Home Sejarah Walter Murray Gibson, Pulau Kumbaroo dan Palembang (Bagian Terakhir)

Walter Murray Gibson, Pulau Kumbaroo dan Palembang (Bagian Terakhir)

0
Sketsa masyarakat Palembang. (Sumber foto: The Prison of Weltevreden and a Glance at the East Indian Archipelago; 1855; Walter Murray Gibson)
Dudy Oskandar

Oleh Dudy Oskandar
(Jurnalis dan Peminat Sejarah Sumatera Selatan)

“FIGUR baik hati yang dicintai rakyat Palembang itu ditawan Belanda karena si penjajah tak senang dengan orang hebat ; kecuali “orang hebat” buatan Belanda sendiri. Putra-putri, sanak saudara maupun ratusan ribu rakyat mendoakan agar Krama Jaya kembali dari tahanan di Karawang (Jawa),” tulis Walter Murray Gibson.

Doa saja tak cukup, kata, Gibson, maka ada sekitar ratusan ribu rupe disimpan di “tangan yang aman” di Singapura. Uang itu akan dibayarkan kepada Tchoon Long yang akan berlayar dengan kapal bersama sejumlah lelaki pemberani guna membawa sang Ferdano Mantri kembali ke Palembang.

Sebuah kisah yang mengharukan, seorang hebat yang dicintai ratusan ribu orang, Melayu, Arab, dan Cina, bahu membahu mereka hendak membebaskan orang baik ini, bernama Pangeran Krama Jaya.

Hal lain yang menarik adalah, adanya seorang saudagar Cina yang bertekad menemui Belanda untuk membawa pulang Pangeran Krama Jaya, bukan hanya ini meneguhkan kepopuleran Pangeran Krama Jaya di berbagai kalangan, tapi juga membuktikan kerukunan kehidupan berbagai etnik di Palembang, bahu membahu mereka membangun Palembang, bahu membahu pula mereka hendak mengembalikan tokoh yang mereka sayangi ke Palembang.

Seminggu kemudian, setelah mendengar berbagai cerita menarik mengenai pedalaman Sumatra, Gibson berniat hendak bertualang ke sana. Jambi juga menjadi salah satu tujuannya. Dimana Jambi saat itu memiliki komoditas karet yang sedang jaya, kendati 75 tahun kemudian bisnis karet runtuh akibat krisis dunia, hingga kesultanan makmur yang dulu memukau Gibson berubah melarat.

Untuk itu, ia memerlukan paspor untuk menjelaskan identitasnya dan surat yang untuk raja-raja dan sultan-sultan di Sumatra. Juga untuk Sultan Jambi. Gibson mendikte isi surat itu. Seorang laki-laki Melayu, Kiagus Lanang membantunya menuliskan surat itu dalam bahasa Melayu formal dan santun.

“Saya, …, yang tinggal di negeri luas bernama Amerika menyampaikan salam hormat untuk Yang Mulia Sultan, yang berkuasa di Kesultanan Jambi. Surat ini diantarkan ke hadapan Yang Mulia oleh kapten kapal saya. Ia adalah seorang laki-laki yang jujur, trampil. Saya sangat percaya dan yakin pada kata-katannya. Ia akan menjelaskan tentang negeri asal saya, tentang kekayaan dan kekuasaan Amerika serta keramahan orang Amerika untuk Yang Mulia Sultan Jambi.

Ia akan menyampaikan bahwa saya ingin mengunjungi Kraton Jambi untuk menyampaikan hadiah-hadiah dan tanda persahabatan untuk Sultan Jambi. Dengan demikian, kiranya Yang Mulia Sultan dapat memerintahkan agar pembawa surat ini diizinkan tinggal dengan aman beberapa waktu lamanya di wilayah Jambi. Setelah ia menunaikan tugasnya, kiranya Sultan dapat mengizinkannya meninggalkan Jambi dengan aman dan tanpa gangguan.”

Setelah surat itu selesai, Kiagus Lanang membacakannya untuk Gibson. Sia-sia saja sebetulnya karena laki-laki Amerika itu sama sekali tidak memahami bahasa Melayu dan tidak dapat membaca aksara Arab-Melayu yang digunakan untuk menuliskan surat itu. Nah, surat inilah yang rupanya membawa malapetaka bagi Gibson.

Rencananya untuk berangkat ke Jambi pada hari ke-25 terpaksa batal. Ia malahan ditangkap oleh Belanda! Asisten-Residen Palembang memerintahkannya turun dari kapal dan ikut bersamanya sebagai tawanan Belanda.

Gibson terbukti menulis surat kepada Sultan Jambi dan mengajaknya bersekongkol untuk memberontak melawan Belanda. Gibson mengakui memang menulis surat untuk Sang Sultan. Ia memperkenalkan diri. Bukan mengajak Sultan memberontak. Namun, protesnya tak didengar. Gibson ditangkap Belanda di Palembang ketika mencoba berkomunikasi dengan Pemerintah Jambi yang dicap pemberontak oleh pemerintah kolonial. Dia dipenjarakan di Weltevreden, tapi berhasil kabur. ***

Sumber :

1. https://beritapagi.co.id/2018/07/03/pangeran-krama-jaya-dari-palembang-catatan-murray-gibson.html
2. https://fatrism.com/2020/09/16/indonesia-di-mata-penjelajah/
3. The Prison of Weltevreden and a Glance at the East Indian Archipelago; 1855; Walter Murray Gibson
4. https://sumselterkini.co.id/seni-dan-budaya/pesta-di-rumah-rakit-cina-catatan-pelarian-amerika
5. https://kajanglako.com/id-12261-post-walter-m-gibson.html

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here