Home Sejarah Jejak Kolonialisasi hingga Nasionalisasi “Intan Hitam” di Tanjung Enim (Bagian Kedua)

Jejak Kolonialisasi hingga Nasionalisasi “Intan Hitam” di Tanjung Enim (Bagian Kedua)

0
Aktivitas di Tambang Air Laya di Tanjung Enim zaman kolonial Belanda tahun 1919 (Sumber foto: 100 Tahun Tambang Batu Bara di Tanjung Enim, Wahyu Utomo, Riri Sudirman, Balai Pustaka, Agustus 2019)
Dudy Oskandar

Oleh Dudy Oskandar
(Jurnalis dan Peminat Sejarah Sumatera Selatan)

KEGIATAN eksplorasi batu bara di kawasan Air Laya, Tanjung Enim, dimulai rintisannya pada tahun 1895 oleh sebuah kongsi dagang swasta dari Belanda yang beroperasi di sekitar Sungai Lematang bernama Lematang Maatschappij.
Lewat rangkaian penelitiannya, perusahaan ini memastikan bahwa dalam area seluas lebih dari 1.800 kilometer persegi terdapat banyak sekali kandungan batu bara.

Lematang Maatschappij yang awalnya hanya menjalankan bisnis sebagai pengepul batu bara dari masyarakat dan pedagang-pedagang kecil setempat mulai termotivasi untuk mengembangkan usaha dengan membuka lahan penambangan batu bara di Air Laya, Tanjung Enim, mengikuti jejak Ombilien-Steenkolenmijnem de Sawahluntoe.

Kendati penambangan belum dilakukan secara besar-besaran.

Mendengar adanya cadangan batu bara yang melimpah ruah di bumi Tanjung Enim, Pemerintah kolonial Belanda cepat mengutus Ir. Ziegler untuk memimpin penelitian lebih lanjut.

Penelitian ini berlanjut dengan kegiatan eksplorasi yang melibatkan banyak orang oleh pemerintah kolonial. Eksplorasi yang dimulai pada tahun 1916 ini dipimpin oleh Ir. Manhaart.

Pada tahap awal atau sekitar tahun 1917, produksi tambang batu bara di Tanjung Enim sekitar 9.765 ton. Setahun kemudian, pada 1918, produksi meningkat pesat menjadi 50.312 ton. Saat itu dengan skala produksinya, tambang di kawasan Tanjung Enim tercatat sebagai penghasil batu bara terbesar di tanah terjajah Nusantara.

Setelah melewati seluruh studi kelayakan dan diprediksi akan menguntungkan, pada tahun 1919 kegiatan penambangan oleh Lematang Maatschappij resmi diambil alih Pemerintah Kolonial Belanda berdasarkan Statblad No. 198 tahun 1919.

Area penambangan Boekit Asam Mijnen Kolen atau Tambang Batu Bara Bukit Asam secara lebih komprehensif didirikan.

Dalam buku otobiografi A. O. Tambunan, Kepala Perusahaan PN Tambang Arang Bukit Asam pertama, nama Ir. Ziegler mulanya tercatat sebagai pimpinan tambang batu bara Pulau Laut —lokasinya kini telah menjadi Desa Sebelimbingan, Kecamatan Pulau Laut Utara, Kabupaten Kotabaru, Banjarmasin.

Sosok Ziegler pantas dicatat karena simpatinya terhadap masyarakat pekerja pribumi, kendati kariernya dalam dunia pertambangan sebenarnya tak begitu bersinar.

Selama memimpin di penambangan Pulau Laut, pernah terjadi dua kali insiden ledakan gas dan satu kali kebakaran di lubang sumur. Di masa itu, penambangan menggunakan metode underground mining yang mengharuskan para pekerja menggali batu bara di bawah tanah (lubang sumur).

Insiden yang susul-menyusul ini, diperparah dengan kondisi ekonomi yang sulit, pada akhirnya menyebabkan pertambangan mati. Tapi siapa pun tahu, Ziegler tidak melulu dikenang karena kecelakaan kerja ini.

