Home Palembang Rencana  “Jembatan Bahtera Sriwijaya”

Rencana  “Jembatan Bahtera Sriwijaya”

0

Disambut hangat oleh  masyarakat Pantai Timur Oki, khususnya Kecamatan Tulung Selapan dan Kecamatan Cengal.

Jembatan Bahtera Sriwijaya yang dicanangkan oleh Gubernur Sumatera Selatan, dan telah disepakati bersama dengan Gubernur Bangka Belitung, yakni Bapak Herman Deru dan Bapak R Jali Rosman,  merupakan Proyek besar yang mengagumkan dan  Spektakuler bagi kedua Provinsi. Diekspose bersama pada Bulan Desember 2020. Rencana tersebut disambut baik oleh masyarakat Pantai Timur OKI, khusus  Masyarakat Kecamatan Tulung Selapan dan Kecamatan Cengal.

Kegembiraan itu diwujudkan oleh masyarakat di kedua Kecamatan tersebut dengan membentuk Forum Komunikasi Masyarakat Kecamatan Tulung Selapan dan Kecamatan Cengal  ( FORKOMK2TSC)yang Diresmikan pada Hari Sabtu, tanggal 27 Februari 2021 di Pondok Pesantren Nurul Huda Sukowinatan Palembang, di Kota Palembang. Forum itu detuainya oleh Bapak Ustadz Husni Thamrin, sebagai pemilik Pesantren Nurul Huda Sukowinatan, dan Sekretaris nya adalah Bapak Guntur Melian, serta Bendaharanya adalah Bapak H Dano Bujang.

Pembangunan Jembatan tersebut akan membuka dan menembus ketertinggalan dikedua Kacamatan tersebut dalam bidang Transportasi Darat di Kabupaten Ogan Komering Ilir ( OKI) maupun Kabupaten Bangka Selatan Bangka Belitung.

Jembatan  Bahtera Sriwijaya adalah merupakan  penghubung kedua Provinsi, yakni Provinsi Sumatera Selatan dengan Provinsi Bangka Belitung.

Tepatnya terletak di Desa Tanjung Tapa Kecamatan Tulung Selapan, Kabupaten  OKI dengan Desa Sebakin Kabupaten   Bangka Selatan, Provinsi Bangka Belitung.
Adapun rencana Pembangunan  Proyek Jembatan Bahtera Sriwijaya dengan panjang   13.5 Km, dan akan dimulai pembangunannya pada tahun 2024. Luar Biasa.
Kita berharap, dan semoga ini bisa terealisir.

Proyek tersebut merupakan beberapa proyek besar yang telah dibangun di Sumatera Selatan. Pertama adalah jalan Tol yg menembus dan menghubungkan  Provinsi Lampung dan Provinsi Sumatera Selatan yang bermula dari Bakauheni Lampung hingga Kota Palembang,  juga melalui Kabupaten  OKI.  Artinya Kabupaten OKI  dilalui  2 ( dua) proyek Nasional dan sekaligus  mengagumkan, serta membanggakan, sehingga menjadi  kebanggaan  masyarakat Sumsel.

Namun kepada masyarakat diharapkan,  harus siap-siap,  menerima segala konsekwensi dr pembangunan tersebut, karena jangan sampai dengan adanya pembangunan ini merugikan masyarakat terutama terhadap tanah atau lahan milik masyarakat yang dilalui pembangunan tersebut,  jangan sampai menghilangkan mata pencaharian masyarakat seperti lahan Karet, Sawah, tempat pencarian ikan, Rumah Burung Walet dan sebagainya
Pembangunan kedua Proyek tersebut tentunya diharapkan akan membawa dampak perbaikan bagi masyarakat dalam berbagai bidang seperti  Ekonomi, Budaya, Hukum, Agama dan lain lain, khususnya Kabupaten OKI  dan Provinsi Sumsel pada umumnya.
Perbaikan itu tidak hanya sekedar berbentuk fisik,  yakni transportasi, guna memperlancar arus lalu lintas barang dan  jasa serta org  dari dan ke dua Wilayah tadi,  akan tetapi yang lebih penting diharapkan adalah adanya perubahan terhadap akhlak, moral  dan tingkah laku,  serta kesejahteraan bagi masyarakat yang dilalui oleh kedua proyek tersebut

