Home Sejarah Organisasi Pemuda di Palembang (Bagian Pertama)

Organisasi Pemuda di Palembang (Bagian Pertama)

0
Dalam sebuah hanggar di bandara di Lahat, diadakan pertemuan antara delegasi Militer Republik Indonesia dan Belanda mengenai implementasi gencatan senjata Perang Lima Hari Lima Malam antara perwakilan Belanda dipimpin Kolonel Mollinger dan TNI di Pimpin Kolonel Maludin Simbolon yang masih muda. (Sumber foto: nationaal-archief)
Dudy Oskandar

Oleh Dudy Oskandar (Jurnalis dan Peminat Sejarah Sumatera Selatan)

PRESIDEN Sukarno pernah berkata bahwa bersama 1000 orang tua, ia bisa mencabut Semeru, tapi hanya dengan 10 pemuda, ia bisa mengguncang dunia. Kutipannya lalu menjadi salah satu yang paling terkenal dan diulang-ulang setiap tahun pada peringatan hari-hari bersejarah. Sukarno memandang peranan pemuda-pemudi penting bagi keberlangsungan hidup suatu bangsa. Dan barangkali kalimat itu hendak ia maksudkan menjadi cambuk untuk generasi penerus.

Para pemuda kerap memegang peran penting dalam sejarah Indonesia, sebut saja peristiwa Rengasdengklok di mana para pemuda ‘menculik’ Soekarno dan Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan, hingga gerakan Reformasi yang dimotori kelompok mahasiswa dan berhasil mengakhiri kekuasaan Orde Baru.

Sebagaimana keadaan dipulau Jawa, maka didaerah Sumatera Selatan terutama di Kota Palembang pada waktu zaman penjajahan telah tumbuh organisasi pemuda dan kepanduan yang berpusat di Jawa.

Organisasi Pemuda :

1. Indonesia Muda.
2. Surya Wirawan.
3. Barisan Pelopor Gerindo.
4. Pemuda Muslimin Indonesia.
5. Ansor.
6. Pemuda Muhamadyah.

Organisasi dari kepanduan tersebut diantaranya ialah :

1. Natipy (National Islamitische Padvindery).
2. S.I.A.P.
3. Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI)
4. Hizbul Wathon
5. Nederlands Indise Padvinder Vereniging (NIPV)

Perjuangan organisasi pemuda ini, sesuai dengan keadaan diwaktu itu, dimana paham keorganisasian masih sangat tipis sekali, terutama pengertian akan kemerdekaan masih atau hanya dalam lingkungan terbatas sekali, maka kemajuan dalam kalangan politik dan ketatanegaraan dapat dikatakan hampir tidak ada.

Dapat dikatakan bahwa pada sebagian besar pemuda adanya organisasi itu tidak dirasakan. Apalagi tekanan yang diberikan oleh Pemerintah Hindia Belanda sangat terasa sekali.

Bagi pemuda yang bergabung dalam organisasi yang sedikit banyaknya memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, yang bekerja pada Jawatan dan Maskapai partikelir diberikan tekanan dengan perantaraan instansi dimana ia bekerja, sehingga bagi pemuda yang bekerja dan menjadi anggota organisasi tersebut mudah sekali untuk dikeluarkan dari pekerjaannya.

Karena organisasi kepanduan yang bercorak nasional sangat pesat sekali, maka lapangan ini dijadikan tempat melatih untuk menyadari perjuanganā€¯ kemerdekaan. Umumnya pemuda yang sadar akan keadaan pada waktu itu, yang bercita untuk ikut memperjuangkan kemerdekaan terpaksa dengan jalan memasuki kepanduan dapat melaksanakan tujuannya.

Disamping itu terdapat pula kedudukan sebagai NIPV yang mendapat subsidi dari Pemerintah Belanda, sebagai badan untuk menyaingi kepanduan yang bersifat Nasional.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan, umumnya pemuda bekas anggota organisasi pemuda yang bersifat nasional inilah (Indonesia Muda, Pemuda Muslimin, dll.) yang memimpin perjuangan pemuda dalam mempertahankan kemerdekaan. ***

Sumber :

1. https://historia.id/politik/articles/sukarno-di-mata-pemuda-pemudi
2. Nasional.kompas.com/read/2020/10/28/12433001/sumpah-pemuda-sejarah-panjang-pergerakan-pemuda
3. Republik Indonesia, Propinsi Sumatera Selatan, Kementrian Penerangan, Siliwangi-Jakarta, Agustus 1954

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here