kedaerah mereka.

Menarik mereka sekaligus ke daerah penampungan tidak mungkin dilakukan, karena mereka masih merasa senang tinggal di hutan.

Tetapi setelah beberapa orang diantara mereka dibawa ketempat penampungan dan anak mereka dibawa ke Kota Lubuklinggau untuk disekolahkan, maka satu demi satu mereka itu datang sendiri menyatakan bersedia ditampung. Jumlah 60 jiwa diatas sungguh tepat menurut rencana semula.

Karena rumah untuk itu sudah disediakan 15 buah yang masing-masing luasnya 6 x 6 m, lengkap dengan tempat tidur dan ruangan makan, ruangan tamu dan tempat bekerja.

Tiap rumah mempunyai halaman yang luasnya 10 meter. Langkah pertama untuk memperadabkan mereka, ialah dengan jalan dimana kepada mereka diberikan dua pasang pakaian laki dan sepasang sepatu kulit hitam dan untuk wanitanya diberi kain panjang, kebaya, stagen dan lain-lain kepentingannya.

Jadi lebih dahulu dididik berpakaian. Dapat dijelaskan, meskipun diantara mereka ada yang tak pernah mandi, atau dua bulan sekali baru mandi, berkat asuhan dalam tempat penam pungan itu, kini kegemarannya untuk mandi berangsur-angsung baik.

Disamping itu telah dilatih pula cara menggunakan sabun dan mencuci pakaian. Untuk pertama kali amatlah sulit mengajar mereka untuk mencuci. Tiap kali pakaian baru yang penuh dengan keringat itu dilipatnya saja dan dimasukkannya ke dalam buntil.

Akan tetapi pada akhirnya secara berangsur angsur mereka itu pandai juga menggunakan sabun cuci dan menjemur pakaian.

Kesulitan pokok yang harus dihadapi, ialah bahwa mereka masih tebal sekali mempunyai sifat pemalas, pemalu dan keanak-anakan. Apalagi ternyata mereka sangat mudah sekali tersinggung perasaan. Jika tersinggung perasaannya sedikit saja, lalu merajuk dan mau kembali ke dalam hutan lagi, karena katanya lebih senang di dalam hutan.

Pemerintah sampai kini, harus terus mencatat berapa banyak kemungkinan penampungan orang kubu itu dapat dilakukan.

Menurut catatan Kantor Sosial Kabupaten Lubuklinggau untuk tahun 1953 akan diusahakan lagi penampungan suku kubu yang ditaksir berjumlah 500 orang.

Mereka itu umumnya masih berada dihutan-hutan Talang Kajangan sebanyak 30 orang (Topa, Pasirahnya), Ulas Mipis 300 orang (Bedul Muit, Pasirahnya), Ulas Ilir 100 orang (Al Rapat, Pasirahnya), Maur 75 orang dan Semangus 50 jiwa. Semuanya adalah rencana penampungan untuk daerah Kabupaten Musi Ulu Rawas ( sekarang jadi Musi Rawas )

Untuk Kabupaten Banyuasin kini telah mulai dilakukan penyelidikan pertama untuk kemungkinan penampungan itu. Dikampung Jadimulyo diatas pernah berjangkit penyakit kudis dan batuk.

Dalam hal ini orang kubu yang ditampung selalu mendapat kunjungan juru rawat dan dokter Pemerintah. Pada mulanya mereka tidak mau memakai obat dokter, karena mereka masih jakin dengan obat mereka sendiri, jang umumnya terdiri dari daun-daunan dan mentera-mentera.

Tetapi sekarang banyak diantara mereka yang sudah percaya dengan obat dan selalu minta obat kepada juru rawat yang mengasuhnya. Selain dari itu suatu kemajuan yang mereka peroleh ialah bahwa semuanya sudah tidak tahan lagi dengan nyamuk.

Untuk ini mereka telah diberi beberapa buah kelambu. Ketika ditanya apakah sebabnya mereka tidak tertahan nyamuk, mereka menjawab bahwa keadaan sudah berobah.

Dihutan banyak didapati obat tahan nyamuk, tapi dikampung itu tidak ada sama sekali. Selain kelambu ada juga diantara mereka yang memajukan permintaan sepeda.

Oleh Kantor Sosial dijanjikan, bahwa mereka akan diberi sepeda jika banyak membawa rotan dan hasil hutan yang dapat dijual. Usaha pertama yang telah mereka lakukan dikampung yang baru itu, ialah menanam padi. Sawah yang mereka kerjakan terletak kira- kira 40 km arah kedalam hutan dan selalu mendapat petunjuk bagaimana menanam padi menurut cara yang sebaiknya.

Tetapi sifat malasnya segera datang jika diberi makanan banyak-banyak. Pernah Kantor Sosial memberi bekal beras untuk seminggu. Beras itu dihabiskannya dalam sehari.

Setelah habis makan mereka lalu tidur saja sampai terasa lapar lagi baru bekerja. Pihak Pemerintah telah berusaha merubah cara pembagian beras begitu rupa sehingga kemalasannya tidak merugikan mereka sendiri.

Sebagian dari anak mereka kini telah dimasukkan ke sekolah di Lubuk Linggau. Mula-mula orang tua mereka tidak mengizinkan anaknya bersekolah dan tinggal dikota Linggau. Tetapi pada akhirnja mereka izinkan juga. Diantara jumlah 40 orang anak, lima belas orang telah bersekolah di Sekolah Rakyat.

Beberapa orang diantaranya telah menduduki bangku sekolah tingkatan kedua, dimana ternyata bahwa otaknya lebih cerdas dari anak yang tinggal di kota.

Lain dari pada anak yang lain, kepada anak orang kubu ini diutamakan pelajaran budi pekerti, rumah tangga, bertani dan juga pelajaran agama.

Demikianlah apa yang dapat dilakukan oleh Pemerintah untuk memper sopankan kembali orang kubu, yang merupakan sebagian dari pada bangsa Indonesia.

Kita percaja bahwa usaha Pemerintah diatas akan berhasil baik, dan akan lebih berhasil lagi, apabila mendapat sokongan dan bantuan sepenuhnya dari masyarakat.

Memperadabkan kembali suku kubu bukanlah hanya tugas dan kewajiban Pemerintah saja, akan tetapi juga menjadi kewajiban dari masyarakat umumnya. Orang kubu adalah sebagian orang Indonesia. Dan tidak ada didalam perkataan kubu mengandung artian penghinaan atau cela. ***

Sumber :

1.Republik Indonesia, Propinsi Sumatera Selatan, Kementrian Penerangan , Siliwangi-Jakarta, Agustus 1954
2.Wikipedia
3.https://www.wikiwand.com/id/Suku_Kubu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here