Menurut pengakuan A. O. Tambunan, Ir. Ziegler merupakan sosok yang adil. la tak membedakan antara orang Eropa kulit putih dengan orang pribumi. Padahal dalam sejarahnya, pemerintah kolonial senantiasa menerapkan praktek diskriminasi yang ketat di antara pekerja tambang. Baik melalui sistem upah, jabatan, maupun fasilitas tunjangan. Oleh karenanya sangat disayangkan karier kepemimpinan Ir. Ziegler berlangsung sekitar dua tahun saja.

Ir. Ziegler dalam penyelidikannya, melihat daerah Lematang itu mengandung batu bara dalam jumlah yang besar sekali, meliputi areal seluas tidak kurang dari 1800 km2.

Penyelidikan selanjutnya memberikan angka yang mengagumkan, yaitu suatu taksiran dari 910 juta ton.

Inilah terutama salah satu motip yang menggerakkan Pemerintah Hindia Belanda mengekspolitasi sendiri dan tidak mengizinkan modal asing ikut serta didalamnya, walaupun Agrarische Wet dari tahun 1870 telah mengizinkan modal dan pengusaha asing bercokol di bumi Indonesia pada waktu itu.

Dan begitulah menurut sejarahnya pada tahun 1913 mulai dibuka per tambangan batu bara dengan nama Bukit Asam Mijnen (B.A.M.).

Segera sebelum pekerjaan dapat dimulai, maka didatangkan dari Bangka dan Jawa, kuli kontrak yang pada masa itu pun masih berlaku Poenale Sanctie (sanksi hukuman pukulan dan kurungan badan yang dijalankan oleh kolonial Belanda yang berlaku di Suriname dan Hindia Belanda) atasnya, yaitu suatu hak menghukum dari pihak majikan atas pelanggaran kontrak oleh pihak kuli-kontrak.

Hukumannya tidak habis pada penjara di Muara Enim saja, akan tetapi sebelumnya itu tempelengan, pecutan dan tendangan adalah merupakan hukuman biasa.

Tidaklah mengherankan, bahwa dikalangan para pekerja itu tumbuh suatu akhlak yang seolah memaksa mereka acuh tak acuh terhadap pergaulan yang baik, memaksakan mereka menjadi orang yang bengis dengan pengertian, bahwa siapa kuat dia raja, yang lemah adalah budak dan makanan si kuat.

Perkelahian adalah soal yang amat biasa, antara kuli-kontrak bangsa Indonesia dengan kuli-kontrak bangsa Tionghoa yang didatangkan dari Bangka dan terkenal dengan istilah “Cina Parit” dengan kandungan arti orang buangan dan nekat-nekatan.

Tidak kurang dari 1200 kuli bekerja pada waktu itu di Tanjung Enim dengan upah F. 0.35 sehari, kemudian dipotong pula F. 0.15 untuk ransum makanan jang diberikan kepada mereka tiap harinya.

Upah yang rendah ini dan keadaan pergaulan disekelilingnya, ditambah pula dengan sifat pekerjaan yang tidak mudah itu, menghidupkan hasrat tidak kerasan dan tidak betah serta senantiasa upaya untuk melarikan diri dari lokasi pertambangan terutama kuli-kontrak yang banyak didatangkan dari Jawa.

Bila tidak tertangkap, maka selamatlah dia . Tetapi sebaliknya bila ia dapat diketemukan, maka bukan saja penjara Muara Enim menjadi bagiannya, melainkan sebelum itu dia didera sebatan rotan dan lain-lain hukuman pendahuluan yang harus diterimanya. ***

Sumber:

1. Republik Indonesia, Propinsi Sumatera Selatan, Kementrian Penerangan , Siliwangi-Jakarta, Agustus 1954
2. Wikipedia
3. 100 Tahun Tambang Batu Bara di Tanjung Enim, Wahyu Utomo, Riri Sudirman, Balai Pustaka, Agustus 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here