Home Sejarah Walter Murray Gibson, Pulau Kumbaroo dan Palembang (Bagian Tiga)

Walter Murray Gibson, Pulau Kumbaroo dan Palembang (Bagian Tiga)

0
Sketsa perahu dan penumpangnya di Sungai Musi. (Sumber foto: The Prison of Weltevreden and a Glance at the East Indian Archipelago; 1855; Walter Murray Gibson)
Dudy Oskandar

Oleh Dudy Oskandar
(Jurnalis dan Peminat Sejarah Sumatera Selatan)

GIBSON sendiri tidak percaya kelakar Pood Djang karena ia yakin daging anjing maupun cincang anjing tidak termasuk hidangan orang Cina di kota ini.

Setelah itu ada hidangan tambahan istimewa berupa sup kental yang mengandung sel-sel mirip lilin buatan burung walet kecil. Hidangan yang tepatnya disebut sebagai Sup Sarang Walet ini diperoleh dari gua-gua dekat laut, utamanya Laut Jawa.

Sarang burung yang belum pernah dipakai mengerami telur amat mahal, bisa sampai satu setengah dolar per ons, namun yang sudah pernah dipakai hanya setengahnya saja. Belanda memperoleh untung dari perdagangan burung walet dan bagi warga Cina sendiri makanan ini memberi khasiat umur panjang serta menambah vitalitas.

Memang dalam catatan Sevenhoven puluhan tahun sebelumnya tidak ada komoditas daging anjing dalam perdagangan di Palembang.

Ternak non-halal bagi Muslim yang dijual hanya babi (antara 9-44 gulden) dan daging segarnya seharga 0.13 gulden/pon. Sevenhoven juga tidak memasukkan sarang burung walet sebagai barang dagangan di sektor unggas.

Teman duduk Gibson salah satunya bernama Tchoon Long yang sudah beberapa kali menemuinya untuk berbincang di atas geladak kapal bernama Flirt. Tchoon Long adalah laki-laki paruh baya bertubuh tegap, rambut tebalnya tidak dikepang panjang seperti gaya Manchu namun digelung tinggi ke belakang.

Tchoon Long terlihat murung, ia sebenarnya sangat ingin bicara pada Gibson namun terlalu banyak orang di sekitarnya. Long kemudian mendekati Gibson untuk berbicara mengenai orang hebat dari Palembang, Ferdano Mantri (Perdana Menteri) Krama Jaya, mantan wazir Sultan Badroodin (Mahmud Badruddin II) yang gagah berani melawan Belanda hingga tuannya tertangkap. Semasa pertempuran melawan Belanda tahun 1819, Pangeran Krama Jaya adalah salah satu nama terpenting di samping Pangeran Ratu, Pangeran Prabu dan Pangeran Kramadiraja.

Setelah Belanda mengalahkan kesultanan, Pangeran Krama Jaya diangkat selaku pelaksana tugas harian kesultanan dengan gelar Perdana Menteri, ia telah disumpah di hadapan Komisaris Sevenhoven tanggal 5 September 1823.

Pangeran Krama Jaya digambarkan sebagai sosok yang dicintai rakyat, khususnya masyarakat Palembang dan Passumah (Pasemah). Badannya tinggi dan kuat, wajahnya bersih (terbuka / ramah) dan hatinya ‘putih’ (jujur). Ia memberi makan 2000 orang (laki-laki, perempuan, maupun anak-anak) setiap harinya. Rakyat banyak memuji serta memujanya sebagai “orang yang terkenal di laut barat hingga timur dan rakyat pulau Sumatera memuji kehebatan serta kebaikan hati si Perdana Menteri.” ***

Sumber :

1. https://beritapagi.co.id/2018/07/03/pangeran-krama-jaya-dari-palembang-catatan-murray-gibson.html
2. https://fatrism.com/2020/09/16/indonesia-di-mata-penjelajah/
3. The Prison of Weltevreden and a Glance at the East Indian Archipelago; 1855; Walter Murray Gibson
4. https://sumselterkini.co.id/seni-dan-budaya/pesta-di-rumah-rakit-cina-catatan-pelarian-amerika
5. https://kajanglako.com/id-12261-post-walter-m-gibson.html

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here