Home Sejarah Kisah P. E. E. J. Le Cocq d’Armandville, Sang Wali Kota Palembang...

Kisah P. E. E. J. Le Cocq d’Armandville, Sang Wali Kota Palembang (Bagian Kedua)

0
P. E. E. J. Le Cocq d'Armandville waktu muda. (Sumber foto: Komunitas kolese le Cocq D'Armanville)
Dudy Oskandar

Oleh Dudy Oskandar
(Jurnalis dan Peminat Sejarah Sumatera Selatan)

Untuk memastikan bahwa air bersih itu laku dijual dan dibeli oleh masyarakat, maka dibuatkanlah ordonantie (peraturan pemerintah) yang berbunyi : bahwa setiap warga Gemeente adalah verplicht (wajib) menjadi langganan dengan memasang waterleiding disetiap rumahnya, sedangkan tarifnya tergantung dengan pemakaian. Kemudian langkah lain adalah mematikan sumber air penduduk yaitu anak-anak sungai akan dimatikan dengan menutup muaranya dan ditimbun dengan pasir.

Guna menghindari banjir akibat ditertimbunnya anak-anak sungai ini, maka beberapa sungai besar akan digali lebih dalam. Yang pasti Sungai Tengkuruk (sekarang tepat berada dibawah jalan Sudirman dari muaranya dikaki Jembatan Ampera hingga simpang jalan Kapten Cek Syeh) ditimbun dan dijadikan jalan (Jalan Tengkuruk).

Akibat peraturan Wali Kota ini tidak membuat masyarakatnya menjadi senang, bahkan menjadi menderita.

Dapat dimengerti keluhan masyarakat, selain pemaksaan pembelian air bersih juga nafas kehidupannya dengan anak-anak Sungai Musi menjadi terputus.

Le Cocg terus mencari celah mendapatkan dana bagi pembangunan kota Palembang. Telah lama Wali Kota ingin memenuhi permintaan dari pihak Standard Oil Company untuk mendirikan pompa bensin dipekarangan Masjid Agung.

Di pekarangan Masjid ini (dekat dengan Kantor Pos) merupakan terminal kendaraan umum, dan pusat lalu lintas pada zaman itu.

Bukankah pompa bensin adalah suatu jasa bagi masyarakat dan pemasukan bagi Haminte.

Dia minta pendapat kepada penghulu Masjid Agung. Penghulu Masjid Agung dan Demang Seberang Ilir sebenarnya tidak dapat berbuat apa apa atas keinginan sang Wali Kota ini.

Dengan rondschrijven (surat edaran), Wali Kota minta pendapat Anggota Dewan, apakah dapat mendukung pendirian pompa bensin dipekarangan Masjid Agung dan rencana ini telah disepakati oleh penghulu Masjid Agung dan Demang, bahwa pompa bensin itu tidak mengganggu agama Islam.

Berbagai reaksi dan pendapat datang dari Anggota Dewan, yang dibuat didalam bijvoegsel (lampiran) dari surat edaran Walikota.

Surat edaran dengan lampirannya sampai pula ketangan Raden Ibrahim, Anggota Dewan.

Oleh Raden Ibrahim dibuatlan catatan pinggir pada lampiran itu “geheeleens” (setuju semuanya) dengan tambahan catatan : bahwa keterangan yang dibuat oleh Wali Kota itu tidak sepenuhnya benar, sebab Demang dan Penghulu ketakutan, mengingat cara cara Le Cocg ketika masih menjabat di HPB.

Sementara itu rumor tentang pendirian pompa bensin di pekarangan Masjid Agung ini sampai kepada Tideman, Residen Palembang.

Secara kebetulan Residen sedang tidak akur dengan Wali Kota Palembang, bahkan hubungan ini telah menjadi perseteruan.

Kekeliruan demi kekeliruan Wali Kota menjadi catatan bagi Residen untuk dilaporkan kepada Pusat. Suasana ini membuat Le Cocg jadi salah tingkah.

Pada suatu saat dia mendatangi kantor Demang, yang kebetulan ada pula Raden Ibrahim diruangan Demang tersebut.

Dengan garang dia menanyakan kepada Demang, apakah agama Islam akan terganggu jika didirikan pompa bensin dipekarangan Masjid Agung.

“Tidak”, jawab Demang, “Meskipun ditambah dengan 10 pompa bensin” dengan jawaban Demang ini.

Le Cocg lalu menunjukkan catatan Raden Ibrahim didalam surat edaran Wali Kota, sambil menghempaskannya diatas meja.

Melihat tindakan Le Cocg tersebut, kontan saja Raden Ibrahim menghamburkan kata: “Benar agama Islam itu sendiri tidak terganggu dengan pendirian pompa bensin dipekarangan Masjid, akan tetapi perasaan umatnya yang menjadi terganggu”.

Mendengar pernyataan itu, Le Cocg tidak dapat menahan diri dan terlempar bentakan “god verdomme” kepada Raden Ibrahim, dan melepaskan serangkaian kata-kata pedas dalam Bahasa Melayu (waktu itu belum dipakai bahasa Indonesia). Makian “brutal?”, “kurang ajar” serta sebutan “kamu”, satu sapaan yang tidak hormat pada waktu itu, karena biasanya dipergunakan sebutan Tuan, Meneer atau Uw, meluncur dari mulut Wali Kota.

Ternyata Le Cocg menemukan bukunya, Raden Ibrahim bukan inlander yang diperkirakan oleh Le Cocg, dia adalah nasionalis yang perkasa.

Makian “god verdomme” kontan dijawab dengan lebih nyaring lagi dengan kata yang sama, demikian pula “kamu” dibalas dengan “kamu” oleh Raden Ibrahim kepada mantan chef (atasan) sewaktu dikantor Residen.

Diluar dugaan Le Cocg, bahwa dia mendapat perlawanan, maka dengan bergetar dia memerintahkan sambil menunjuk Raden Ibrahim : “Ayoh kamu duduk !” Atas perintah ini Raden Ibrahim menunjukkan siapa dirinya “Ik ben niet van U afhankelijk” (saya bukan bawahan anda !). ***

Sumber:

1. Dicari Walikota Yang Memenuhi Syarat, Djohan Hanafiah, KKP 2008
2. Palembang-tourism.com/berita-334-bangunan-bersejarah-kota-palembang.html
3. https://beritapagi.co.id/2019/01/20/palembang-di-tahun-1906-1942.html

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here