Home Sejarah AK Gani dan Sikap Tegasnya Terhadap Pemberontakan PRRI di Sumatera

AK Gani dan Sikap Tegasnya Terhadap Pemberontakan PRRI di Sumatera

0
Dr AK Gani saat mendampingi Wapres Muhammad Hatta dalam suatu kunjungan di Palembang.
AK Gani dan Sikap Tegasnya Terhadap Pemberontakan PRRI di Sumatera 1
Dudy Oskandar

Oleh Dudy Oskandar
(Jurnalis dan Peminat Sejarah Sumsel)

“SIMBOLON itu orang yang tak baik, bukan teman tapi dia sahabat”

Penggalan kata-kata Menteri Kemakmuran pada Kabinet Sjahrir III, dr Ak Gani kepada sahabatnya yang menjadi petinggi Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) Kolonel Maludin Simbolon.

Sejak 2 Oktober 1946 hingga 27 Juni 1947, dr Ak Gani resmi menjabat sebagai Menteri Kemakmuran pada Kabinet Sjahrir III, otomatis perhatian Ak Gani lebih seluruh Indonesia, namun dia selalu memantau perkembangan Sumatera Selatan (Sumsel).

Salah satu yang dipantaunya adalah Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) yang sudah masuk ke Sumsel, dan yang mengkhawatirkan adalah ulah Kolonel Maludin Simbolon yang ingin menjadikan Sumsel bagian PRRI. Namun hal tersebut ditentang Kolonel Bambang Utoyo, yang kala itu menjabat sebagai Panglima Tentara dan Teritorium II di Palembang.

Dalam catatan sejarah Kolonel Maludin Simbolon, adalah mantan Komandan Divisi Palembang Ulu ini, awal karier militernya banyak di Sumatera Selatan (Sumsel), terutama Palembang.

Selain itu dalam reorganisasi antar TKR se-Sumatera, Maludin sempat menjadi Komandan Divisi I/Lahat (1945-46), yang membawahi 4 resimen dan 15 batalyon di Sumatera Selatan.

Saat TKR dikembangkan menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI), Maludin menjadi Komandan Divisi VIII Garuda di Sumatera Selatan, yang membawahi Lampung, Bengkulu, Palembang, dan Jambi.

Saat terjadi Agresi Militer Belanda II, di Sumatera dibentuk Pemerintahan Darurat Republik Indonesia, yang mana AK Gani menjadi Gubernur Militer dan Maludin Simbolon menjadi wakilnya dan setelah itu dia lebih banyak berkarier di Sumatera Utara.

Apa sikap Menteri Kemakmuran pada Kabinet Sjahrir III, dr Ak Gani terkait pemberontakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), dimana Palembang juga terbentuk Dewan Garuda dipimpin Letkol Barlian dan ada satu tokoh Sumsel yang akhirnya bergabung ke PRRI bernama Mayor Nawawi Manap.

Sejarawan Sumsel dari Universitas Sriwijaya (Unsri), Syafruddin Yusuf mengaku tidak ingat secara pasti. Walaupun dikenal dengan pemerintah pusat, namun suara AK Gani tetap diperhitungkan oleh tokoh-tokoh di Sumsel termasuk pusat.

“Ada kemungkinan peran dia (AK Gani) tapi tidak tampil secara langsung mungkin di balik layar, “ katanya.

Namun bagi Sekretaris Museum Pahlawan Nasional, dr AK Gani, Husin mengakui awalnya pendirian dr AK Gani tidak bersikap terkait pembentukan Dewan Garuda di Sumsel.

“Oke maksudnya sesuai aturan menurut beliau, artinya sikap beliau setuju tidak, mendukung tidak, idem saja, maksudnya idem saja, akhirnya Dewan Garuda itu ujungnya bergabung dengan PRRI itu yang membuat pak Ak Gani marah , “ kata putra AK Gani.

Namun atas pemberontakan PRRI tersebut, Presiden Soekarno akhirnya memerintahkan dr AK Gani untuk menyelesaikannya.

“Kapau kau khan urusan Sumatera kau selesaikan, itu kata Presiden Sukarno kepada Pak Gani lalu pak AK Gani bertemu Simbolon di Sungai Dareh dan soal pengiriman pasukan pimpinan Pak Ibnu Sutowo ke Sumsel untuk memberantas pemberontakan PRRI itu perintah Pak Gani,“ katanya.

Menurut Husin, alasan pemberontakan PRRI itu harus dipadamkam oleh AK Gani karena PRRI ingin mendirikan negara Republik Sumatera dengan otonomi khusus.

“Pak Gani tidak setuju dengan pemberontakan PRRI karena menyalahi aturan dan tidak sesuai kesepakatan, dan diperintahkan Pak Sukarno untuk menyelesaikan pemberontakan PRRI,” katanya.

Karena itulah menurut Husin, Simbolon tidak menjadi pahlawan nasional karena dianggap pengkhianat.

“Tapi waktu itu Pak Gani ngomong dengan Simbolon, kamu tidak dipecat dari tentara, silahkan nak masuk tentara jadi dan nama baik kamu tetap di jaga, tapi Pak Simbolon memilih mengundurkan diri dari TNI,” katanya.

Soal pimpinan Dewan Garuda, Letkol Barlian sendiri yang juga menjabat sebagai Panglima T&T II / Sriwijaya kala itu akhirnya dinonaktifkan dari militer atas usulan Bambang Utoyo.

