Home Sejarah Transmigrasi di Sumatera Selatan di 1905 (Bagian Terakhir)

Transmigrasi di Sumatera Selatan di 1905 (Bagian Terakhir)

0
Pemandangan dari salah satu perkampungan transmigrasi di Lampung Selatan. (Sumber foto: Republik Indonesia, Propinsi Sumatera Selatan, Kementrian Penerangan, Siliwangi-Jakarta, Agustus 1954)
Dudy Oskandar.

Oleh Dudy Oskandar
(Jurnalis dan Peminat Sejarah Sumatera Selatan)

SELAIN Durian Mas ini, juga ada beberapa daerah yang ditempati oleh spontane kolonisten atau pemukim spontan dan buruh perkebunan yang sudah habis masa pekerjaannya dan mulai cinta pada daerah ini, lalu menetap disini.

Daerah itu adalah :

1. Talang Benih di Kecamatan Curup, pindahan dari bekas buruh perkebunan Suban Ajam.

2. Belitar, di Kecamatan Padang Ulak Tanding, didiami oleh bekas buruh perkebunan Sindang Daratan.

3. Buai Seri, di Kecamatan Kepahiang, pindahan dari bekas buruh onderneming Kota Wetan.

4. Permu, di Kecamatan Kepahiang, pindahan para bekas buruh dari perkebunan Westkust.

Kesemuanya perkampungan ini berstatuskan dusun dalam hubungan Marga, dimana Kepala Kampung menjadi kepala dusunnya yang sama kedudukannya dengan seorang gindé dari stelsel Pemerintahan Marga.

Daerah Transmigrasi asli ciptaan di alam merdeka adalah Kelilik, terletak di Kecamatan Kepahiang, dimana sejak 23 September 1952 telah didatangkan sebanyak 194 kepala keluarga meliputi 577 jiwa. Kemudian disusul pada tanggal 2 Nopember 1952 dengan 98 kepala keluarga sejumlah 432 jiwa seluruhnya.

Mereka ini adalah eks pejuang dari organisasi Pemuda Pembangun Desa.

Rencana selanjutnya adalah untuk membuka tanah seluas 400 ha yang dapat diairi.

Pokok penghidupan diseluruh daerah disebut diatas tadi adalah primair pertanian sawah dan palawija, sedangkan tak lupa sebagai usaha sambilan melakukan peternakan.

Talang Benih pun memiliki pemeliharaan/peternakan ikan mas. Kelilik baru berada dalam phase pertumbuhan sawah-ladang, disamping jalan diperkampungannya.

Dari uang sisa permakan mereka kini telah ada 4 ekor sapi. Dalam lapangan pendidikan dan pengajaran perhatiannya pun tidak mau ketinggalan.

Disamping mengirimkan anak-anaknya ke sekolah-sekolah Marga atau Negeri, maka Sekolah Agama pun banyak didirikan atas inisiatif mereka sendiri.

Masyarakat Kelilik pun sudah mempunyai sekolahan darurat, yang terdiri dari kelas 1 dan 2, dimana gurunya pun diperoleh dari kalangan mereka sendiri.

Persiapan ke arah pendirian K.P.U. kini sedang diselenggarakan sedang beberapa orang wanita dari kalangan mereka menuju Kepahiang, untuk dilatih menjadi guru P.B.H.

Selanjutnya dalam hubungan kehidupan, susila aslinya tetap terpelihara dan pula tetap mentolelir adat istiadat daerah.

Banyak pula telah mempunyai semangat berpartai dimana Masyumi, P.S.I.I., P.S.I., dan PERTI berada ditengah-tengah mereka.

Dalam hubungan pergaulan seperti inilah, mereka seterusnya melanjutkan hidup dan membangun untuk sekarang dan masa depannya.

Akhirnya kami sajikan ikhtisar Daerah yang akan dipertimbangkan untuk keperluan Transmigrasi di Sumatera Selatan.

1. Nama daerah : Kungku Klingi, didaerah Palembang :
a. luasnya 110.000 ha.
b. keadaannya antara lain mengenai pengairan : dalam tahun 1940, telah dilakukan penyelidikan dan ternyata tak baik untuk transmigrasi.
c. tempat ini masih dapat menerima keluarga sebanyak 55.000 terdiri dari 275.000 jiwa.

2. Daerah Belitang, di Palembang.
a. luasnya ada sebesar 20.000 ha.
b. keadaannya tanah datar, berimba, semuanya mendapat pengairan baik; dalam tahun 1941, ibu saluran air hampir selesai.
c. dapat menerima keluarga sebanyak 5000 yang terdiri dari 32.000 jiwa.

3. Daerah Lubuklinggau, Palembang :
a. luasnya tanah ada sebesar 6000 ha.
b. sebagian mendapat pengairan.
c. dapat menerima tambahan penduduk jang terdiri dari 1250 keluarga (6250 jiwa).

4. Kemumu di Bengkulu:
a. luas tanah dalam ha. ± seluas daerah transmigrasi Kelilik.
b. sebahagian besar dapat ditempati oleh orang baru.

5. Daerah Kota Agung, Lampung :
a. luasnya tanah ada sebesar 1400 ha.
b. keadaan tanahnya mendapat pengairan erfpacht perceel I.P.V.
c. sebahagian besar dapat ditempati.

6. Giesting, Lampung :
a. belum ada keterangan yang jelas.

7. Sukadana (Way Sekampung) Lampung :
a. luasnya tanah adalah sebesar 70.000 ha.
b. keadaan tanahnya datar, sebagian besar berimba, semuanya dapat pengairan dari air Way Sekampung. Irrigasinja sudah ada yang dapat mengairi untuk 5000 ha.
c. dapat menerima penduduk baru yang terdiri dari 25.000 keluarga (125.000 jiwa).

8. Way Seputih, Lampung :
a. belum ada keterangan yang jelas.

9. Gedong Tataan, Lampung:
a. luasnya tanah ada sebesar 20.000 ha.
b. keadaan tanahnya datar yang semuanya mendapat pengairan.
c. disini telah ditempati oleh kaum transmigrasi sebanyak 10.000 keluarga.

K e t e r a n g a n :

Angka-angka dan ikhtisar ini didapat dari laporan tahun 1940 dari Panitia Pusat Kolonisasi dari bangsa Indonesia dengan sedikit perobahan dan tambahan.

Bahan diperoleh dari:
1. Majalah Transmigrasi.
2. RencanaTransmigrasi 5 tahun.
3. Memorie Ass. Residen P.J. Junius ***

Sumber:

1. Transmigrasi , Masa Doeloe, Kini dan Harapan Kedepan, Kementrian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggaldan Transmigrasi RI, Direktorat Jendral Penyiapan Kawasan dan Pembangunan Pemukiman Transmigrasi, Direktorat, Bina Potensi Kawasan Transmigrasi, tahun 2015
2. Lampungprov.go.id/pages/sejarah-lampung
3. Republik Indonesia, Propinsi Sumatera Selatan, Kementrian Penerangan , Siliwangi-Jakarta, Agustus 1954
4. https://tirto.id/jejak-para-transmigran-jawa-di-lampung
5. https://www.harapanrakyat.com/2020/10/sejarah-transmigrasi-warisan-kebijakan-kolonial-yang-eksis-hingga-kini

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here