Home Sejarah Pertualangan Pangeran Syarif Muhamad (Bagian Pertama)

Pertualangan Pangeran Syarif Muhamad (Bagian Pertama)

0
Gerbang Benteng Kuto Besak di Palembang. (Foto diambil oleh Soldier W. F. J. Pielage tahun 1946)
Dudy Oskandar.

Oleh Dudy Oskandar
(Jurnalis dan Peminat Sejarah Sumatera Selatan)

KISAH ini adalah tentang seorang tokoh antagonis dalam drama panjang kejatuhan Kesultanan Palembang Darussalam.

Namanya tercetak didalam arsip, laporan, esai, roman dan buku sejarah Belanda dan Inggris.

Dikenal sebagai seorang Syarif. Ayahnya seorang Arab yang dihormati dan ibunya seorang ningrat Palembang.

Menurut Snouck C.Hurgronje(1900), gelar Syarif berarti yang mulia, sedangkan Sayid artinya tuan.

Di Nusantara pada saat itu, menurut Hurgronje, betapa masyarakat pribumi sangat mendalam rasa takutnya dan keseganan serta takhyul jika mereka berhadapan dengan para Sayid dan Syarif.

Sang tokoh ini bernama Syarif Muhamad. Oleh karena ibunya adalah ningrat yang tinggi dalam keraton Palembang, maka dia dianugerahi gelar Pangeran.

Pangeran Syarif Muhamad jika menurut istilah keraton Mataram, termasuk bandara: kerabat raja terdekat.

Berkemungkinan merasa dirinya seorang Syarif yang Pangeran, maka dia melecehkan adat istiadat keraton. Tanpa seizin dan sepengetahuan Sultan Mahmud Badaruddin II, dia memperisteri wanita ningrat dari Mentok (Bangka).

Peristiwa imi merupakan awal pertentangan dia dengan Sultan. Dia diusir dari kalangan keraton dan isteri Mentok-nya harus diceraikan.

Bagi Syarif Muhamad dunia ini tidak selebar daun kelor, maka berangkatlah dia melanglang buana ke Semenanjung Malaka (Malaysia sekarang ini).

Dapat diperkirakan bahwa kepergiannya ini bukan hanya “merajuk”, tapi penuh dendam dengan Sultan.

Pertama dia mengadu nasib ke Kedah, tetapi disini dia tak terlalu lama. Dia pindah ke Melaka dan bekerja pada Inggris, pada saat Inggris sedang bersiap diri untuk menyerbu Jawa, pusat kolonial Belanda di Nusantara.

Thomas S.Raffles adalah orang yang bertanggung jawab atas kampanye dan operasi pendudukan Pulau Jawa. Dia merekrut para pedagang dan pelarian politik di Nusantara sebagai kaki-tangannya.

Tenaga mereka sangat diperlukan guna mensukseskan kampanye anti dominasi Belanda di Nusantara. Mereka diangkat sebagai Agent, untuk di Pulau Jawa disebut Wakil.

Tugas Agent ini sebagai penghubung Raffles dengan para penguasa di Nusantara, dia juga sebagai informan sekaligus sebagai juru kampanye untuk kemenangan Inggris.

Pangeran Syarif Muhamad menurut pengakuan Raffles, dalam laporan MacDonald( 1830): Dia adalah seorang yang cerdik dan pekerja aktif yang pernah saya temukan.

Dia adalah kerabat terdekat dengan Sultan Palembang. Dalam tugasnya “menggarap” Palembang, Syarif Muhamad dibantu Sayid Abubakar Rum.

Barangkali karena masih adanya ganjalan psikologis antara Sultan Palembang dengan Syarif Muhamad, maka tugasnya tidaklah selancar seperti apa yang diharapkan Raffles.

Apa yang telah dirintis Raffles dalam kampanyenya guna meyakinkan Sultan Palembang, yaitu bantuan Inggris guna mengusir Belanda-Perancis dari Palembang menjadi berantakan.

Dalam catatannya, Raffles mengatakan, selama bulan-bulan yang sibuk di Malaka pada tahun sebelumnya, Raffles mempekerjakan sepasang agen pribumi untuk membawa pesan hilir mudik melewati Sungai Musi.

Surat yang dibawa Raden Syarif Muhammad dan Sayyid Abubakar Rum pada 13 dan pada 10 Desember 1810, berisi korespondensi Raffles dengan usaha sengaja menakuti Sultan Badaruddin:

“Aku telah mendengar dengan sangat cemas tentang tibanya angkatan perang Belanda di muara Sungai Palembang, dan aku segera mengirimkan surat ini untuk melindungi Anda dari niat buruk Belanda, suatu bangsa yang berhasrat memperkaya diri dengan harta benda Yang Mulia, karena Belanda sudah melakukan hal tersebut dengan setiap Pangeran Timur yang memiliki hubungan dengannya”.

“Aku ingin menyarankan Yang Mulia untuk segera mengeluarkan mereka dari wilayah Anda, namun jika Yang Mulia memiliki alasan untuk tidak melakukannya dan berkeinginan bersahabat dan membantu Inggris aku menguasai banyak kapal perang, dan jika aku rasa perlu melakukannya, aku bisa menyingkirkan Belanda meski mereka berjumlah 10.000 “kata Raffles dalam suratnya.

Surat berikutnya yang dia kirim kepada Badaruddin menyatakan bahwa Belanda adalah “bangsa yang buruk”, dan bertanya-tanya mengapa Sultan masih memperkenankan mereka “menetap di Palembang”. Kemudian Raffels menyebut Belanda sebagai bangsa dengan “watak jahat, tidak setia, berjiwa tamak yang suka merampok”.

Balasan dari Sumatra Selatan tidak pernah seteratur atau seberlebihan surat-surat yang dikirim dari Malaka. Mula-mula, Sultan Badaruddin tampaknya sedikit curiga akan status utusan Raffles (dan benar, Raden Muhammad dan Sayyid kemudian dituduh sebagai petualang yang tidak bisa dipercaya).

Mereka jelas bukan wakil kerajaan yang resmi, dan meski Raffles membuat tentang kekuasaannya untuk mengenyahkan 10.000 orang, hanya ada sedikit bukti nyata kekuatan Inggris.

Sangat masuk akal bagi Palembang untuk membatasi pertaruhannya saat itu daripada mengambil risiko menghadapi kemurkaan Belanda seandainya janji Inggris terbukti tidak dipenuhi. ***

Sumber :

1. Dicari Walikota Yang Memenuhi Syarat, Djohan Hanafiah, KKP 2008
2. https://beritapagi.co.id/2018/02/01/tipu-muslihat-raffles-taklukkan-palembang
3. Tim Hannigan 2012” Raffles And
British Invasion Of Java”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here