Home Headline News Dinilai Lalai Terapkan PPKM Mikro, Mendagri Tegur Keras Sumsel

Dinilai Lalai Terapkan PPKM Mikro, Mendagri Tegur Keras Sumsel

0
Mendagri Tito Karnavian saat memberi keterangan para pers, Senin (3/5).

PALEMBANG, PE – Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian menilai Sumatera Selatan (Sumsel) tidak memberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat berbasis mikro secara optimal.

Akibatnya, angka penularan dan angka kematian di Sumsel meningkat pesat, bahkan melampaui persentase nasional. Pemerintah daerah diminta untuk serius menerapkan PPKM berbasis mikro, terutama mendekati Idul Fitri.

”Saya menilai belum ada PPKM (pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat) di Sumsel,” ucapnya, Senin (3/5). Hal ini terlihat dari aktivitas masyarakat di Kota Palembang yang tidak menerapkan protokol kesehatan dengan benar.

Di Palembang, kafe dan restoran masih tetap buka hingga lebih dari pukul 22.00 WIB, pasar masih ramai dan warga berkerumun di situ. Bahkan, masih banyak acara pernikahan yang tamunya tidak memakai masker.

”Padahal, di kota-kota lain, seperti Jakarta atau Bandung, tidak ada lagi restoran yang buka di atas pukul 22.00,” ucapnya. Situasi ini terjadi karena tidak adanya koordinasi antar-instansi terkait, sehingga tidak tercipta konsep penanganan pandemi yang tegas.

”Tidak ada skenario siapa berbuat apa sehingga semua kegiatan berjalan secara autopilot,” ucap Tito. Padahal, koordinasi antar-instansi, seperti pemda, TNI/Polri, serta organisasi dan tokoh masyarakat, sangat diperlukan agar pelaksanaan PPKM bisa optimal mulai dari tingkat provinsi hingga ke tingkat rukun tetangga.

Ia menyampaikan, bahwa Sumsel belum optimal dalam menerapkan PPKM berbasis mikro. Tidak optimalnya PPKM berbasis mikro di Sumsel itu, berdampak pada buruknya performa Sumsel dalam penanganan pandemi.

Ini terlihat dari empat indikator pandemi di Sumsel, yang sebagian besar menunjukkan tren negatif. Untuk tingkat kesembuhan, misalnya, Sumsel hanya mencatatkan tingkat kesembuhan 87,7 persen, lebih rendah dibandingkan angka nasional sebesar 91,3 persen. Sementara angka kematian 4,7 persen, atau lebih tinggi dibandingkan angka nasional sebesar 2,7 persen.

Adapun dari 1.600 tempat tidur yang tersedia di Sumsel, 59 persen sudah terisi pasien Covid-19. Angka ini jauh lebih tinggi dari sebagian besar wilayah di Indonesia, yakni di bawah 30 persen. ”Ini menandakan kurangnya pencegahan sehingga banyak yang tertular,” tambahnya.

Bahkan, untuk di Palembang, tingkat keterisian tempat tidur mencapai 65 persen atau mendekati standar maksimal 70 persen. ”Sumsel sudah lampu kuning dan ini perlu menjadi perhatian.” katanya.

Masalah ini juga sempat diutarakan Presiden Joko Widodo ketika menggelar rapat penanganan Covid-19 bersama semua kepala daerah di Indonesia, Rabu (28/4/2021). ”Saya kaget ketika Sumsel menjadi ranking satu untuk tingkat penularan tertinggi dan keterisian tempat tidur. Sebagai putra daerah, adalah kewajiban saya untuk menyampaikan hal ini,” jelasnya

Langkah antisipasi kondisi ini harus segera diantisipasi dengan langkah pendisiplinan yang ketat, dalam melaksanakan PPKM berbasis mikro secara lebih optimal. KUR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here