Home Sejarah Palembang Dibawah Pemerintahan Pendudukan Jepang (Bagian Keenam)

Palembang Dibawah Pemerintahan Pendudukan Jepang (Bagian Keenam)

0
Orang-orang yang selamat dari pertempuran Palembang (Sumatra) 15 Februari 1942. Pasukan ini tidak ada lagi setelah Pertempuran Jawa (Maret 1942). (Sumber foto: http://www.ww2incolor.com)
Dudy Oskandar

Oleh Dudy Oskandar (Jurnalis dan Peminat Sejarah Sumatera Selatan)

SETELAH masa pendudukan militer Jepang, sekolah-sekolah yang berbahasa pengantar bahasa Belanda terpaksa ditutup untuk sementara. Di dalam kerangka untuk mencapai cita-cita hakko i chiu (Kemakmuran Asia Timur Raya), guru-guru mempunyai peranan yang sangat penting dalam menanamkan cita-cita. tersebut, karenanya perlu terlebih dahulu mereka mendapat latihan khusus.

Dalam waktu yang singkat ternyata beberapa angkatan guru telah dilatih di ibukota Syuu, dan setelah itu barulah mereka ditugaskan mengajar di sekolah-sekolah rakyat (syoto syogakko dan kota syokokko) di daerah uluan. Guru-guru di dalam kota tidak luput dari latihan yang diberikan sebelum mereka menjalankan tugas di sekolah-sekolah.

Pada latihan itu mereka dilatih secara fisik, yaitu bagaimana cara melakukan gerak badan (taisyo) setiap pagi sebelum pelajaran dimulai, baris-berbaris, mempelajari bahasa Jepang dengan hurufnya (katakana, hiragama dan Honji) dan menyanyikan lagu-lagu Jepang yang penuh semangat. Karena itu ideologi Hakko Ici U yang pada dasamya merupakan alat tersembunyi ekspansi Jepang harus dipompakan kepada seluruh rakyat Indonesia di daerah ini.

Dalam melancarkan usaha tersebut di atas pemerintah Jepang membentuk barisan propaganda, yang terdiri dari pemuka-pemuka masyarakat dari daerah ini, terutama sekali guru dan kaum agama/guru agama. Barisan propaganda tersebut dikenal dengan nama Sendenbu, dan tugas utama yang dibebankan oleh Jepang kepadanya ialah menyebarluaskan ideologi Hakko Ichi U.

Dalam hal ini tidak kurang pentingnya peranan Guru yang merupakan salah satu sarana yang efektif di antara saranasarana lain. Kedatangan bangsa Jepang di daerah ini mula-mula disambut dengan hangat oleh seluruh rakyat yang ingin melepaskan diri dari penjajahan bangsa Belanda, karena Jepang dianggap sebagai juru selamat yang telah berhasil mengusir Belanda dari bumi Indonesia.
Dengan berbagai semboyan yang muluk-muluk seperti : Nippon-Indonesia sama-sama, Asia untuk bangsa Asia, Bangsa kulit putih musuh Asia, dan• lain-lain, nampaknya Jepang sudah dapat memikat hati rakyat.

Tetapi kemudian sikap rakyat berubah, karena ucapan dan semboyan-semboyan yang digembar-gemborkan itu tidak sesuai dengan perbuatan orang-orang Jepang itu sendiri. Rakyat mulai ragu-ragu dan gelisah penuh ketakutan. Semenjak Jepang menduduki daerah ini, hampir semua kegiatan di segala bidang kehidupan masyarakat terhenti untuk sementara, termasuk kegiatan pendidikan dan pengajaran.

Bidang pendidikan dan pengajaran barulah berjalan setelah beberapa bulan kemudian, yaitu setelah guru-guru mendapatkan latihan khusus dari Jepang.
Rupanya situasi/kondisi pendidikan di Sumatera Selatan berbeda dengan apa yang terdapat di Jawa dan tempat lain di Indonesia. Pada zaman kolonial Belanda baik jumlah maupun jenis sekolah yang dibuka di daerah ini tidak banyak.
Bahkan pada zaman pendudukan militer Jepang, keadaan pendidikan semakin menyedihkan karena sekolah-sekolah di zaman Belanda yang jumlahnya belum memadai semakin dikurangi.

