Home Sejarah Transmigrasi di Sumatera Selatan di 1905 (Bagian Kedelapan)

Transmigrasi di Sumatera Selatan di 1905 (Bagian Kedelapan)

0
Usaha memperbesar produksi nasional kebun sayur di Pagaralam, mendapat kunjungan Gubernur Sumsel (Sumber foto: Republik Indonesia, Propinsi Sumatera Selatan, Kementrian Penerangan , Siliwangi-Jakarta, Agustus 1954)
Dudy Oskandar

Oleh Dudy Oskandar (Jurnalis dan Peminat Sejarah Sumatera Selatan)

Daerah Transmigrasi Ex-Pejuang di Bukit Timur, Pagaralam

USAHA penampungan tenaga bekas ex-pejuang sebagai memenuhi pengumuman Pemerintah tanggal 14 Nopember tahun 1950, dilakukan. Sebagai rombongan pertama adalah anggota-anggota dari Barisan Berani Mati. Sebelum diberangkatkan ketempat kediamannya yang tetap, maka oleh Jawatan Sosial Propinsi Sumatera Selatan mereka ditempatkan terlebih dahulu di asrama Rehabilitasi Tenaga Pejuang di Sungai Buah, dekat pelabuhan Palembang.

Dari sini baru mereka dikirim ketempat yang sudah ditentukan. Ada yang ditempatkan di Palembang sendiri dan sebagian terbesar dikirim kedaerah Bukit Timur, Pagaralam (dulu masuk wilayah Lahat). Pagaralam adalah daerah terkenal dengan sayur-mayurnya, kool, bawang dan sayuran lainnya.

Dengan objek pertanian inilah juga rombongan pertama terdiri dari 180 jiwa memasuki Asrama di Bukit Timur. 180 jiwa itu terdiri dari 88 orang laki anggota B.B.M., 42 orang perempuan dan 50 anak dibawah 12 tahun. Sebelum mereka dapat berdiri sendiri, maka segala kebutuhan mereka, perumahan (asrama) ransum bahan makanan, pakaian dan sebagainya dicukupi oleh Pemerintah, yang diatur oleh Biro Rekonstruksi Nasional (BRN) Cabang Lahat dan Jawatan Sosial setempat, yang bekerja sama dengan Pamong Praja ditempat itu dalam memimpin dan menunjuk jalan bagi transmigran ex-pejuang itu untuk menempuh hidup baru didaerah baru itu.

Juga partai dan organisasi disana memberikan kerja sama yang baik guna menguatkan rasa persaudaraan. Sebagaimana diketahui tamu baru itu adalah ex-pejuang bersenjata, yang baru turun dari gunung pulau Jawa, daerah gerilya, sehingga jiwa revolusi dan jiwa ketentaraan dalam banyak hal masih melekat.

Guna menyelaraskan keadaan psikologis inilah, maka kerja sama dari Pemerintah setempat dengan partai/organisasi beserta rakyatnya, menjadi jaminan untuk kedua belah pihak dalam pergaulan yang rapat, yang selama ini menimbulkan kesan yang baik sekali, walaupun ketika baru datang karena dorongan semangat gerilya yang masih melekat, banyak buah-buahan penduduk sekitar asrama menjadi sasaran dan agak mendongkolkan hati penduduk asli

Kejadian semacam ini adalah hanya bersifat sementara saja dan selalu dapat diatasi sebaiknya. Sejenak sesudah mereka melepaskan lelah dan segala sesuatu telah di atur oleh Jawatan yang bersangkutan, maka mulailah mereka memasuki perjuangan baru.
Bedil, bambu runcing ditukar dengan pacul dan arit. Tidak semua menyemplungkan diri digelanggang pertanian; ini hanya meliputi sejum lah 60% saja, yang secara aktif menanam kool, palawija.

Ada juga yang bekerja di DPU, dan ada pula yang bekerja sebagai tenaga administratif di kantor Wedana.
Tapi ada pula yang enggan bekerja. Mereka menyesal ditempatkan di Bukit Timur. Mereka ingin kembali kelapangan ketenteraan. Dalam pergaulan sehari-hari antara mereka, alam disiplin ketentaraan agaknya masih juga berlaku dan dalam waktu istirahat banyak melakukan kunjungan perkenalan dengan penduduk asli yang sama berhasrat mempelajari adat istiadat masing dengan toleransi yang baik.

Anggota BBM bujangan yang datang sesudah rombongan yang pertama, lekas dapat memelopori asimilasi dengan mengawini gadis penduduk asli. Rasa curiga dan cemas terhadap para ex-pejuang ini kian hari kian lenyap. Dengan begitu mereka bertambah hari bertambah leluasa mencari usaha dan pekerjaan guna menambah kesejahteraan hidup mereka yang belum pernah sementara itu menemui kesulitan apa, karena sebelum mereka dapat hidup sendiri dengan hasil usahanya, mereka dibawah tanggungan Pemerintah.

Dalam lapangan politik mereka tak ikut campur. Tapi semangat ber koperasi kian tampak; begitu juga perdagangan hasil usahanya mulai berkembang. Demikianlah keadaan mereka yang membuat lembaran baru dalam sejarah hidupnya dari pemuda anggota barisan bersenjata menjadi perintis pembangunan dilapangan ekonomi. ***

Sumber:
1. Transmigrasi , Masa Doeloe, Kini dan Harapan Kedepan, Kementrian Desa , Pembangunan Daerah Tertinggaldan Transmigrasi RI, Direktorat Jendral Penyiapan Kawasan dan Pembangunan Pemukiman Transmigrasi, Direktorat, Bina Potensi Kawasan Transmigrasi, tahun 2015
2. Lampungprov.go.id/pages/sejarah-lampung
3. Republik Indonesia, Propinsi Sumatera Selatan, Kementrian Penerangan , Siliwangi-Jakarta, Agustus 1954
4. https://tirto.id/jejak-para-transmigran-jawa-di-lampung
5. https://www.harapanrakyat.com/2020/10/sejarah-transmigrasi-warisan-kebijakan-kolonial-yang-eksis-hingga-kini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here