Home Sejarah Catatan Groenhof di Palembang (Bagian Pertama)

Catatan Groenhof di Palembang (Bagian Pertama)

0
Eddy Groenhof saat duduk di atas meriam dalam Benteng Palembang, November 1946. Sumber Poto: https://duizenddagenindie.wordpress.com/
Dudy Oskandar.

Oleh Dudy Oskandar
(Jurnalis dan Peminat Sejarah Sumatera Selatan)

PEMERINTAH Belanda mengerahkan 220.000 serdadu ke bekas jajahannya yang telah merdeka pada 17 Agustus 1945: Indonesia.

Lebih dari setengahnya pemuda berusia tak lebih dari 20 tahun. Mereka mengikuti wajib militer ke Indonesia membawa misi pemerintah Belanda: menyelamatkan negeri koloni dari tangan fasis Jepang dan kolaboratornya.

“Politik saat itu mengatakan harus perang. Namun hari ini, publik Belanda menyadari bahwa itu adalah keputusan yang salah,” ujar Gert Oostindie, sejarawan Universitas Leiden, Belanda, dalam diskusi bukunya, Serdadu Belanda di Indonesia 1945-1950, di Erasmus Huis, Jakarta Selatan (13/9).

Gert Oostindie meneliti ribuan lembar dokumen subyektif yang ditulis langsung veteran perang Belanda saat bertugas di Indonesia. “Dokumen-dokumen ego” itu berupa buku harian, surat, kesaksian, dan memoir. Dari sumber sezaman tersebut terkuak dua hal yang kontradiktif: sejumlah kejahatan perang (war crime) yang dilakukan serdadu Belanda sekaligus beragam pahit getir yang dialami mereka.

Menurut Gert, kebanyakan dari tentara itu sama sekali tak mempunyai pengetahuan dan pengalaman tentang Indonesia. Mereka cuma mengira-mengira saja, barangkali apa yang mereka lakukan dapat membantu kehidupan di sana (Indonesia). Setibanya di Indonesia, realitas berbicara lain. Rasa frustrasi melanda serdadu Belanda setibanya di Indonesia maupun sesudahnya.

“Pertama-tama, mereka (serdadu Belanda) diperintahkan pergi perang yang sebenarnya tak mereka inginkan. Kedua, setelah pulang, tak ada orang yang mau mendengar kisah mereka. Ketiga, sebagian kalangan menganggap mereka sebagai bajingan, pelaku kejahatan perang. Jarang dari mereka yang mengaku diri sebagai pahlawan,” ujar Gert.

“Mereka yang tadinya tak pernah melakukan kekerasan, tetapi begitu melihat rekannya diserang, akhirnya timbul rasa dendam yang berujung menjadi kejahatan perang. Perang selalu bisa mengubah seseorang,” katanya.

Gert juga mengungkapkan, keputusan berisiko mengirimkan serdadu Belanda ke Indonesia sudah dikritisi oleh pers sosialis dan komunis di negeri Belanda. Namun euforia sebagai pemenang Perang Dunia kedua tak dapat membendung hasrat untuk menguasai kembali negeri jajahan.

Adalah Eddy Groenhof dan Jan van Trigt keduanya penulis untuk Batalyon 8 Resimen Stoottroepen (8 RS) Pengalaman selama berada di hindia Belanda yaitu Palembang mereka tulis.

Mereka berdua meninggalkan Weert pada 29 November 1945 dan keduanya kembali ke Rotterdam pada 27 Juli 1948. Eddy Groenhof memiliki album foto yang akurat yang menggambarkan tanggal, tempat, dan orang-orang di foto.

Tanggal 1 hingga 5 Januari 1947 telah terjadi Perang 5 hari 5 Malam (PLHLM) di Palembang. Peristiwa ini sangat penting dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. ***

Sumber:

1. duizenddagenindie.wordpress.com
2. Tirto.Id, “Merayakan” Tahun Baru dengan Bertempur di Palembang, 1 Januari 2018
3. https://beritapagi.co.id/2019/07/26/kisah-groenhof-di-palembang.
4. Historia.id/politik/articles/derita-serdadu-belanda-di-indonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here