Baik sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun yang dikelola oleh badan swasta yang berbahasa pengantar bahasa Belanda ditutup. Penutupan berbagai sekolah pada waktu itu, tidak hanya disebabkan oleh faktor tersebut di atas, tetapi juga disebabkan oleh kebutuhan Jepang akan bangunan gedung yang dipakai untuk asrama, bengkel, depot logistik dan lain-lain.
Sebagai akibat tindakan Jepang itu, maka jumlah sekolah menjadi lebih sedikit, dan boleh dikatakan keadaan pendidikan di daerah ini sangat rawan.

Sistem pengajaran yang dipakai pada waktu itu adalah sistem sebelumnya dengan ditambah beberapa mata pelajaran baru, antara lain bahasa Jepang serta hurufnya dan gerak badan (taisho) ke dalam kurikulum. Seperti yang berlaku pada waktu itu bahwa bahasa Indonesia dijadikan bahasa pengantar disemua tingkat sekolah, sedangkan bahasa Jepang dijadikan mata pelajaran wajib.

Sebelum pelajaran dimulai para murid diharuskan mengikuti upacara penaikan/pengibaran bendera Hinomaru dengan menyanyikan lagu kebangsaan Jepang (Kimigayo), menghormat (seikerei) kepada kaisar Tenno Heika di Tokyo dengan menundukkan setengah badan menjadi 90°, mengucapkan sumpah setia kepada Tenno dan kemudian diteruskan gerak badan (taisho).

Di samping sekolah-sekolah rakyat yang sudah ada di dalam kota yang berbahasa pengantar bahasa Indonesia, Pemerintah Jepang mulai membuka Sekolah Guru, Sekolah Keputrian, Misuho Gakkoen, Minarai Gakko dan Sekyu-Kahyo Gakko (Sekolah Perminyakan di Plaju).
Sekolah Guru yang dibuka adalah SyotoSihang Gakko I Kyo-in Y o-seijo yang, setingkat dengan CVO (leergang) dan Kota Sihang Gakko yang setingkat dengan Noormaal School.

Kedua sekolah ini berlokasi di Kompleks Pertokoan Gaya Baru, Palembang sekarang ini, sedangkan asramanya di Bukit Besar.
Sistem persekolahan pada zaman pendudukan militer Jepang di daerah ini mungkin juga didaerah-daerah Indonesia lainnya, banyak mengalami perubahan yang mendasar karena sistem penggolongan, baik menurut golongan etnis maupun menurut status sosial dihapuskan. Dengan demikian terjadilah pengintegrasian terhadap bermacam-macam sekolah sejenis, yaitu berbagai jenis sekolah rendah yang diselenggarakan oleh pemerintah kolonial (ELS, HIS, HCS, Schakel school, Volkschool, Vervolgschool) dilebur menjadi satu jenis sekolah rendah yang disebut Sekolah Rakyat 6 tahun (Kokumin Cakko ).

Sejak zaman itu pulalah dihapuskannya dualisme dalam dunia pendidikan dan pengajaran di daerah ini karena pemerintah militer Jepang hanyalah menyelenggarakan satu jenis sekolah rendah untuk semua golongan/penduduk/bangsa, dan hanya mempergunakan satu bahasa pengantar bahasa Indonesia. Dalam hal ini adanya kecenderungan demokratisiring dalam dunia pendidikan dan pengajaran, yang merupakan perintis bagi masa-masa mendatang. ***

Sumber:
                                                                                  1. Sejarah Perkembangan Pemerintahan di Daerah Sumatera Selatan, Pemerintah Provinsi Daerah Tingkat I Sumatera Selatan, 1996)
2. Republik Indonesia, Propinsi Sumatera Selatan, Kementrian Penerangan, Siliwangi Jakarta, Agustus 1954
3. Kepialangan Politik dan Revolusi ; Palembang 1900-1950, Mestika Zed, LP3ES, Jakarta , April 2003
4. Kota Palembang Sebagai Kota Dagang dan Industri, Makmun Abdullah dkk, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan , 1984/1985

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here