Home Sejarah Pertualangan Pangeran Syarif Muhamad (Bagian Kedua)

Pertualangan Pangeran Syarif Muhamad (Bagian Kedua)

0
Benteng Istana dan sistem pertahanan di Palembang. (Sumber: Mayor Wiliam Thorn “ Memoir Of The Conquest Of Java . 1815)
Dudy Oskandar

Oleh Dudy Oskandar
(Jurnalis dan Peminat Sejarah Sumatera Selatan)

“I am not like other native princes. I dread nobody whoever he might be, I shall listen to nobody and let me not hear this a second time”.

(Saya bukan seperti pangeran-pangeran pribumi yang lain. Saya tak gentar dengan siapapun orangnya. Saya tak akan mendengarkan dari siapapun dan jangan sampai saya mendengar ini sekali lagi). Sultan Mahmud Badaruddin II (C.E. Wurtzburg, 1954).

Namun selama bulan-bulan mendatang, ketika tahun 1810 berganti 1811 dan persiapan armada sedang dilakukan di India, surat-surat terus dikirim antara Malaka dan Palembang. Badaruddin menegaskan persahabatannya dengan Inggris dan ketidaksukaannya terhadap Belanda, namun dia masih cenderung mengulur-ulur waktu.

Dia tampaknya juga menunjukkan percikan hati nurani yang merasa bersalah: Belanda dibiarkan masuk ke dalam kerajaan dengan ketentuan yang layak oleh leluhurnya, dan mereka membawa keuntungan tertentu untuk istana selama bertahun-tahun, katanya.

Di sisi lain Raffles semakin giat dalam usahanya untuk membuat sejumlah rencana pasti dan menyingkirkan Belanda dari Palembang.

Pada Maret dia mengirimkan perjanjian sesungguhnya menyeberang Selat Malaka untuk ditandatangani Badaruddin.

Perjanjian tersebut penuh dengan kata-kata lebih kasar bagi Belanda, menyatakan bahwa sesudah penandatanganan perjanjian istana Palembang akan membatalkan seluruh perjanjian dan kesepakatan dengan Belanda, mendeklarasikan kemerdekaan total, dan kemudian menyetujui “tidak akan pernah menerima kembali kedatangan Residen semacam itu. atau agen kekuasaan asing apa pun kecuali lnggris, yang akan memiliki kebebasan untuk mendirikan pabrik sebagaimana selanjutnya.

”Isinya yang paling mendesak adalah klausul kedua yang menyatakan bahwa ‘Yang Mulia Sultan dengan ini menyetujui mengeluarkan dari wilayahnya Residen Belanda yang sekarang dan seluruh orang yang bertindak di bawah wewenang Pemerintah Belanda.”

Para ahli sejarah Belanda yang patriotik sudah sering membahas bagaimana frase ‘mengeluarkan dari wilayah“ disampaikan dalam versi Bahasa Melayu setempat yang dikirimkan kepada Sultan Badaruddin.

Versi aslinya telah hilang, namun dalam salinan kasar yang kelak muncul kata-kata seperti “buang habiskan sekali-kali“. Terjadi debat yang tidak perlu akan bagaimana sesungguhnya menterjemahkan frase sangat sederhana itu yang sebagaian besar penutur bahasa Melayu atau Indonesia menjelaskan hampir seperti ‘buang” [secara harfiah] dan “habiskan hingga tuntas” jelas mengancam, namun masih ambigu sebagai instruksi.

Para ahli sejarah penutur bahasa lnggris dari tim Raffles kemudian menganggap salinan kasar tejemahan perjanjian itu: tidak bisa di percaya meski di frase yang sangat serupa~penuh dengan “throwing out” (buang) dan ‘striking’ (serang)-muncul dalam naskah asli surat-surat Raffles berbahasa Melayu lain ke Palembang yang masih ada.

Semua itu adalah masalah yang cukup sederhana, dan bahkan jika bahasa Melayu Raffles tidak sebaik yang sering diklaim beberapa orang, dia masih mengerti intisarinya, dan tentu kesimpulannya, ketika terjemahan dari tulisan bahasa Inggrisnya dibacakan kepadanya.

Raffles juga melampirkan penjelasan isi perjanjiannya untuk Sultan Badaruddin, memberitahu Sultan bahwa kalau dia menghargai kemerdekaannya, dia harus mengenyahkan beban penjajah Belanda yang menekannya, tidak peduli seberapa ringannya-sebelum Inggris merampas Jawa.