Saya ingin mencoba mengulas sedikit kondisi Kabupaten OKI terutama Kecamatan Tulung Selapan dan Kecamatan Cengal.  Pembangunan Jembatan Bahtera Sriwijaya tersebut sangat dibutuhkan untuk memperlancar arus  barang dan jasa serta orang dari dan ke kedua Provinsi tersebut. Kondisi di kedua Kecamatan diatas ( Kecamatan Tulung Selapan dan Kecamatan Cengal),  yang merupakan perlintasan atau yang akan dilintasi oleh pembangunan dimaksud.

Di kedua Kecamatan tersebut  diatas kondisi jalan atau transportasi daratnya sangat menyedihkan dan memprihatinkan,  sepertinya belum layak bila disebut sebagai sebuah  Kecamatan jika dibandingkan daerah lain.

Dimana jarak antara Tulung Selapan dengan Kota Palembang tak lebih berjarak sekitar 115 km, ditempuh dengan perjalanan selama 3 jam, dan bahkan bisa lebih.
Demikian pula Kecamatan Cengal dengan Kota Palembang yang berjarak tak lebih 140 km, bisa ditempuh dengan memakan waktu 4 jam.

Kondisi jalan di kedua Kecamatan ini  berlumpur, belum beraspal, dan tak terawat, sehingga tidak jarang jika ada orang yang sakit, kemudian dibawa ke Palembang meninggal di tengah perjalanan. Sungguh- sungguh memprihatinkan.
Lebih memprihatinkan lagi adalah  tingkat kerusakan akhlak dan moral masyarakat, dimana   tingkah laku atau akhlak masyarakatnya sungguh menyedihkan.
Ditengah-tengah Masyarakat di kedua Kecamatan tersebut saat ini tak jarang menjadi tempat peredaran  “ Narkoba, Tipsani ( tipu sana sini) via SMS,  Pembobolan Bank atau ATM perampokan  dengan Senjata Api, perjudian,  Nyabung Ayam dan sebagainya”.
Kejahatan seperti diatas tidak saja dilakukan oleh kaum  Laki-laki, namun sudah  melibatkan para Ibu-ibu Rumah Tangga dan Anak-anak Sekolah.
Kita semua sudah tahu serta mendengar melalui Media Cetak dan Elektronik, kejadian-kejadian diatas diekspose secara luas.

Penyuguhan info tersebut bukannya membuat para pelakunya menjadi jera, akan tetapi sepertinya berita itu menjadi semacam sumbu atau amunisi bagi pelaku-pelaku kejahatan tadi.

Apa buktinya, bahwa kejahatan semacam itu semakin hari semakin merebak dan meluas.  Hal itu bisa dilihat dengan kasat mata bahwa di Daerah tersebut tidak jarang ada operasi untuk menangkap para pelaku kejahatan itu perlu didatangkan  Aparat Keamanan dari Palembang bahkan Jakarta.

Menjadi aneh dan pertanyaan yg tak habis-habisnya, adalah bahwa di Kabupaten OKI  sudah ada Aparat Keamanan yang fungsi dan tugasnya untuk menegakkan keamanan dan ketertiban dalam masyarakat dan dapat menindak kejahatan-kejahatan semacam itu.
Pertanyaan lanjutan,  adalah apakah Aparat Keamanan yang ada,  khusus di Kab OKI sudah tidak mampu lagi untuk menangani tugas-tugas semacam  itu….?
Jika pertanyaan itu dijawab ia…., maka kemana masyarakat untuk mencari perlindungan agar Keluarga mereka terhindar dari kejahatan-kejahatan yang ada sekitar lingkungan mereka.

Mungkinkah masyarakat bisa berlindung dengan Kades-kades atau perangkat Pemerintah diatasnya yang ada, agar Keluarga mereka aman, terhindar dari perbuatan semacam itu. Sepertinya pertanyaan semacam itu hanya sia-sia. Mengapa, karena sepertinya Kades-kades dan yang lainnya juga sudah tak berdaya, bukan karena abai atau tutup mata, sepertinya tidak, maka pernyataan semacam  ini masih perlu dilakukan penelitian lebih lanjut.

