Home Sejarah Catatan Groenhof di Palembang (Bagian Kesepuluh)

Catatan Groenhof di Palembang (Bagian Kesepuluh)

0
Kapal Penyebrangan di Sungai Musi yang diambil alih Belanda. (Sumber Foto: https://duizenddagenindie.wordpress.com)
Dudy Oskandar

Oleh Dudy Oskandar (Jurnalis dan Peminat Sejarah Sumatera Selatan)

SCHEEPSPRAET Scheepspraet adalah judul buku kecil yang diberikan kepada tentara yang melakukan perjalanan ke Hindia Belanda dari tahun 1947 dan seterusnya.

Misalnya, Dinas Informasi Angkatan Darat memberi tahu mereka tentang kehidupan di kapal dan masa tinggal yang akan datang di daerah tropis.

Kapal-kapal ini membawa mereka ke pertempuran di Indonesia: sejumlah besar tentara dan peralatan diangkut ribuan kilometer ke tujuan negara tropis.

Untuk memindahkan mereka dari satu lokasi ke lokasi lain, ada juga kapal-kapal yang bertugas mengambil kenang-kenangan dan surat untuk para tentara.

Mereka membawa pasukan baru untuk membantu para veteran, dan – mungkin yang paling penting – mereka membawa juga para prajurit itu kembali ke rumah seiring waktu.

Foto-foto berikut memberikan kesan tentang kapal yang memainkan peran besar atau kecil bagi Jan van Trigt dan kawan-kawan di 8 RS. Setiap kali ada kutipan pendeknya dari Thousand Days of India, dengan tanggal penulisannya.

Di atas geladak kapal ‘HMS Prince Charles’
. Setelah tiba di Dover dengan kereta api ke kamp di Aldershot, Ramillies Barracks (dari Ostend ke Dover, 29 November 1945).

(…) Kapal besar ‘Alcantara’ Belfast. Berangkat pukul 2.30 siang, Wilhelmus (Lagu kebangsaan Belanda) di nyayikan (dari Southampton ke Singapura, 31 Desember 1945).

Di malam hari kami tidur di pinggir jalan kota di depan Isle of Wight, menunggu kapal Nieuw Amsterdam dengan 3500 repatriat (di atas kapal De Alcantara, 31 Desember 1945).

Kami melewati kapal ‘De Volendam’ , senjata masih di atas kapal, kami masih berperang ( di atas kapal De Alcantara, 8 Januari 1946).

Pukul setengah tiga, pluit berbunyi (…). Di sana, 50 meter jauhnya, Kapal Oranjefontein lewat, dengan kargo dan pengungsi dari Jawa (di atas kapal Alcantara, 12 Januari 1946).

Kemarin pertemuan yang menyenangkan, bertemu dengan kapal De ‘Johan van Oldenbarneveld’ dengan 200 pengungsi di dalamnya (di atas kapal De Alcantara, 19 Januari 1946).

Kami melihat kapal Ms. Van Galen (…), dia memberi isyarat dengan lampu pesan lalu kami balas (di atas kapal De Alcantara, 22 Januari 1946).

Hari ini 600 orang pergi dengan kapal ‘De Thedens’ ke tujuan yang tidak diketahui. Untuk sorak-sorai kami yang tersesat (Singapura, 9 Maret 1946).

Di Sorong semuanya masih berjalan lancar, mereka sibuk menyaring orang Jepang yang akan dikembalikan dengan kapal Liberty (di Manado ( Celebes ), 28 Mei 1946).

Semuanya berjalan di atas kapal LCI [Landing Craft Infantry], kapal itu penuh sesak (di Benoa ( Bali ), 25 Oktober 1946).

Brigade menawarkan dua patung yang diukir dari batu diatas kapal De Boissevain, itu untuk layanan halus dan akomodatif. Itu adalah hal-hal yang menyenangkan (di atas kapal De Boissevain, 27 Oktober 1946).

Kapal Plancius datang bersama dan menabrak kapal kami karena badai, hampir menghancurkan (di atas kapal Boissevain, 28 Oktober 1946).

Kemudian di atas kapal LST [Kapal Pendaratan,] yang akan membawa kita ke Palembang (di atas kapal LST, 28 Oktober 1946).

Jam 11 malam. Kebakaran di Kapal Piet Hein (Palembang (Sumatera), 1 Januari 1947 ). Kembali dengan kapal Higgins dari Hoffies. Untung dengan kapal itu dia datang sendirian dari Batavia. Sebuah presentasi! Pladjoe (Sumatra), 12 Mei 1947).

Pagi ini kedatangan Kapal Kota Baroe dengan dua batalyon di dalamnya Batalyon 4-1 RI dan 4-4 RS, saya berangkat ke sana naik sepeda motor dari Teun, Pladjoe (Sumatra), 21 Juni 1947).

Kapal penyebrangan yang melintasi Moesi telah diambil alih oleh militer Belanda dan tidak ada yang keberatan. Kalau tidak, mereka bisa menenggelamkan benda itu saat kita sangat membutuhkannya, Pladjoe (Sumatra), 29 Juni 1947).

Komisi di kapal Renville membuahkan hasil. Gencatan senjata lain telah diumumkan (Lahat (Sumatra), 17 Januari 1948). Renville (USS Renville (APA-227) menjadi kapal markas Komisi Gencatan Senjata PBB yang menegosiasikan persyaratan penyelesaian damai antara pasukan militer Belanda dan Indonesia. Hal ini menghasilkann apa yang disebut Perjanjian Renville. Setelah beroperasi di Pantai Barat dari Mei 1948 sampai Januari 1949, ia kemudian bertualang ke Cina pada bulan Januari, dan kembali 8 Februari.

Kapal Van Outhoorn’ diisi dengan barang-barang kami dan tiba di Kertapati (…) kami juga pergi ke sana (Kertapati (Sumatera), 9 Juni 1948).

Kami lari ke pelabuhan karena ada sesuatu untuk dilihat. Orang-orang berdiri di dermaga pagi-pagi sekali untuk melihat Kapal Indrapoera ‘ Kota Vlaardingen (Belanda Selatan) sudah terlihat (dari Tandjong Priok ke Rotterdam, 27 Juli 1948). ***

Sumber:

1. duizenddagenindie.wordpress.com
2. Tirto.Id, “Merayakan” Tahun Baru dengan Bertempur di Palembang, 1 Januari 2018
3. https://beritapagi.co.id/2019/07/26/kisah-groenhof-di-palembang.
4. Historia.id/politik/articles/derita-serdadu-belanda-di-indonesia
5. https://kompaspedia.kompas.id/baca/paparan-topik/pasukan-inggris-di-indonesia-1945-1946
6. https://palpres.com/2020/07/revolusi-palembang-melawan-inggris-dan-nica-tahun-1946
7.Wikipedia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here