Pertentangan Bambang Utoyo dan Simbolon

Melihat akibat pertentangan yang bertolak belakang antara Simbolon dan Bambang Utoyo membuat dr AK Gani terpaksa turun dan menemui Simbolon di daerah Sungai Dareh. (Kini Sungai Dareh masuk wilayah Kecamatan Pulau Punjung di Kabupaten Dharmasraya Provinsi Sumatera Barat).

Nagari Sungai Dareh terkenal dan tercatat dalam sejarah karena dipinggiran sungai inilah ada sebuah pesanggerahan. Pada akhir tahun 1957 pernah diadakan pertemuan dua hari oleh beberapa tokoh nasional untuk mematangkan rencana pemberontakan yang kita kenal dengan PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia).

“Konsep pembangunan Simbolon itu maunya Sumatera harus makmur dulu setelah itu sumber daya Sumatera boleh di ambil Jawa, apalagi saat itu negara baru merdeka dan pusat belum maksimal memberikan perhatian kepada daerah diluar Jawa. Sehingga Simbolon menuntut pembangunan harus difokuskan ke Sumatera dulu baru ke Jawa , namun pemikiran Simbolon bertolak belakang dengan Bambang Utoyo yang ingin adanya pemerataan pembangunan dalam lingkup negara NKRI. Akibatnya pasukan PRRI sempat mengejar Bambang Uyoto hingga ke Sekayu, nah saat itulah Pak AK Gani turun dan menemui Simbolon di Sungai Dareh,” kata Husin.

Saat bertemu dengan Simbolon, menurut Husin, dr AK Gani langsung memarahi Simbolon.

“AK Gani bilang dengan Simbolon, Hey, Simbolon, kau jangan macam-macam, Negara Kesatuan Republik Indonesia ini sama baik Sumatera dan Jawa. Jangan coba-coba kau, kau masih anak kecil, marah AK Gani,” kata Husin,

Sayang, amarah AK Gani tidak membuat Simbolon insyaf, malah tetap melakukan perlawanan melalui PRRI.

Sebelumnya menurut Husin, AK Gani sudah berkali-kali mendamaikan Simbolon agar tidak memberontak dan berselisih dengan Bambang Utoyo, namun Simbolon tetap dengan PRRI nya dan tetap memberontak.

Akhirnya, dr AK Gani menilai kalau Simbolon adalah orang yang tak baik, bukan teman tapi dia sahabat.

Menurut Husin, konsep pembangunan bagi AK Gani adalah siapapun datang ke Sumatera jika untuk membangun silahkan, dan pembangunan harus merata di seluruh Indonesia dan jangan ada perbedaan.

Namun Simbolon memiliki pemikiran sendiri, agar Jawa harus membangun Pulau Sumatera dulu melalui hasil bumi Sumatera setelah selesai dan merata di Sumatera, baru sumber daya dan hasil Bumi Sumatera di bawa ke Jawa.

Konsep pembangunan PRRI ini ternyata tidak berkembang di Sumsel, malah ditolak di Sumsel karena tidak di dukung masyarakat Sumsel .

Bagi Husin, konsep pembangunan yang di pegang Simbolon, dinilainya sebagai bentuk kecerdasan Simbolan yang jauh kedepan. Dia sudah bisa memperkirakan kalau Jawa akan mengusai sumber daya alam Sumatera sehingga pembangunan akan lebih banyak ke Jawa daripada Sumatera. Maunya Simbolon, harusnya Sumatera dulu dibangun dengan sumber daya alam yang dimiliki setelah, Sumatera merata pembangunannya baru sumber daya alam Sumatera di bawa ke Jawa.

Pemberontakan PRRI di Sumatera lebih karena merasa tidak puas terhadap berbagai kebijakan pemerintah pusat akhir tahun 1950-an.
Antara lain tuntutan perubahan yang diinginkan ialah dalam hal peningkatan kesejahteraan prajurit, otonomi daerah yang lebih besar, serta penggantian para pejabat sipil dan militer pusat di Jakarta.

Simbolon kemudian bergabung dalam Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), dan mengumumkan pemutusan hubungan wilayah militer Sumatera Utara dengan pemerintah pusat tanggal 22 Desember 1956 di Medan dan membentuk Dewan Gajah, walaupun tetap menyatakan setia pada Dwitunggal Soekarno-Hatta. Simbolon sempat kehilangan posisinya sebagai Panglima TT 1 Bukit Barisan (BB) dan melarikan diri ke Sumatera Barat.

A.H. Nasution, saat itu orang kuat di TNI yang mengepalai staf Angkatan Darat, merespons para kolonel pembangkang dengan langkah pemecatan.

Jakarta pun bertindak dengan mengirim pasukan. Di antara perwira yang memimpin operasi ini terdapat Letnan Kolonel Ahmad Yani, yang belum lama pulang dari sekolah staf komando di Amerika Serikat.

“Kekuatan fisik PRRI di Sumatera dengan gampang ditumpas oleh TNI hanya dalam waktu relatif singkat oleh operasi militer yang hampir tanpa mendapat perlawanan,” tulis Phill Manuel Sulu pengarang buku Permesta dalam Romantika, Kemelut dan Misteri (2011).

Amerika Serikat sendiri belakangan malah mendekatkan diri kepada Nasution. Sementara para kolonel pembangkang itu dibiarkan kalah dan jadi tawanan Jakarta. Kelak sebagian dari mereka dibebaskan dan melanjutkan karier militernya semasa pemerintahan Soeharto, usai pembantaian masal kaum kiri 1960-an. ***

Sumber:
1. Wikipedia
2. Beritapagi.co.id, Kala Ak Gani Marah Dengan Pemberontakan Kolonel Simbolon

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here