Mungkinkah para Kades-kades dan perangkat Pemerintahan  lainnya sibuk dengan Dana Desa, sehingga tidak sempat memperhatikan kondisi masyarakat yang banyak dan sudah terjerat atau terlibat dengan kegiatan atau kejahatan seperti di atas.
Bila kita katakan itu betul, bahwa  Kades-kades dan  perangkat lainnya  itu sibuk dengan Urusan Dana Desa yang dikucurkan oleh Pemerintah Pusat yang jumlah milyaran per Desa nya setiap tahunnya, maka perlu dilakukan penelitian mendalam tentang penggunaan Dana Desa itu.

Dana Desa itu sama sepertinya menyiramkan GARAM KELAUT, jalan tetap rusak, tak  berujung dan berkesudahan. Penggunaan Dana Desa itu  sepertinya baik-baik saja tak pernah ada masalah.

Lalu apa yg salah, ini yang memerlukan penelitian lebih lanjut.
Kita khawatirkan dengan adanya pembangunan Jalan Tol dan Jembatan Bahtera Sriwijaya tidak menciptakan  perbaikan bagi masyarakat sekitarnya, untuk itu, maka pemda perlu melakukan perubahan program  dan strategi dalam melakukan  perbaikan terhadap  tingkat masyarakat bawah, sehingga pembangunan itu bisa menghasilkan perbaikan bukan malah yang sebaliknya. Dana Desa yang seharusnya untuk menciptakan Kesejahteraan, dibidang Kesehatan, Ekonomi, dan Sosial Budaya dll bisa lebih diefektifkan dan diefisienkan lagi, sehingga tepat guna dan tepat sasaran.

Apabila tidak dilakukan  perbaikan terhadap masyarakat yang dilalui baik Jalan Tol, maupun Jembatan Bahtera Sriwijaya nantinya, maka bukan tak mungkin pembangunan itu  akan  semakin mempercepat dan memperlancar proses lalu lintas kejahatan seperti yang telah diuraikan diatas.

Oleh karena itu pembangunan Jalan Tol dan Pembangunan Jembatan Bahtera Sriwijaya harus juga memperhatikan dan melibatkan  masyarakat yang ada di sekitarnya.
Sebelum terlambat ada baiknya barangkali Pemda OKI menelisik dan mengamati lebih jeli dan teliti tentang kejahatan-kejahatan yang ada di dua Kecamatan tadi, apa penyebabnya, karena  semakin merebak dan meluas.

Tujuan Dana Desa yang diprogramkan oleh Pemerintah Pusat adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, bukan justeru sebaliknya.

Bertitik tolak dari keprihatinan diatas, maka masyarakat dari kedua Kcamatan tadi, yakni Kecamatan Tulang Selapan dan Kecamatan Cengal baik yang berdomisili di Palembang dan yang ada di perantauan seperti Jakarta, Bangka Belitung,  Bengkulu, Banten, Semarang, Bandung dll bersepakat  untuk mencoba melakukan perbaikan terhadap masyarakat tersebut melalui Forum Komunikasi Masyarakat Kecamatan Tulung Selapan dan Kec Cengal ( FORKOMK2TSC), salah satu  tujuan  pembentukannya adalah untuk melakukan perbaikan atas kerusakan akhlak dan moral masyarakat yang telah terjadi dan sangat mengkhawatirkan.
Melalui Forum diatas, ada beberapa kegiatan yang akan dilakukan, yakni berupa memberikan  Pembinaan Akhlak dan Moral masyarakat yang sudah mencapai tingkat mengkhawatirkan, dan menimbulkan kegelisahan  yang mendalam.

Forum akan melakukan Dakwah, Penyuluhan dalam berbagai bidang, seperti bidang Agama, Pendidikan, Hukum, dan Lingkungan Hidup dan lain lain.

Mudah-mudahan Allah SWT meredhoi Forum ini demi  kepentingan Bangsa, Negara, Ummat dan masyarakat luas.

Oleh : Lamtasim Dasustra (cc Sribubatin) Putra Daerah  berdomisili di Jakarta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here