Bagaimana pun keadaan sebenarnya, orang Eropa menganggap Palembang sebagai jajahan Belanda Jawa; kalau Batavia jatuh, Palembang menjadi milik Inggris dan tidak akan ada ruang untuk negosiasi kembali dengan tuan yang baru.

Raffles sudah geregetan karena lambannya kemajuan perundingan dengan Palembang, namun dia setidaknya telah membuat Badaruddin tahu akan keinginannya, telah menunjukkan sifat jahat Belanda yang sesungguhnya, dan menekankan betapa bahagianya Inggris kalau bisa mendengar bahwa Belanda telah disingkirkan dari kota tersebut.

Dia juga telah memberikan Badaruddin penjelasan yang sangat jelas akan sifat terbatas kekuasaannya kelak jika mereka tidak mengusir Belanda sebelum Batavia jatuh. Kemudian pada malam keberangkatannya dari Malaka pada bulan Juni, Raffles mengirimkan surat resmi lain ke Palembang dan dengan hadiah luar biasa:

“Karena Belanda berada di Palembang, aku kirimkan empat peti berisi 80 senapan serta 10 keranjang pelum yang diisi dengan bubuk mesiu dan gotri.” Kata Raffles dalam suratnya.

Thomas Stamford Raffles mungkin tidak meminta secara langsung untuk membasmi komunitas Eropa kecil yang kesepian di Palembang; dia bahkan mungkin tidak menginginkannya (meski pengiriman senjata merupakan tindakan yang bisa menjebak). Namun melalui kombinasi ketamakan dan kenaifan dia telah menenggelamkan Belanda di Sungai Musi.

Namun mengapa Raffles begitu berharap Sultan Badaruddin menghancurkan pos Belanda dan mendeklarasikan kemerdekaan sebelum Inggris mencapai Jawa?Jawabannya tentu saja ketamakan dan hal itu jelas menunjukkan seberapa liciknya Raffles sebagai pengatur siasat.

Dalam penjelasannya mengenai ketentuan perjanjian yang diusulkan, Raffles mencoba menyakinkan Badaruddin bahwa Inggris memiliki wilayah dan kekuasaan yang begitu besar di Benua India… dalam kemajuannya menuju timur tidak di gerakkan sikap tamak dan serakah sebagaimana Belanda.

Namun kenyataannya, itulah motif awal yang tepatnya telah menarik perhatian Inggris ke Palembang.

Namun sewaktu dia memulai surat-menyurat dari Malaka, Raffles telah memberitahu Lord Minto lewat surat bahwa “Sultan Palembang merupakan salah seorang pemimpin Melayu yang terkaya, dan benar-benar memiliki gudang dipenuhi dolar dan emas yang ditimbun oleh para leluhurnya.”.

Penjelasan seperti itu cukup untuk memicu kecenderungan gelap pada kaum penjajah, namun yang membuat Raffles begitu tertarik bukanlah dolar melainkan kekayaan alam yang mendatangkannya.

Sebagian besar pedalaman Palembang mungkin hutan, namun sultannya juga merupakan penguasa pulau tidak rata sepanjang 160 kilometer yang berada di seberang muara Sungai Musi.

Namanya Pulau Bangka, dan pulau tersebut mempakan sumber terkaya timah di seluruh Hindia.

Penduduk setempat pulau tersebut dan pulau tetangganya yang lebih kecil, Belitung-selalu mendulang biji hitam di sungai berlumpur yang mengalir melewati bukit berbatu, dan pada abad sebelumnya industri pertambangan yang terorganisir telah didirikan oleh imigran Tionghoa. Sebagian besar timah yang mereka tambang dikirim ke Tiongkok untuk digunakan membuat uang arwah sepuhan yang dibakar di kuil untuk persembahan.

Kakek Sultan Badaruddin dulu membayar V0C untuk membantunya dalam perebutan kekuasaan melawan kakaknya dan ketika dia naik takhta, dia menandatangani perjanjian dengan orang Belanda yang memberi mereka sebidang tanah untuk pos di seberang istananya dan kontrak untuk pengiriman timah tahunan dengan harga yang sudah diatur sebelumnya dalam koin perak. Perjanjian itu sungguh menguntungkan kedua belah pihak. ***

Sumber :

1. Dicari Walikota Yang Memenuhi Syarat, Djohan Hanafiah, KKP 2008
2. https://beritapagi.co.id/2018/02/01/tipu-muslihat-raffles-taklukkan-palembang
3. Tim Hannigan 2012” Raffles And
British Invasion Of Java”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here